BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 37. Friend


"Iya sedikit banyak itu benar. Keluargaku keluarga yang supportive dan stabil. Lagipula aku tak punya Ibu tiri jahat sepertimu. Wanita seperti itu mengerikan."


"Hmm... Iya dia ular betina. Tapi satu saat aku berjanji dia akan membayar apa yang dia lakukan padaku. Tapi mungkin aku harus berterima kasih juga padanya, berkat dia aku punya kemampuan bertahan dan berbisnis dari muda. Bukan hal yang buruk untuk terjebak di sini. Aku mandiri, tanpa bantuan siapapun di sampingku."


"Jadi kau tak pernah kembali ke Moskow." Kasihan sekali jika dia benar-benar tak bisa kembali selama 20 tahun ini.


"Tentu saja aku masih kembali setahun sekali? bagaimanapun aku masih punya Ayah , Bibi dan Paman di Moskow. Yang menjadi pengganti Ibuku adalah Bibi Irina. Dia yang selalu menyemangatiku di sini, kadang jika dia bisa dia menyempatkan mengunjungiku. Tapi tahun-tahun pertama tetap terasa berat. Saat itu pikiramku masih labil."


Tentu saja itu berat. Dia bisa berhasil seperti ini dia sudah membayar harga untuk berani hidup mengusahakan yang terbaik.


"Kau hebat, kau membuatku kagum." Dia tersenyum melihatku.


"Kau lebih hebat dariku." Nampaknya dia sungguh-sungguh dengan perkataan itu.


"Sudah kubilang setengahnya adalah perbuatan bodoh. Lagipula kau bangkit atas pilihanmu sendiri, dan usaha yang kau lakukan hingga sekarang pasti membuahkan hasilnya." Sekarang dia tertawa dan menghela napas sebelum dia menjawabku.


"Kebodohanmu itu namanya berani. Aku belajar keberanian darimu. Jika saat itu kau tidak memberiku contoh bagaimana seorang gadis kecil, yang nampaknya tak mungkin bisa melawan, bisa tak kenal takut dan menjadi berani melawan gunung yang tampaknya tak bisa kau daki, aku tak akan di sini hari jika kau tak memberiku contoh, kau menamparku yang terlalu cenggeng." Nada tenangnya dan pandanhan lurusnya menandakan dia bersungguh-sungguh mengatakan itu.


Aku diam. Tak tahu kalau dia menganggapku begitu tinggi. Sesaat tak ada yang bicara, aku jadi gugup mengetahui kenapa dia tak keberatan mengirimkan tiga bulan bunga tanpa berharap aku membalasnya dengan segera.


"Berarti aku boleh minta bunga lagi, aku tak tahu kau begitu mengagumi kebodohanku..." Aku tertawa sekarang untuk menyembunyikan rasa nervousku karena dipuji begitu rupa. Dia melihatku dan ikut tertawa.


"Aku bercanda."


"Tak apa jika kau serius. Aku tak keberatan."


"Aku sudah punya terlalu banyak pot yang harus di isi." Giliran dia yang tertawa kembali, pembicaraan ini lumayan menyenangkan juga.


"Baiklah sebenarnya kita mau kemana, aku tak suka kejutan, beritahu aku sekarang tolong." Aku tak mau dia membawaku ke tempat yang aku tak suka.


"Aķu mau mengajakmu ke Nacarat. Itu nama bisnis pub dan restoran pertamaku. Pemandangan malam hari di sana indah."


"Kau pemilik Nacarat?! Pub rooftop itu? Bukankah Nacarat ada di banyak tempat, setahuku bukan di Montreal saja." Aku pernah ke sana sekali, pemandangannya memang bagus. Pub itu terkenal di Montreal.


"Kau benar, kami ada di beberapa kota di Canada dan US." Ternyata dia pemiliknya.


Dia juga pemilik bisnis farmasi yang pabriknya disita Jenderal Gillian, entah apa lagi yang dimilikinya. Benar kata Eliza orang ini adalah keluarga oligarki Russia, bahkan yang dipegangnya adalah bagian kecil kue dibanding yang dipegang oleh adik-adiknya.


\=\=\=\=\=\=