
"Apa ada lagi selain semalam..."
"Penyisiran di wilayah luar pagar disekitar wilayah ini menemukan lima infected..." Dia dia diam sebelum melanjutkan.
"Jika ada serangan selalu ingat apa yang kami ajarkan pada kalian, ransel, pisau, pistol." Kami disuruh menyiapkan ransel isi makanan minuman, obat, pistol dan pisau."
"Aku mengerti..."
"Kami akan melindungi kalian sedapatnya. Jangan kuatir, lagipula camp ini tak akan jatuh semudah itu."
Tiga kali tembakan pistol di arah utara terdengar kemudian.
"Apa itu..." Aku dan Andrew berpandangan.
"Kontrol utama, ada tembakan di zona utara?" Andrew bicara di radio.
"Ada infected yang terlihat di pagar, sudah dibereskan." Laporan itu membuat aku menghela napas lega.
Tak ada suara apapun lagi kemudian. Kami hanya berdiam disana.
"Aku kasian dengan wanita yang suaminya meninggal semalam. Andai kita bisa menemukan infected itu terlebih dahulu." Aku berbicara pelan. Sangat mengerti rasanya ditinggalkan oleh Ayah. Rasanya aku adalah anak itu.
"Memang sangat disayangkan."
Aku jadi memikirkan wanita itu. Apakah dia baik-baik saja. Dia mengeluh demam tadi pagi. Apa aku harus memeriksanya sebentar.
"Tadi pagi dia mengeluh demam padaku, aku ingin memeriksanya... Bisa kau temani aku ke camp." Sesuatu mengatakan aku harus memeriksanya.
"Ayo."
Kami berjalan berdua menuju camp pengungsi, aku mencari tendanya, aku ingat nomor dua dari depan. Seorang wanita keluar dari tenda hanya sepuluh meter di depanku. Dia menggendong seorang anak perempuan yang melekat padanya.
Aku mengingat sosok perempuan itu nampaknya seperti wanita yang berjalan keluar camp itu. Aku mempercepat langkahku menyusulnya. Dia tampaknya berjalan ke arah lapangan kosong tempat kami menaruh tenda logistik.
"Daisy..." Dia tidak menoleh dan terus berjalan membawa anaknya. Aku dan Andrew berlari menyusulnya sekarang.
Dia duduk di menyender sebuah batang pohon sambil memeluk anaknya. Aku baru melihat dia mengikat pegangannya ke anaknya dengan sebuah scraft panjang. Aku mencapainya...
"Daisy, kau baik-baik saja?" Dia berbalik melihat ke arahku.
"Perawat Jen,..." Dia terisak. Aku tak begitu melihat jelas dalam kegelapan sampai Andrew menyalakan senter dan mengarahkan padanya.
Dan itu membuatku melangkah mundur.
Lehernya berdarah. Anak perempuan itu mencoba mengigitnya. Dan dia tidak menahannya...
"Daisy, ... " Aku sangat mengerti permintaannya, karena jika diposisinya aku juga mungkin akan melakukan hal yang sama.
"Perawat Jen, kumohon tolong aku..." Air matanya menetes dan aku berlutut duduk didepannya, sementara dia tetap membiarkan anaknya melukainya.
"Aku butuh bantuan di camp pengungsi,..." Andrew bicara di Radio. Beberapa orang datang dengan cepat kemudian dan hanya bisa tertegun dengan apa yang mereka lihat.
"Tidak apa Jen, mundurlah. Prajurit kumohon tembak kami bersamaan." Andrew dan beberapa orang yang melihat itu terlihat ragu. Tapi kami semua tahu kami tak punya pilihan sekarang. Itu adalah satu-satunya cara yang harus diambil.
"Sayangku... kita akan bertemu Ayah sebentar lagi. Tenanglah..." Hatiku hancur saat mendengar dia menenangkan anaknya yang tanpa sadar terus melukainya.
Andrew melihat ke arah satu orang prajurit.
"Kita lakukan, aku Ibunya. Clear single shot..." Andrew berbisik pelan. Aku tak sanggup melihat ini, dan memalingkan mukaku menghadap arah lain, Andrew menghitung pelan. Air mataku terus mengalir sementara mereka mendekati Daisy dan anaknya. Dalam kurang dari tiga detik kemudian letusan mereka menyelesaikan semuanya.
"Semoga kalian beristirahat dengan damai..." Andrew berkata pelan. Sementara yang lain juga tak bisa bicara.
"Mulai pembersihan." Beberapa prajurit memakai sarung tangan dan memasukkan mereka ke kantong jenazah.
Aku melihat semua itu dengan perasaan campur aduk. Wabah ini kenapa mereka ada, kapan kami bisa menghapus wabah ini.
Aku berjalan menjauh dan duduk lemas.
"Ayo kembali ke bangsal dan istirahatlah, tak ada yang bisa kau lakukan. Sudah harus berakhir begitu. Besok kau harus kembali bertugas, menolong yang lain ..." Andrew menarik tanganku dan membuatku bangkit.
"Ayo, kutemani kau berjalan..." Aku melangkah dengan gontai, masih terbawa perasaan sedih melihat tragedy tadi.
"Dia Ibu yang sangat baik. Dia meminta paracetamol dan obat tidur padaku, itu untuk anaknya. Bukan dia. Dia hanya ingin membuat anaknya nyaman..."
"Semua Ibu akan melakukan yang terbaik untuk anaknya."
"Tak bisakah kalian memindahkan mereka ke kota terdekat. Ini daerah operasi yang belum aman. keselamatan mereka akan terancam disini..."
"Kita kekurangan personel disini, tapi kurasa wanita dan anak-anak memang harus kita pindahkan sementara para pria bisa membantu disini. Aku akan bicara ke Komandan besok soal insiden ini."
Kami berjalan dalam diam ke bangsal para perawat.
"Sudah dekat, kau juga harus istirahat."
"Baiklah. Jangan terlalu bersedih." Aku tersenyum getir.
"Selamat malam Andrew." Aku berlalu dari hadapannya.
Malam ini terasa berat. Tapi dibalik semua penderitaan ini, ada cerita cinta tanpa balas seorang Ibu bagi anaknya. Bahkan matipun dia akan merelakan dirinya untuk anaknya. Karena jika anaknya diambil darinya untuk siapa lagi dia berjuang untuk hidupnya di dunia yang keras ini.