
Aku kemudian mengurung diri di kamar, tak punya air mata untuk menangis lagi, tak punya harapan untuk diselamatkan lagi, sempat punya keinginan bunuh diri saja, tapi karena tak punya keberanian aku hanya bisa menunggu saat-saat terakhir dengan menengak obat tidur.
Penglihatan terakhirku adalah sinar matahari sore yang menguning di musim panas itu. Berharap aku tak pernah sadar lagi, tapi keajaiban terjadi, disaat aku sadar aku bisa bertemu Ayah dan Ibu di surga. Tapi kemudian saat aku sadar dan membuka mata yang pertama kulihat adalah Eliza. Dan aku kadang masih tak percaya bahwa aku diberi kesempatan kedua, keajaiban aku masih bisa hidup sampai sekarang.
Tapi trauma adalah trauma, kejadian hampir mati seperti itu bukan hal yang bisa dilupakan dengan mudah. Aku masih berjuang dengan mimpi buruk tiap malamnya selama berbulan-bulan.
Walaupun aku tak bisa mengingat satu scene pun saat enam bulan aku tidak punya kontrol atas tubuhku. Itu kadang muncul dalam mimpi buruk... atau serangan panik tiba-tiba. Perlahan setelah bertahun-tahun itu berkurang sama sekali.
Dan satu hal, sejak saat itu aku jadi tak bisa melihat darah. Darah akan memicu serangan panik bagian fari trauma yang berakar dalam pikiranku.
Aku sedang bicara dengan grup kolega di undangan pesta kolega muda partai itu ketika mereka menuangkan anggur merah.
Dan ini saat anggur merah gelap ditanganku ini terlihat seperti darah. Aku mulai ingat dengan jelas tanganku yang tergigit infected, rasa dingin merayap di punggungku dengan segera dan mataku nanar, napasku menjadi cepat dan tanganku gemetar.
"Svetluny, kau baik?" Sebuah panggilan mencapaiku. Aku berjuang keras mengatur napasku. Tapi tanganku masih tetap gemetar. Saat gelas itu jatuh, percikan cairan di lantai membuatku berteriak dan kakiku melemas dan jatuh sambil memandang percikan merahnya. Darah, tanganku berdarah tergigit! Aku akan mati.
"Monic?! Ada apa?" Suara ini, ini suara Alexsey, aku melihatnya tapi tak bisa bersuara. Napasku tersengal, jantungku rasanya berdetak terlalu cepat dan ketakutan yang sangat merayapiku. Aku berusaha melepaskan diri dari pegangan tangannya."Monic?!"
...****************...
...Serangan panik (panic attack) adalah kemunculan rasa takut atau gelisah yang berlebihan secara tiba-tiba tanpa sebab yang jelas. Kondisi ini bisa berlangsung selama beberapa menit hingga setengah jam....
...Serangan panik ditandai dengan detak jantung yang bertambah cepat, napas pendek, pusing, tegang otot, atau gemetar. Kondisi ini bisa terjadi kapan pun, baik saat sedang beraktivitas maupun ketika beristirahat....
...****************...
"Monic!" Aku tahu ini suara Andrew. Tapi aku tak bisa mengendalikan rasa takut dan panik ini. Rasanya sebentar lagi aku akan mati. Orang-orang mengerumuniku, mungkin mereka kasihan melihatku sekarat. "Tolong beri aku ruang, jangan berkerumun! Dia terkena serangan panik!" Andrew memberi perintah dan menepuk pipiku agar aku melihat padanya.
"Monic lihat aku! Kau di sini, ini tempat aman! Lihat aku, semua sudah aman." Yang kulihat hanya tanganku yang tergigit, rasa ketakutan akan mati dan Ayah, Ibu yang sudah menjadi infected.
"Darah, aku terinfeksi..."
"Monic! Sudah ada Eliza, lihat aku, Eliza sudah menyelamatkanmu." Yang kulihat pertama adalah Eliza saat bangun dari koma. Aku melihat Andrew, berusaha menapak pada kenyataan.