BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 112. Quitter 2


Makan malam berlangsung kaku. Antara Susan yang tak suka dan setengah menyindir Andrew, Noah yang ikut dengan Susan, Javier yang setengah salah tingkah, aku yang tak tahu apa yang harus kukatakan.


Akhirnya aku pergi duluan bersama Javier setelah makan malam secepatnya itu.


"Aku dan Javier pergi dulu."


"Pasangan baru masih hot nampaknya." Susan menyiram bensin. Aku hanya tersenyum. Tanpa menunggu persetujuan siapapun aku menarik Javier pergi.


"Kau akan membuatku terbunuh." Javier meringis kaku, dia tahu dia bisa berakhir dengan infected jika Andrew memerintahkannya diculik oleh pasukan khusus dan membuangnya ke zona hitam.


"Salah sendiri kau berani memanggilku sayang."


"Dia ingin mendekatimu lagi nampaknya."


"Iya mungkin."


"Kau tak mau?"


"Dia quitter, dia meninggalkanku untuk Bella dan hanya bertahan tiga bukan dengan Bellanya itu. Kurasa dia tak secinta itu padaku. Dia tak sebaik itu untuk mendapatkan kesempatan kedua. Aku telah banyak berpikir sebelum ini. Menurutmu aku benar?" Aku meminta pendapatnya.


"Aku tak tahu aku tak pernah bicara dengannya empat mata. Aku tak mengenalnya untuk mengatakannya quitter. Yang jelas kau harus bertanggung jawab jika aku diculik pasukan khusus." Dia malah mengkhawatirkan dirinya sendiri. "Lebih jelas lagi lebih baik kau pacaran dengan James saja. Dia jauh lebih baik dalam hal membelamu."


"Aku akan menaruh bunga di makammu agar kau tak jadi arwah penasaran. Dan James kau sudah dengar sendiri dia menganggapku sebagai adiknya." Aku menertawainya sekarang. Dia menggelengkan kepalanya.


"Sudah kubilang, aku tak percaya adik kakakmu itu. Dia hanya belum menyadarinya."


"Terserah padamu jika tak percaya, pokoknya kau jadi pacarku sementara ini."


"Jennifer Gothard, kau memang wanita kejam. Aku menyesal menjadikanmu pacar. Kita putus saja sekarang. Aku masih sayang nyawaku. Putus,putus! Aku mau cari gadis baru sekarang!" Aku semangkin tertawa. Dia tak serius dengan itu, aku tahu dia akan berani tetap di sampingku hanya mulutnya saja yang senang berkicau.


"Tidak secepat itu Don Juan. Kau dan aku masih jadi kekasih."


Aku tetap mengandeng Javier saat kami makan beberapa hari kemudian, untuk menunjukkan bahwa aku tak ingin Andrew mendekatiku lagi.


Walaupun aku tahu suatu saat dia akan mencari kesempatan bicara empat mata denganku.


Aku berhenti dan berbalik menghadap ke arahnya sekarang. Aku merasa siap menghadapinya.


"Itu urusanku, yang jelas kita sudah selesai, kau sendiri yang memutuskan memilih Bella, kau harusnya bersungguh-sungguh dengan cinta pertamamu itu. Dengan siapa aku berjalan setelahnya bukan urusanmu lagi." Aku berhasil mengatakannya dengan tegas.


"Aku dan Bella tak bisa berjalan dengan baik, aku sadar aku salah menentukan pilihan. Aku ingin kau kembali denganku. Aku salah aku minta maaf, apapun yang terjadi mari kita lupakan dan memulai lagi. Kali ini aku berjanji kita tak akan terpisah lagi."


"Aku sudah lelah menangis untuk melupakanmu Andrew. Aku tak suka jadi pilihan kedua, kau tahu rasanya di sisihkan lalu diambil lagi. Aku tak akan pernah percaya lagi padamu."


Dia maju ke depanku. Aku mundur...


"Kau tahu kau belum bisa melupakanku. Aku melakukan kesalahan besar, tapi aku ingin kau kembali, jangan berbohong, kau masih mencintaiku, kenapa kau tak percaya pada hatimu sendiri, semua orang boleh mengatakan kau tak boleh kembali padaku. Tapi kau tahu kau masih mengingatku sama seperti dulu."


Kata-kata itu, ... seakan dia tahu semuanya.


"Kau terlalu memandang tinggi dirimu."


"Kau bahagia saat bersamaku Jen. Kita bahagia."


"Lalu kau yang membuangnya!"


"Aku salah, sudah aku akui aku salah... Kau boleh memukulku, mencercaku, menghindariku, mendorongku pergi. Tapi aku tetap di sini memintamu kembali."


Kami berpandangan lama.


"Tidak! Kau tak sebaik itu! Pergi dari depanku!"


Aku berlari pergi setelah berteriak padanya. Kubanting pintuku dan kuhempaskan diriku ke bedku, mulai menangis seperti orang bodoh.


Setengah hatiku ingin mengatakan kata-katanya benar. Aku ingin masa-masa bahagia itu kembali. Tapi setengahnya lagi tak bisa menerima perlakuannya.


Aku benci harus merasa begini lagi. Benci bagaimana aku bisa terpengaruh kata-katanya dengan mudah.