
"Paman David bilang minggu ini dia memintamu dan Andrew meresmikan panti asuhan di Ottawa akhir minggu ini. Karena kita sponsor utamanya." .
"Ohh akhir minggu ini?" Aku tadinya mau mengatakan aku akan pergi akhir minggu ini ke DC. Ternyata aku harus menghadiri pembukaan bersama Andrew.
"Iya. Kau ada acara?"
"Tidak, ya baiklah."
Aku harus menelepon Gilbert. Mengatakan soal ini.
"Kau tak kesini?"
"Aku harus menghadiri peresmian panti asuhan di Ottawa, kami donatur utamanya. Lahannya dari kami. Tugas dari Kakak, maaf aku ingkar janji."
"Iya baiklah, tak apa jika tak bisa, kau bisa ke sini jika kau tak ada pekerjaan. Nanti kulihat jadwalku jika aku bisa ke sana lagi."
"Benar tak apa?"
"Iya tak apa."
Aku binggung apa aku harus mengatakan soal Andrew.
"Ada masalah di sana? Kakakmu sudah menyetujui proposal kami hari ini. Tapi ada beberapa perubahan yang bisa kuterima. Pekerjaan kami akan segera di mulai."
"Masalah ...Hmm... aku tak tahu apa ini disebut masalah. Andrew bilang dia ingin aku menjadi istrinya, Andrew itu anak Sir David, kami kenal sudah lama karena dia anak Paman David, aku sendiri tak menyangka dia mengatakan hal seperti itu kemarin. Tiba-tiba... dia bilang dia ingin aku jadi istrinya, setelah dia tahu aku punya pacar. Dia bilang kau dan aku tak punya masa depan, tak mungkin Albert setuju melepasku ke DC, ..." Aku berhenti dan ingin tahu apa tanggapannya.
"Tak usah kau dengarkan, aku tahu aku harus berhasil dengan investasi ini sebelum menerima pengakuan Kakakmu, akan berusaha untuk kita." Hanya itu yang ingin aku dengar, bahwa dia akan berusaha untuk kami.
"Aku percaya itu, akhir pekan ini aku harus pergi dengannya. Tapi kau juga hanya harus percaya padaku."
"Aku percaya padamu." Aku tenang dengan jawaban singkatnya. Dia percaya kami akan saling mendukung dan menjaga walaupun jauh.
"Aku senang mendengar jawabanmu. Aku juga akan berusaha untuk kita."
Itu sudah cukup. Selama kami saling percaya dan mendukung satu sama lain.
\=\=\=\=
Andrew tersenyum padaku saat melihatku datang. Aku menghindari semobil dengannya dengan berbagai macam alasan yang bisa kutemukan. Tadinya dia bilang dia mengajakku menginap agar tak terlalu terburu-buru harus menempuh perjalanan 3 jam dari Montreal ke Ottawa tapi aku menolaknya.
Aku memang tak ingin memberikannya perasaan bahwa dia punya kesempatan denganku.
"Baru sampai." Aku bertemu dengannya di lobby hotel. Baru akan berangkat ke panti asuhan langsung.
"Iya, ayo berangkat."
"Kau tidak lelah, mau sarapan dulu, perjalananmu lancar?"
"Tidak, aku tak apa. Tadi aku sudah makan di jalan tadi. Ayo berangkat..."
"Ya baiklah, ayo. Naik mobilku saja, kau keberatan? Mobilmu sudah berjalan tiga jam setidaknya. Sopirnya mungkin butuh istirahat sebentar."
"Iya baiklah."
Sejak dia mengatakan dia ingin punya hubungan denganku, dia pasti sadar aku menghindarinya.
"Kau sibuk belakangan."
"Hmm... iya." Aku tersenyum padanya.
"Andrew, kurasa ini tak akan berhasil, aku tak punya perasaan yang sama denganmu. Aku mencintai orang lain. Apa yang kau harapkan dariku..."
"Anggap saja aku teman seperti biasa. Tak usah menghindariku, aku juga tak bisa memaksamu. kau tahu itu." Dia bicara dengan percaya diri. Aku jadi melihatnya dengan heran, apa rencana yang dia punya.
"Baiklah, tapi kau harus tahu aku tak akan memberi harapan padamu."
"Tentu saja, tak usah khawatir."
Andrew yang kukenal terlalu pintar untuk keluar tanpa rencana. Aku melihat padanya.
"Apa yang kau rencanakan."
"Apa yang kurencanakan? Kau terlalu curiga padaku." Dia tertawa sekarang.
"Benarkah?"
"Aku tidak punya rencana. Yang kutahu percuma merencanakan sesuatu dibelakangmu." Aku tak percaya apa yang dikatakannya. Tapi dia bersikap santai saja sekarang.
Entahlah apa yang akan dilakukannya yang jelas tidak akan merubah apapun. Walaupun benar dia bersikap biasa saja tanpa menjunjukkan riak apapun selama acara.
\=\=\=●●\=\=\=
POV Gilbert
"Gilbert, kau memang pengadu!" Sebuah bentakan terdengar di speaker ponselku. Siapa lagi jika bukan 'Tuan Putri Laura'.
"Kau yang mengadu duluan. Kenapa kau menyalahkanku. Aku hanya harus menjawab apa adanya untuk menjawab tuduhanmu."
"Kau bangsat yang memanfaatkan situasi. Dasar pendendam...." Sebelum dia bicara lagi lebih banyak langsung kumatikan teleponnya, merasa tak pantas menyia-nyiakan waktuku dengan menangapi Tuan Putri ini. Mungkin dia baru habis dimarahi oleh Ayahnya.
"Sir, Tuan Hawke bilang dia minta Anda mengantikannya menjamu Nona Rachelle Williams, anak perdana menteri PM Canada besok." Atasanku minta aku mengantikannya menjamu, anak Sir David, yang berarti adik perempuan Andrew sainganku. Aku pernah bertemu sekali dengannya.
"Apa sekertarisnya bilang kenapa Tuan Hawke memintaku untuk menggantikannya?"
"Tidak Sir, katanya ini cuma makan siang casual ramah tamah saja. Kebetulan masalah pekerjaan sudah disepakati."
"Iya baiklah."
Ini agak mencurigakan aku sedang punya masalah dengan kakaknya yang mengejar kekasihku. Kita lihat saja apa ini ada hubungannya dengan Andrew.
Rachelle setahuku tinggal di US, dia pernah ikut jamuan sekali, dia dan salah seorang Pamannya punya usaha industry kosmetik dan toiletris. Walaupun sistem produksi mereka sangat terdampak, tapi masih ada yang beroperasi saat ini. Dan mereka adalah yang ikut menerima insentif untuk memulai kembali usahanya.
Aku tiba di restoran yang sudah di pesan oleh staff Tuan Hawke. Aku masih mengenali gadis cantik itu.
"Nona Rachelle, Tuan Ethan Hawke meminta saya mengantikan makan siang dengan Anda. Semoga Anda tidak keberatan...."
"Sebenarnya saya yang memintanya, saya berpikir walaupun Tuan Hawke adalah boss Anda tapi kebanyakan Anda yang akan terlibat langsung dengan kami. Jadi lebìh baik saya makan siang dengan Anda dan lebih mengenal Anda." Ternyata dia yang memintanya sendiri.
"Ternyata begitu."
"Apakah saya salah?"
"Tentu tidak. Hanya tak biasanya seseorang meminta bertemu pangkat yang lebih rendah."
"Anda si usia belum 40 sudah mencapai level ini bukanlah tingkatan rendah. Jangan terlalu merendah Tuan Gillian."