BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 153. Drama 2


"Tak ada banyak syarat di teman. Tak banyak kerumitan dalam teman." Dia meringis, mungkin tahu jawabanku itu karena aku hanya menyembunyikan sesuatu.


"Hmm... Sangat platonis."


"Kau menyindirku." Ingin kukatakan bukankah dia melakukannya juga. Tapi sudahlah tak ada gunanya mendebatnya. Lagipula kenapa dia tiba-tiba ingin membicarakan kehidupan pribadiku.


"Tidak. Hanya mengatakan hubungan seperti itu tak mungkin. Teman, pasti salah satunya punya perasaan."


"Anggap saja itu bisa." Aku benar-benar tak ingin membicarakan ini. "Kenapa kau bertanya Komandan."


"Aku kenal dengan Andrew. Dia menanyakan kabarmu." Sekarang makanku terhenti. Ternyata dia tahu aku dan James dari Andrew.


"Bullshit. Apa perlunya dia bertanya kabarku."


"Aku tak tahu. Dia hanya bertanya apa sekarang kau dan James adalah kekasih." Aku hanya mendengus mendengarnya.


Bukankan pilihannya sudah jelas, dia menyesal dengan pilihannya kurasa aku sudah dua kali memberinya kesempatan. Mau apa dia bertanya kabarku.


"Maaf. Aku nampaknya membuatmu kesal."


"Aku hanya tidak ingin mendengarkan namanya lagi."


"Baik, aku juga tidak akan menyebutkannya padamu lagi. Perpisahan yang tidak baik nampaknya."


"Nampaknya kau sangat suka bertanya padaku. Bagaimana kau kenal Andrew?"


"Dulu ada pelatihan antar angkatan dimana kami pernah satu kelas bersama. Tidak terlalu dekat, tapi teman-teman di kelas itu kadang masih ramai saling memberikan informasi."


"Baik-baik, sorry."


Dua orang wanita masuk ke dapur umum . Aku mengenalnya, dia dokter wanita di bagian umum, dokter dari daerah ini nampaknya, yang di gosipkan punya hubungan dengan sang Komandan.


"Kekasihmu mencarimu, dia akan cemburu melihatmu bicara denganku Sir."


"Aku dan Rosie hanya teman."


"Hubungan seperti itu tak mungkin. Teman, pasti salah satunya punya perasaan." Aku membalasnya dengan kata-katanya sendiri. Dia tersenyum.


"Aku sudah mengatakan kami hanya teman."


"Kau dan Andrew kurang lebih sama. Lebih mementingkan karier kurasa. Kalian di jalan yang adalah high speed untuk ke stage berikutnya. Aku bisa mengerti itu, di titik itu kalian ingin fokus ke tujuan, wanita kami dengan harapan kami. Kadang kami juga tak bisa di salahkan bukan Sir. Perasaan kami lebih tinggi dari logika kadang, walau aku memahami alasannya. Bagi kalian di titik tawar itu, mudah mendapatkan pengantinya. Jadi lebih baik kami menyingkir dari lintasan, cinta itu hanya perasaan sementara..."


"Pembicaraan ini cukup berat." Aku tertawa mendengar kata-katanya. Nampaknya kata-kata yang kuucapkan itu cukup mengena. Aku tak perduli karena dia yang memulainya. Aku makan sambil menilai siapa yang ada di depanku, benar katanya aku terlalu berat untuk dijadikan teman bicara santai.


"Itu berat bagi wanita, tapi tak ada artinya bagi kalian. Yah jika kau bilang kau sudah memperingatkannya di depan, dan dia menerimanya tentu saja kau tak bisa disalahkan." Sesuatu terlintas di pikiranku sekarang. "Sir, Anda tak sedang memanfaatkan saya untuk menjadi pemberi peringatan perjanjian kalian bukan?"


"Tidak, aku tak tahu Rosie akan ke sini. Aku berani bersunpah untuk itu." Ternyata benar Rosie teman mesranya. Aku tersenyum.


"Rumit bukan."


"Tak ada yang rumit. Perjanjian tetaplah perjanjian." Hmm dia dan Andrew memang sama saja, sama-sama tega dan tak berperasaan. Yang aku heran kenapa Andrew masih mencariku apa dia menyesal?