
"Ini tak apa." Masih berupaya mengatakan dia tak apa. Dihaja*r lima orang tak apa? Bagaimana mungkin.
"Angkat bajumu atau aku yang menghaja*rmu sendiri." Dia terbahak dengan ancamanku.
"Kau ingin membuka bajuku, gadis mesu*m. Baiklah terserah padamu saja, aku menyerah di tanganmu." Dia mengangkat tangan dan aku menarik kausnya ke atas.
Aku mencari luka memarnya tapi dia memeluk pinggangku membawa aku ke pangkuannya. "Apa yang kau lakukan." Langsung kupelototi dia.
"Aku tak apa, ada bengkak lain yang harus diurus." Aku memelototinya tanpa senyum. Dia meringis lebar melihat aku melotot padanya.
"Jangan mes*um, balikkan bada*nmu, keluargamu itu bangsat semua, kenapa harus saling mencelakai, berapa banyak uang yang diperlukan untuk hidup memangnya." Aku langsung marah, perebutan CSL Moskow ini membuatku marah. Dan apa yang dia cari sebenarnya bukankah dia sudah semuanya di sini, kenapa harus mengincar posisi di Moskow.
"Ini tak apa Svetluny sayang, aku latihan tarung lukanya lebih parah dari ini, kau tak usah khawatir."
"Kau tak apa, lain kali ada lagi yang akan menabrak mobilmu, entah lain kali ada apa lagi aku tak tahu, kenapa kau tak lupakan saja dan hidup dengan damai di sini?!" Aku marah sambil mengusapkan cream itu di wajahnya yang memerah entah besok akan membiru.
Menemukan beberapa lagi bekas pukulan di punggungnya, dan dad*anya. Apa dia pikir aku suka setiap saat mengkhawatirkan keadaannya, keluarganya itu orang gila semua, terutama Margarita itu.
Dia diam menerima kemarahanku. Menatapku dengan sungguh-sungguh.
"Aku akan baik-baik saja oke. Sejak kau membelaku saat itu, aku tak akan pernah kalah lagi, aku tahu membela diri sekarang." Aku menganggap dia sudah menang. Aku hanya tak ingin dia meladeni mereka.
"Buat apa kau berebut dengan mereka, kau sudah punya banyak hal disini, kau sudah punya bisnis di Rusia, kau sudah punya aku, Ayahmu sudah mengakuimu, kenapa kau tak menyerahkannya dan kita hidup dengan damai di sini." Bukan sekali aku mengatakan ini saat mereka mengirim orang untuk menabrak kami aku juga sudah mengatakannya.
"Sayang aku tak akan apa-apa. Ini perlu untukku karena aku sudah berjanji kepada diri sendiri. Aku tak apa ini hanya goresan kecil. Laki-laki itu perlu berjuang. Kejadian seperti ini tak akan berpengaruh apapun. Maaf membuatmu khawatir." Aku tak bisa bertahan dengan permintaan maafnya, tapi di saat yang sama aku juga ingin mengamuk padanya dan memintanya berhenti.
\=\=\=\=\=
"Sayang, sudah kubilang aku tak apa, aku merindukanmu. Maaf aku sibuk sekali belakangan, aku sudah bertemu dengan orang yang bisa membantuku di lelang faselitas labku. Dikenalkan oleh Gillian, dia benar membantuku."
"Bagus jika begitu..." Sejenak aku terkunci di matanya. Menatap wajahnya yang terluka. Alexsey tak akan mendengarkan aku, Moskow terlalu penting baginya . Aku tak bisa menariknya dari sana.
"Bagaimana harimu belakangan?"
"Baik, tidak ada yang terlalu istimewa."
"Aku merindukanmu Moon." Aku sedikit tersenyum, Mafia Rusia ini sekarang bersikap manis padaku. Sudah seminggu ini dia pergi ke US dan meninggalkan Montreal, belakangan dia sangat sibuk. Anna bahkan mengirimiku jadwalnya jadi aku bisa melihatnya.
"Kau sibuk sekali di US?" Dia pergi dari awal minggu ini ke sana.
"Kantor sudah buka sepenuhnya, walaupun namanya baru tapi orangnya semua lama, kami sedang mengejar volume penjualan, aku menaikkan diskon dan insentif, bertemu beberapa pelanggan lama, jika penjualan naik, maka faselitas produksi harus didapatkan lagi. Faselitas produksi di Kanada yang sekarang tidak akan cukup. Plus kami sudah punya pasar baru di Mexico." Dia dengan bersemangat mengatakan semua yang sedang dikejarnya padaku.
"Kelihatannya itu perkembangan yang sangat baik."
"Ayah memberi tugas aku harus segera memulihkan lagi kekacauan yang kubuat, tapi sekarang volume penjualan sudah hampir 80%, akan meningkat lagi kurasa tahun pertama ini aku akan berhasil memulihkan 90-100%. Itu cukup sesuai dengan target pribadi." Walaupun dia disini, nampaknya pikirannya terus bekerja dan gangguan dari keluarganya ini, dia terlalu keras dengan dirinya sendiri.
"Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Apa sebenarnya yang kau kejar."
"Aku baik-baik saja. Ritme kerjaku memang begini." Dia tersenyum padaku.
"Ini tidak baik-baik saja." Aku menunjuk bekas merah perkelahian di wajahnya. "Apa lagi yang kau lakukan sehingga membuat Sergie marah?" Dia memutar matanya, dan meringis, nampaknya tidak ingin mengatakannya padaku. "Ayo katakan padaku apa yang kau lakukan! Apa kau sengaja mencari masalah dengannya, bukankah dia sudah diperingatkan Ayahmu?!" Alexsey tertawa sekarang.