
"Aku takut patah hati, karena dia akan kembali ke Moskow. Walau dia sendiri bilang belum pasti dia akan kembali,.."
"Masalah dia akan kembali ke Moskow atau tidak adalah persoalan untuk ditangani nanti. Jadi sekarang kau akan membiarkan dirimu memegang angin kosong saja, tenggelam dalam perasaanmu sendiri begini. Bukankah itu sangat meyiksa? Kalian saling menyukai mengapa begitu rumit?" Eliza bertanya padaku. Iya kenapa harus begitu rumit.
"Hmm...aku tak tahu..Kurasa aku takut patah hati, tapi aku ingin bersamanya juga, kau benar aku tak bisa memilih apa aku akan jatuh cinta padanya atau tidak.
"Berada di dekatnya menyenangkan bukan? Apa menurutmu dia baik padamu selama ini."
"Iya, dia sangat baik."
"Kalau begitu apa yang kau tunggu? Merindukam seseorang itu menyiksa diri, temui dia, jika kau merasa senang berada di dekatnya, katakan padanya kau menyukainya. Kenapa kau jadi penakut begini."
"Berada di dekatnya?"
"Bukankah itu yang kau inginkan."
"Jika benar dia akan pergi, bukankah aku akan menangis lagi."
"Kau juga akan menangis jika menahan rindu seperti ini bukan. Kenapa tak pergi membicarakannya dulu, kau sendiri yang bilang dia belum tentu akan ke Moskow."
"Jadi aku harus menemuinya..."
"Jelas kau harus lebih sering menemuinya, apa kau ingin merindukannya dalam diam saja. Itu sungguh bodoh dan menyiksa diri. Kalian berdua itu saling menyukai. Cinta akan menemukan jalan untuk bersama."
Aku bertopang dagu berpikir. Eliza dan Gillian juga melewati berbagai macam hal untuk dapat bersama. Mungkinkah aku dan Alexsey akhirnya bisa bersama. Aku tak ingin pindah ke Moskow.
Cinta akan menemukan jalan untuk bersama. Benarkah? Mungkin aku memang terlalu mengkhawatirkan banyak hal terlalu awal? Mungkin aku bisa membujuknya untuk tak pergi.
\=\=\=\=\=\=\=
307 Avenue Carlyle,
Kurada aku tak bisa mengatur dengan siapa aku akan jatuh cinta.
Akhir pekan ini setelah menutup butik aku tak tahu harus kemana, ini masih jam enam sore dan aku berakhir di lingkungan ini, ini memang tak terlalu jauh dari butikku.
Aku mengemudi lambat melewati rumahnya sebelum aku di kejutkan oleh klakson di belakangku. Aku melihat ke spion belakang. Sedan itu? Bukankah itu mobil Alexsey.
Sial. Benar, itu mobil Alexsey bersama pengawalnya. Dia menjejeriku di samping. Dia mungkin hapal mobil yang sering kubawa. Kenapa ini memalukan sekali,...
"Itu benar kau? Kenapa tak masuk?" Dia menurunkan kaca dan bertanya.
"Aku hanya lewat, tadi aku ke rumah teman di Portland Avenue,...." aku menyebutkan jalan rumah teman kakak yang kutahu di sini. Aku bahkan tak tahu dimana tempatnya, otakku langsung bekerja mengarang alasan aku terdampar di sini.
"Karena kau sudah di sini masuklah sebentar. Ayo memutar di depan. Ikuti aku." Dan terpaksa aku mengikutinya sekarang, kenapa aku bisa tertangkap dengan memalukan seperti ini.
"Kebetulan sekali, kau harusnya mengatakan padaku kau ada di sini. Ayo masuklah." Dia jelas-jelas kelihatan senang aku ada di sini. Aku mengikutinya masuk dengan canggung.
"Aku takut menggangumu."
"Aku berharap kau akan kesini ketika mengatakan alamat rumahku. Butikmu tak jauh dari sini."
Aku masuk ke rumah luas itu. Dia langsung mengajakku masuk ke family room yang terasa homey dengan wangi masakan dari dapur.
"Apa aku tak menganggumu."
"Tidak tentu saja. Kau sudah makan malam?" Dia bahkan tidak bertanya kenapa aku bisa berasa di.depan rumahnya, mungkin dia tak perduli dan menganggapnya kebetulan yang menyenangkan.
"Belum."
"Kalau begitu makan malam di sini oke, aku memasak untukmu?"