
"Apa kau menyesal sekarang?" Dia menatapku dengan penasaran. Aku menarik selimut sampai ke dada.
"Tidak, jika aku menyesalpun kau tak salah apa-apa."
"Apa aku mengecewakanmu?" Aku menggeleng. "Boleh aku memelukmu?" Permintaan yang manis dan membuatku tersenyum. Mungkin memang benar dia menyayangiku dengan tulus, dia tak mau mengambil kesempatan tadi dan mengusirku, ini atas pilihanku sendiri.
"Iya." Dia memelukku, dan menciumku sekaligus, Aku tak menolaknya. Ciuman lembut itu sepenuh hati, terasa nyaman. Aku berani membalasnya sekarang.
"Jika kau menyesal kau harus menyalahkan Susan dan D D'Angelo, aku sudah menyuruhmu pergi. Tapi aku akan mengingat apa.yang terjadi, ini berarti untukku." Aku tertawa kecil.
"Iya aku harus menyalahkan Susan. " Aku ikut tertawa bersamanya. "Aku tak tahu Andrew, ini mungkin pelarianku, aku yang takut mengecewakanmu. Mungkin besok aku tak berani lagi menemuimu. Tapi aku tak yakin, mungkin aku menginginkanmu lagi, tapi untuk mengatakan aku menyukaimu kurasa belum bisa. Aku juga tak yakin."
"Aku bagus jika begitu, walau mungkin tadi terlalu cepat. Tapi mungkin kita bisa mengulanginya lagi jika kau ingin. Temui aku lagi,... Walau kau melakukannya karena kau teringat pengalaman kita. Tinggallah di sini malam ini."
"Tidak bisa ... Nanti Susan akan memergoki kita." Aku tertawa, aku tak yakin bisa tidur jika dia disampingku. Walau kamar ini nyaman sekali.
"Tak apa mereka memergoki kita, bukan cuma mereka yang mendapatkan apa yang mereka inginkan.
"Aku tak bisa tidur."
"Aku akan membuatmu kelelahan jika begitu." Dia menciumku lagi. Lekukan tubuhnya yang terasa ini lengannya begitu menggoda ketika dia memelukku.
"Kau pemaksa juga." Aku menggeliat untuk merasakannya, gesekan kulit ini memang memggoda terlalu cepat.
"Iya, eranganmu itu, kau sangat menikmatinya tadi bukan, tadi terlalu cepat." Bibirnya dan tangannya bermain, aku memejamkan mata, ketika dia menekankan dirinya napasku langsung berubah.
"Kau suka, ..." Dia menggodaku, kali ini ciumannya dna cumbuammya lebih panas tapi tidak secepat tadi.
"Kau memang tukang menggoda, ..." Ciumannya mengunci tubuhku yang menggeliat melepaskan diri, tapi dia tahu aku tak serius.
"Kau sengaja bergerak seperti itu? Lihat apa yang kau lakukan." Aku tak bisa menahan eranganku ketika dia melakukannya lagi. Kali ini dia tak terburu-buru. Mencium, menggoda, membuatku merasa terlalu menginginkannya lagi.
"Selesaikan ini kumohon, kau menyiksaku. Aku mengera*ng dan memintanya lagi." Dengan cepat dia mengabulkan permintaanku untuk yang kedua kalinya.
Dan sekarang aku memeluknya begitu erat saat itu datang lagi. Ini karena Susan dan D'Angelo. Aku hanya punya alasan itu untuk pembenaran.
"Tidurlah di sini, kau sudah kelelahan bukan. Atau belum?" Aku tertawa karena kata-katanya.
"Jika dua orang itu meledek kita besok apa yang akan kau katakan."
"Tidak ada, itu hanya urusan pribadi yang perlu diselesaikan. Tidurlah, aku tak akan menggangumu lagi. Love you sweetheart..." Dia mengelus pipiku dengan lembut. Aku menatapnya dengan mata hampir tertutup.
Entah, kukira aku tak menyesal daĊ£ang ke sini. Kamar 612, mungkin awal aku bisa melupakan Fred. Dia selalu punya tempat di hatiku tapi kehidupan harus terus berjalan tanpanya. Jika memang dia tak ada lagi.
"Selamat malam Andrew." Aku kelelahan kurasa, dan orang di sampingku adalah seseorang yang bisa melindungiku.
"Selamat malam Sweetheart, tidurlah semua akan baik-baik saja."
Semua akan baik-baik saja.