
"Baik-baiklah di Atlanta Aaron semoga kau jadi pahlawan penyelamat kita di sana." Dià tersenyum padaku sekarang saat aku mengantarnya menaiki pesawat kecil itu.
"Aku akan jadi pahlawan penyelamat seperti yang kau inginkan Jen. Semoga kita bisa bertemu lagu suatu saat, mungkin saat itu penyakit sialan ini sudah musnah dari muka bumi."
"Semoga saja." Aku memeluknya sebentar dan melambai padanya yang sekarang masuk ke pesawat, baling-balingnya mulai menyala kemudian. Aku melambai padanya saat dia mulai meninggalkan lintasan.
Mungkin dia penyembuh yang dikirimkan Aku dan semua penduduk dunia benar-benar berharap ini semua berlalu. Di masa lalu, bahkan Eropa pernah kehilangan 60% populasinya karena Black Death atau pes.
Tapi mereka bertahan, umat manusia bertahan melewati bencana ini, manusia jadi punya kekebalan melawan penyakit ini dan Eropa menjadi salah satu benua termaju kemudian. Kali ini juga harusnya sama, kami umat manusia akan bisa bertahan.
Apalagi sekarang ilmu kesehatan telah jauh lebih maju. Kami akan bertahan,...
Kami merencanakan jalan kembali kemudian. Salah seorang prajurit mengingatkan kapten kami harus kembali ke jalan yang kemarin, karena mungkin ada yang mau ikut bersama kami.
Dan perjalanan kembali pun dimulai. Rupanya rute aman kemarin masih berlaku. Belum banyak perubahan pada posisi kantong infected, kadang terdengar tembakan saat kamu melewati pinggir kota Little Rock. Nampaknya di sini masih banyak sumber daya yang bisa diambil lagipula jika ada apa apa mereka bisa berlindung pada pangkalan militer.
"Ada pengungsi kemarin di depan kita." Sebuah rombongan yang memang terdiri dari lima belas orang menunggu kami di jalanan di mana kami bertemu mereka kemarin.
Ada limadari mereka adalah wanita. Ada dua anak-anak berumur mungkin 10 tahunan juga yang ikut. Pimpinan misi menyambut mereka. Aku mengecek sebentar anak yang ikut itu, nampaknya dia memang hanya flu. Suhu tubuhnya tidak terlalu tinggi dan dia memang punya gejala flu umum. Lagipula sudah tiga hari dia punya gejala.
"Ternyata ada Nona perawat yang berani ikut perjalanan jauh." Seorang wanita menyapaku. Aku memperkenalkan namaku padanya. "Ahh aku Bella, senang bertemu dengammu, kau perawat militer."
"Ohh rupanya sudah ada yang kebal. Bukankah hal seperti itu berarti berita yang sangat bagus?"
"Iya kau benar itu berita sangat bagus. Sudah ada manusia yang bisa memicu kekebalannya sendiri. Dan ilmuan bisa mempelajarinya."
"Kau tahu baru kali ini aku mendengar berita melegakan setelah berbulan-bulan seperti dunia sudah akan kiamat." Semua orang berkata begitu.
"Bagaimana kau bisa bergabung dengan kelompok ini?"
"Ohh aku di perjalanan meninggalkan Little Rock, tapi kemudian kami diserang dan aku bertemu mereka, sebelumnya kelompok kami ada sekitar 40an orang ada keluarga juga tapi sekarang ada yang pergi, ada yang meninggal.... Dan ada yang ... hanya ingin pergi dari dunia rusak ini. Tinggal kami yàng berani bertahan." Itu pasti berat. Delapan bulan bertahan hidup dalam ketidakpastian.
"Kau hebat bisa bertahan sendiri di luar." Dia tersenyum getir.
"Entahlah Jen.. Aku tak tahu, mungkin aku terlalu pengecut untuk mati kurasa. Atau mungkin Ayah dan Ibuku di Sacramento sana cukup memberikanku keberanian untuk bertahan, jika tak ada mereka mungkin aku juga sudah memilih jalan mudah." Aku mengerti perasaannya karena perasaanku juga sama.
"Itu menyedihkan ... Kita sama, Ibuku yang sendirian di El Paso sana yang memberiku harapan untuk bertahan. Kita memang perlu sesuatu untuk kita berpijak." Aku menepuk bahunya. Berusaha untuk saling menguatkan setidaknya dengan sama-sama bercerita. Walau cerita kami sama-sama sedih seperti kebanyakan orang yang lainnya. Tapi setidaknya kami beruntung akar kami belum tercabut dari dunia ini.
"Hot Spring aku pernah sekali ke sana. Pasti air panas berlimpah di sana. Kurasa sebagian ingin pindah kesana karena membayangkan pemandian air panas." Aku tertawa, kurasa itu sedikit banyak benar.
...**************** bersambung besok. ...