BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Pary 99. Acceptance 4


"Siapa yang teringat padanya, kau bercanda. Sudahlah ganti topik, kudengar dari Mom, kekasihmu akan datang bukan."


"Iya, laporan tahun pertamanya sudah selesai, dia akan bicara ke Gilbert tentang kami sekaligus menyerahkan laporan tahunan pertama."


"Kapan dia belum datang?"


"Well sebenarnya dia dalam perjalanan ke sini." Monica melihatku yang sedang berwajah senang karena Gilbert akan datang.


"Jadi aku akan jadi lalat menganggu saja di sini. Aku datang di saat yang salah, sudahlah aku pergi dulu saja, aku tahu perasaan kekasih yang jarang bertemu, dunia adalah milik mereka." Aku tertawa, adikku ini memang pengertian "Jika kalian sudah bicara dengan Albert kurasa kita harus merayakannya, ajaklah aku makan malam bersama."


"Tentu saja kita akan makan malam bersama dengan Mom dan Albert juga nanti."


"Baiklah, aku pergi dulu jika begitu." Aku melambai padanya. Tak lama Gilbert datang, aku sangat senang dengan kedatangannya kali ini. Kali ini bagaimanapun adalah saat dia akan bicara dengan Albert, meminta izin agar aku bisa ke Washington DC.


"Kau sampai..." Aku menaruh diriku dalam pelukan hangatnya yang selalu kurindukan bulan demi bulan di tahun ini.


"Aku sampai, senang bisa memelukmu lagi." Setahun lebih kami hanya bisa saling mengunjungi seperti ini melewati minggu demi minggu dengan menabung rindu.


"Seminggu ini rasanya lama sekali."


"Ada beberapa hal yang harus dibereskan dulu, aku baru bisa datang sekarang. Tapi aku sudah bicara ke Albert di telepon sebenarnya soal kita."


"Begitukah, apa dia senang dengan hasilmu." Mataku membulat menunggu jawabannya.


"Hmm... aku tahu hasilmu selalu luar biasa, tapi bagaimana Albert menanggapinya. Apa dia mempersulitmu. Dia kadang suka memainkan trik, dia hanya menunjukkan dia sedikit terkesan, tidak memuji berlebihan. Supaya yang dipuji tidak besar kepala." Biasanya memang itu gaya Albert, walaupun dia kadang mengapresiasi dengan hal lain sebagai kompensasi dia pelit pujian berlebihan.


"Tidak, dia terang-terangan terkesan dengan pencapaianku."


"Benarkah?" Aku tersenyum lebar. Berarti kami akan disetujui Albert dan kemungkinan kami akan bisa pindah berdua setelah ini. Lagipula sekarang Monica sudah bisa diandalkan.


"Iya dan Minggu sore dia mengajak kita makan makan bersama dengan Ibu dan adikmu. Kejutan yang menyenangkan bukan."


"Dia yang mengajak kita makan malam di rumah Mom. Berarti artinya dia sudah setuju."


"Kurasa begitu, tapi belakangan dia juga sudah tidak punya masalah dengan hubungan kita kurasa, dia bicara terbuka dari bulan-bulan yang lalu dia tidak masalah dengan hubungan kita, kali ini dia mengajak makan malam tapi makan malam bersama seperti ini baru kali ini. Dan ini dirumah Ibumu."


"Benarkah? Mom tak mengatakan apapun padaku?"


"Aku ingin mengatakan ini sendiri sebagai kejutan untukmu. Aku sebenarnya sudah bicara ke Ibumu juga setelah Kakakmu mengajak makan malam."


"Kau merencanakan banyak hal di belakangku bukan." Aku mencubit pipinya dan mengoyangkannya dengan gemas karena penasaran apa yang mereka telah bicarakan di belakangku dan aku sama sekali tidak tahu.


"Tadinya aku mau mengatakan ini saat kita sampai di rumah Ibumu, tapi aku tak bisa bertahan." Dia tertawa sementara aku mengulum senyum bahagiaku. "Kami hanya merencanakan hal bagus sweetheart tak ada yang perlu dikhawatirkan." Dan aku memeluknya dengan perasaan bahagia membuncah dalam hatiku. Dia membalas pelukanku dengan segera.