
Pelatihan berjalan lancar, aku tak mendapatkan kesulitan di kelas, walaupun secara teknis aku ada perawat, jauh di bawah James yang sudah spesialis, tapi karena memang aku 24 jam mengawasi dan memahami perawatan dua orang ini aku juga bisa menjelaskan dengan baik materi.
Dokter-dokter datang silih berganti dari berbagai wilayah dan kami berdua setelah ini akan dilibatkan di operasi besar di Florida, Miami. Skala yang jauh lebih besar dari yang kami tangani di Little Rock. James akan jadi Kepala Unit Emergencynya seperti di Little Rock.
Menggodanya, aku sama sekali belum memikirkannya karena kesibukan kami.
Kami akan diberikan sebuah rumah sakit di Miami yang skalanya seperti di Hot Spring, yang dekat dengan base utama operasi militer.
"Perawat Jen, aku dokter Junior Sean. Aku diminta membantumu menyiapkan perlengkapan medis yang kau inginkan. Kau bisa memintanya padaku. Oh ya, perawat sipil yang akan ikut sudah di susun, kau bisa memulai pelatihan sesuai yang kau inginkan besok. Aku akan langsung memberitahu mereka jika kau sudah siap."
Di sini juga aku dan James dipercaya sebagai ujung tombak, karena kami terbiasa bekerja dengan sistem rumah sakit militer dan pelatihan emergency medan tempur.
"Ohh baiklah, berikan daftarnya padaku. Aku akan mengaturnya dengan dokter James segera. Briefing pertama besok jam 9 pagi. Ini semua yang kubutuhkan, tapi mungkin ada lagi setelah observasi tempat."
"Mengerti Nona Jen." Dokter muda yang bersemangat itu menghilang secepat dia muncul. "Aku akan ikut denganmu dengan orang farmasi ke garis depan untuk menangani pharmacy dan perlengkapan."
"Ohh begitu, kalau begitu semoga kita bisa bekerja sama dengan baik. Terima kasih Sean."
Aku menuju ke ruangan James, yang juga adalah ruanganku karena aku assistennya untuk mendiskusikan profile staff kami.
"James, aku sudah mengerjakan perlengkapan, dan kita sudah mendapatkan daftar staff."
"Aku juga sudah mendapatkan daftar dokter, duduk kemari, kita selesaikan sekarang pembagiannya." Aku duduk didepan James dan kami mulai membuat pembagian tugas.
"Dokter James...mau makan siang?" Michelle sekarang mengetuk pintu dan muncul di pintu.
"Ohh, Michelle aku sedang sibuk dengan Jen, aku nanti makan dengan Jen saja." James kembali melihat kertas di tangannya.
"Ohh, baiklah." Aku melihat dokter cantik itu pergi dengan wajah kecewa.
"Dia akan kecewa."
"Biarkan saja. Memang itu maksudku. Aku hanya punya hubungan pekerjaan dengannya lama-lama dia akan mengerti. Kita akan selesaikan ini dulu mumpung kita tak punya kelas hari ini, kita harus sudah mulai briefing besok, skala operasi kali ini lebih besar dan sepertinya akan jadi rumah sakit permanen."
"Iya baiklah."
Ya begitulah, dia tidak akan menanggapi jika kau mengharapkannya atau mengejarnya begitu banyak. Jika aku mengharapkannya apakah dia akan menjauh juga, aku takut merusak hubunganku dengannya.
Aku tak berani mengharapkannya. Tak berani berpikir menggodanya seperti yang disarankan Susan. Sikapnya yang melindungiku rasanya lebih berarti untukku.
Akhirnya setelah sebulan ini tidak ada yang berhasil mendekatinya beberapa orang mulai mengorekku.
"Jen, apa kau dan Dokter James itu kekasih? Kalian nampaknya sangat dekat." Pertanyaan pertama mulai muncul dari Michelle yang cantik.
"Apa dia ga*y?" Pertanyaan selanjutnya membuatku meringis.
"Bukan, waktu kami di Hot Spring dia punya teman kencan kurasa."
"Ohh benarkah? Tak satupun gadis di sini yang berhasil mengajaknya kencan."
"Entahlah, aku sendiri tak mengerti apa kriterianya. Yang jelas aku hanya berhubungan dengannya di pekerjaan. Mungkin dia punya terlalu banyak pekerjaan, dua minggu lagi kemungkinan besar kami sudah harus ke garis depan."
"Mungkinkah?" Michelle sangsi dengan jawabanku, tapi aku sendiri tak punya jawaban lebih baik untuknya.
"Mungkin kau harus berusaha lagi." Aku tersenyum padanya.
"Bossmu itu sangat sulit."
Jadi sekarang aku senyum-senyum sendiri setelah sudah mengumpulkan beberapa orang bertanya apa dia ga*y, terutama Michelle yang terlihat sangat penasaran.
"Kenapa kau?" James heran melihatku kembali dari makan siang sambil senyum-senyum.
"Hmm tidak." Senyumku tambah lebar saat melihatnya.
"Dengan senyum selebar itu kau bilang tak ada apa-apa. Ada hubungannya denganku?"
"Banyak yang bertanya apa kau ga*y." Aku ngakak sekarang. "Kurasa sebentar lagi ada pria yang akan mengajakmu makan malam." Sekarang aku ngakak.
"Pertanyaan yang sangat tidak bermutu."
James kembali ke kertas yang di pelototinya. Mungkin benar, dia ingin fokus ke pekerjaan yang dipercayakan padanya sekarang. Jika dia dianggap berhasil, ini bisa menjadi batu loncatan untuk kariernya di masa yang akan datang. Di masa-masa keadaaan akan perlahan kembali normal.
Aku memutuskan akan mendukungnya saja. Dia sudah terlalu baik padaku.
"James, aku harus ke kelas briefing para perawat." Aku pergi sekarang, semangkin dekat dengan penempatan di garis depan, aku harus memastikan perawat-perawat sipil ini tahu SOP yang dijalankan oleh militer dalam waktu singkat. Ada beberapa perawat militer yang akan bergabung beberapa hari lagi.
"Kau perlu bantuan untuk brief?"
"Tidak, aku bisa menanganinya. Tenang saja, jika aku membutuhkan bantuanmu aku akan bilang."
Dan selama ini kami selalu menjadi tandem terbaik dalam pekerjaan.
\=\=\=\=\=