BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 23. General and Wonder Woman


POV Gilbert



Dua orang saling menyukai tidak memerlukan banyak hal.


Aku mendengar kata-katanyanya sejam yang lalu. Dan sekarang dia memintaku naik bersamanya.


Apa ini hal yang benar untuk dilakukan. Dia harus tahu dia tidak bisa mengharapkan apapun dariku. Kami mungkin hanya bertemu untuk semalam...Ini mungkin hanya semalam, setelah itu kami akan kembali ke kota kami masing-masing.


Apa dia punya harapan lain? Karena aku tak bisa berjanji apapun pada gadis cantik pemberani ini. Walaupun aku juga tak bisa mengabaikan dan menolaknya.


"Kau bisa menolongku sebentar?" Dia bertanya lagi, matanya menggapaiku mengharapkan aku mengatakan iya.


"Baiklah." Bibirnya mengulum senyum dan dia menundukkan kepalanya saat aku menyetujuinya. Dia benar-benar mengharapkan ini?


Aku hanya menyetujui membalut jarinya.


"Ehm... kau masih lapar? Kita bisa memesan makanan di restoran hotel." Dia mengalihkan pembicaraan menyembunyikan semburat merah yang kadang muncul dan menghilang dari wajahnya sepanjang malam ini.


Apa wanita tak takut apapun dan punya kekuasaan seperti dia masih bisa merona?


"Terserah padamu."


"Aku akan memesan makanan jika begitu. Kau tidak terburu-buru bukan."


"Tidak." Kurasa aku terperangkap dalam rona merah itu dan tak bisa pergi malam ini.


Kami sampai ke hotelnya kemudian. Aku membawa perban yang dia inginkan. Walaupun aku tahu itu hanya alasan.


"Masuklah." Dia membawaku masuk ke kamar deluxe yang cukup luas. Melepas sepatunya dan aku duduk di sofa nyaman di kamar itu.


Dia duduk cukup dekat di sampingku, parfumnya tercium olehku, dan mata abu-abunya menyapuku.



"Terima kasih sudah membantu, kau membantu banyak hal, hal-hal penting dalam hidupku dan aku hanya bisa mengatakan terima kasih untuk itu."


"Itu bagian dari pelayanan masyarakat." Aku menjawabnya sekenanya, membuatnya tertawa kecil.


"Aku bukan bagian dari masyarakat."


"Kau membantu kehidupan masyarakat setidaknya." Aku tersenyum padanya. "Kemarikan tanganmu." Setidaknya aku masih ingat tujuan awal aku ke sini, aku hampir melupakannya karena menatapnya.


"Kau terlalu bersemangat menghajar bajin*gan itu. Lihat ini kau melukai dirimu sendiri."


"Tak apa." Tangannya sakit. Itu terlihat, tapi dia tak mengatakannya. Hanya wajahnya sedikit mengerenyit saat aku mulai membalut perban.


"Aku terlalu kencang?"


"Sedikit."


"Kau akan terlihat seperti petinju terluka besok." Aku mengajaknya bicara untuk menetralisir kekosongan diantara kami. Dia tertawa kecil.


"Itu bagus, tak akan ada yang berani padaku lagi." melihat tangannya yang telah kubalut dengan baik.


"Memangnya ada yang berani padamu? Kau butuh bantuan untuk menghajarnya." Dia tertawa lagi sekarang.


"Kau memang tukang menyindir Jenderal." Aku hanya tersenyum padanya.


"Yang disindir juga tak akan perduli."


"Aku perduli jika kau yang menyindir, kau jangan terlalu kejam padaku." Sekarang dia menjadi manja, itu sedikit tidak cocok padanya.


Tapi mungkin dia merasa bebas bicara di saat seperti ini. Lagipula dia tetaplah wanita, walaupun dia segarang wonder woman tapi dia tetaplah wanita yang butuh pria yang memperhatikannya.


"Kapan aku berlaku kejam padamu." Walaupun dia berkhianat padaku saat kami pertama bertemu, aku memaafkannya karena motifnya.


"Kau benar, aku yang bersalah padamu kebanyakan." Dia menaruh jemarinya diatas dadaku. Aku menangkap jemarinya membuat dia melihat padaku.


"Kau tahu apa yang kau lakukan Eliza, aku tak bisa menjanjikan apapun padamu."


"Aku tahu Jenderal. Dan aku tak meminta apapun, selain ... menjadi kekasihmu semalam di kota asing." Suara yang hampir berbisik itu, jemarinya yang bermain di dad*aku dan tatapan matanya yang berani membuatku menahan napas.


"Wonder woman, kau senang sekali menyebutku Jenderal." Dia tersenyum, jarinya menari di da*daku dan kepalanya perlahan bersandar di bahuku. Wangi rambutnya menerpaku membuat aku berpikir terlalu jauh.


" Aku sering mengganggap pria tampan sebagai pajangan, tapi kurasa aku lemah terhadap pria-pria penguasa. Panggilan wonder woman itu menyebalkan..." Dia bilang menyebalkan? Kurasa dia menyukainya. Seperti aku menyukai dia memanggilku Jenderal, menganggapku lebih berkuasa darinya. Laki-laki mana tak senang perasaan dihargai dan dipuja.


Tanganku menggapai pinggang rampingnya, merengkuhnya dan membuatnya menatapku. Bibirnya yang terbuka adalah sebuah godaan.


"Aku takut kau berharap terlalu banyak, kita di kota yang berbeda, negara berbeda, situasi berbeda, apa yang bisa kujanjikan selain aku selalu jadi teman baikmu."


"Itu cukup. Sudah kubilang aku tak meminta apapun Jenderal." Sekarang jemarinya menyentuh wajahku. Dan matanya terlalu menuntut, ketika bibir kami bertemu napasku tertahan, gumaman tak jelas dan napasnya terlalu menggoda untuk saat ini, aku memeluk tubuhnya erat, menjadikannya kekasih malam ini, permintaan itu akan kepenuhi.