BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 26. First Mission, Good Job Soldier! (1)


"Helicopter CDC jatuh! Noah, Jen bawa peralatan kalian dan ikut regu Andrew!" Tiba-tiba mayor Joseph  masuk ke ruangan ER dan memerintahkan kami masuk ke dalam tim khusus.


"Helinya sudah akan berangkat..."


"Ayo Jen..." kami langsung ke bagian peralatan dan mengambil pack ransel dan perlengkapan paramedic kami, berlari ke helikopter yang akan segera berangkat.


Aku melihat DeAngelo melambai ke kami. Dan kami segera masuk ke heli transport personel Bell UH-1 yang membawa kami.


Ini pasti helicopter yang membawa ahli dari CDC, untuk melihat kesimpulan baru kami terhadap data pasien yang baru kami temukan dan mengambil contoh parasit varian baru ini.


"Kita akan pergi sejauh kurang lebih 55 mil ke timur , mereka mendarat darurat karena kerusakan mesin di sebuah lahan pertanian. Lokasi mereka belum jelas karena komunikasi  terputus. Kita akan melihat dimana mereka mendarat ..." Andrew menjelaskan setelah kami memakai headset.


Tujuh orang anggotanya ikut semua dalam penyelamatan ini. Kami mengudara kurang lebih dua puluh lima menit mencari tanda keberadaan mereka sebelum kami melihat tanda asap hitam di udara.



Helikopter mereka jatuh ke dekat pepohonan, mesinnya bagian atasnya terlihat masih berasap.  Dan nampaknya tidak ada orang disana. Helikopter kami mendarat di sana. Tampaknya tak ada orang. Kemana mereka.


"Mereka tak mungkin pergi jauh.... Mereka tahu kita akan mencari mereka didekat jatuhnya heli mereka." Sean petugas komunikasi bicara, sementara kami melihat daerah sekeliling kami.


Padang rumput pendek dan pepohonan jarang ada diseliling kami. Dikejauhan terlihat sebuah rumah pertanian yang dikelilingi pagar tinggi.


Para prajurit mencari tanda keberadaan mereka. Noda darah, jejak kaki yang bisa menyimpulkan kemana mereka pergi.


"Rumput sebelah sana sepertinya banyak terinjak ... Apa mereka dikejar banyak infected kelaparan. Disana ada rumah pertanian..."


Para prajurit berjalan lebih jauh ke arah sana dan nampaknya  menemukan sesuatu.


"Ada darah dì arah sini..." Berarti benar mereka kearah sana. Seorang prajurit yang kutahu bernama Tommy memberikan tanda.


"Kita ikuti..." Kami mengikuti langkah para prajurit. Mungkin kurang lebih kami harus menempuh satu kilometer untuk mencapai rumah didepan sana. Sementara helikopter menandai lokasi kami dan terbang kembali ke pangkalan. Dan petugas komunikasi menyelesaikan laporan keadaan kami ke control misi.


Udara panas membayangi langkah kami. Bagi para prajurit mungkin ini biasa. Tapi kepalaku sudah berdenyut sakit dibawah terik matahari.


Kami berjalan hampir lima belas menit ke arah rumah itu. Dan kemudian seseorang menangkap bayangan dari lensa teropongnya.


"Di halaman belakangnya sepertinya banyak infected. Tapi aku hanya melihat sedikit karena terhalang bangunan dan pepohonan."


"Baik, Tommy, DeAngelo, Sean  periksa. Yang lain kita menunggu di pepohonan itu dan jaga kepala kalian rendah." Akhirnya kami bisa berteduh. Noah dan aku langsung mengambil persedian minum kami dan duduk minum, keringat menyebabkan kami seperti mandi di dalam seragam tebal kami.


Kami menunggu dalam diam. Sementara tim pengintau mengambil jalan memutar untuk memeriksa keadaan seluruh rumah yang banyak ditutupi pepohonan disekelilingnya itu.



Kurang lebih sepuluh menit orang  pertama mulai memberikan laporan. Di sini matahari masih panas tapi langit mengelap di kejauhan sepertinya akan ada hujan datang.


"Aku melihat setidaknya empat puluh infected berkeliaran di halaman belakang."


"Sean?"


"Aku punya clear shot. Aku dan Tommy bisa mengurangi populasi mereka."  Dean dan Tommy membawa senjata laras panjang. Mereka adalah penembak jitu. Mereka bisa mengurangi jumlah yang harus kami hadapi tanpa harus kontak jarak dekat.


"Lakukan... Kami akan mendekat setelah mendapat tanda dari kalian." Desingan tembakan terdengar kemudian berkali-kali. Mereka sedang menembaki infected yang bisa mereka jangkau.


Aku melihat ke arah barat dari rumah itu. Ada bayangan bergerak kejauhan yang bisa kuamati, tapi aku tak yakin apakah itu cuma bayangan matahari atau benar-benar ada orang.


"Suara tembakan memicu semua dari mereka keluar..."


"Christ, Oliver di barat ada kurang lebih 10, bereskan itu dulu..." Sekarang setelah mereka melihat di binocular mereka mereka mulai bergerak.


"Kami rasa kami sudah membereskan disini boss..." Rentetan tembakan berhenti kemudian. Tapi sisi barat baru dimulai.


"Kita maju..." Tampaknya sudah aman. Kecuali tiba-tiba ada lagi yang mendengar dan datang. Kami semua mendekati rumah pertanian yang cukup besar itu. Sapi-sapi itu dibiarkan mencari makan di padang rumput di kejauhan begitu saja. Tak ada yang berniat makan sapi sekarang.


Belum sampai sepuluh meter kami akan mendekati rumah tua itu, seseorang membuka pintu.


"Tolong kami!" Seorang wanita melambai dan membuat kami berlari lebih cepat kedepan.


"Kalian dikirim menyelamatkan kami untunglah." Mereka pasti dokter-dokter infeksi dari CDC. 


"Pilotnya terluka, kami dikejar banyak infected, tadi hampir saja kami tidak bisa mencapai rumah ini." Aku   dan Noah masuk sementara Andrew tetap berada diluar untuk mengawasi keadaan."


Kami masuk ke ruangan, ruangan depan rumah itu didominasi dengan warna coklat bata berisi sofa kain gelap dan meja kayu, dan banyak lemari-lemari kayu besar dengan hiasan tanduk rusa.


Ada enam orang, dua pilot, tiga petugas CDC dan satu keamanan disana. Kakinya tampaknya patah dan satu lagi tampak terluka kepalanya. Mereka duduk di lantai sambil bersender di dinding.


"Fraktur Tibia, closed... " Noah mengambil papan dan kami menilai posisi kaki sebelum melakukan peletakan papan untuk menstabilkan posisi kaki untuk mobilisasi ke heli nanti. Lalu mengikatnya dengan perban agar posisinya tidak lari.



"Kalian dokter? Kalian tidak membawa tas first air kalian,..." Aku bertanya kepada mereka. Dua orang perempuan dan satu orang laki-laki. Sementara pilot dan co pilot kami terluka.


"Kami Infectious Disease Specialist, kami membawanya tapi tidak sempat membawanya karena saat kami mendarat darurat sekeliling kami sudah penuh infected."



Pasien kami tampaknya sangat kesakitan, aku memgambil kit auto injector kami IZAS-05, ini adalah kit khusus yang dibawa setiap prajurit medic untuk pertolongan pertama entah dari racun atau melawan sakit yang teramat.  Aku mengambil suntikan merah dan menghunjamkannya ke pahanya tanpa peringatan. Isinya adalah morphine sulphate untuk membantunya menahan sakit. 


"Thanks mam..."


Kami memeriksa satu orang lagi. Dia bersandar di dinding darah cukup banyak membasahi bajunya. Walaupun kepalanya sudah diperban.


"Tadi dia terkena pecahan kaca cukup besar, keningnya robek tapi darahnya sudah berhenti.Dia perlu banyak jahitan."


"Aku butuh jarum jahit..." Dia masih bisa bercanda. Aku dengan cepat memeriksa suhu dan tekanan darahnya. Sedikit dibawah normal, tapi tidak ada penurunan suhu tubuh, pernapasan dan detak jantungnya masih normal. Dia akan  baik-baik saja walaupun dia perlu banyak  jahitan.


"Evac!" Aku berteriak pada Andrew.


"Ready!" Mereka berbicara di alat komunikasi untuk meminta evakuasi. Sementara aku memasang infus untuknya untuk mencegah dia tidak sampai Hypovolemic Shock, shock yang terjadi karena kau kehilangan 30% cairan tubuh dalam hal ini darahmu. Dan dokter CDC membantuku memegangnya infusnya.


Tiba-tiba terdengar banyak tembakan senjata semi otomatis. Apa yang terjadi, bukankah kami sudah membereskan banyak infected disini.


"Ada ratusan memuju kesini!" Di kejauhan ratusan infected berlari kearah kami.


"Oh my God!"  Aku melihat kami seperti dikepung.


bersambung ke part 2