
"Besok kau boleh bertemu dokternya jika tak percaya." Dia membalas kata-kataku dengan ringan dan meneruskan makannya. "Ini enak sekali, kenapa makanan hari ini rasanya enak sekali. Besok kau boleh membeli ini lagi." Kemudian dia malah mengalihkan pembicaraan. Aku langsung memicingkan mataku. Aku langsung tak percaya dokter berkata begitu. Itu hanya akal-akalannya, bukan aku tak pernah tahu bagaimana dia mengakali orang. Terlalu sering kami bernegosiasi bersama.
Tapi aku tak akan mengatakan padanya sekarang. Dia akan mengelak dan membuat alasan lain. Besok aku akan menemui dokternya langsung. Beberapa hari ini aku memang tak bertemu dengan dokternya langsung karena banyak pekerjaaan.
"Aku akan membelinya lagi nanti." Aku mengiyakan saja perkataannya.
"Orang yang menembakku sudah akan di sidang?"
"Mereka akan menanganinya, kau tak usah khawatir. Dia akan dihukum dengan sepantasnya. Aku sudah melihat berkas tuntutan jaksa."
"Hmm baguslah, orang gila seperti itu memang harus di pastikan mendapat hukumannya." Aku tak akan melepaskannya, dia yang mencuri dariku, dan malah berpikir untuk mengambil nyawaku. Aku menghajarnya sendiri saat bertemu tadi siang. Aku mengengam buku jari tanganku yang masih terasa sakit saat mengenai rahang orang itu sendiri.
"Kenapa tanganmu?" Tanpa aku sadar rupanya Andrew memperhatikan gerakanku.
"Ohh bukan apa-apa." Aku menyembunyikan tanganku, dia sudah terlanjur melihatnya. Aku tahu itu percuma.
"Kau berkelahi? Menghajar seseorang?" Bukan sekali dia dan kakakku memisahkan aku yang berkelahi dengan barbar. Aku berdar*ah pan*as dan menghajar sendiri musuhku, itu yang diketahui semua orang.
"Tidak. Habiskan saja makananmu."
"Eliz..." Aku tak memperdulikan panggilannya. Dalam kondisi normal dia akan mengejarku dan memaksaku mengaku. Tapi sekarang dia tak berdaya.
"Aku mau ke bawah mencari minuman."
"Kau tak usah mencari alasan. Siapa lagi yang kau ajak berkelahi."
"Ini bekas latihan dengan samsak. Aku tak berkelahi. Jelas cerewet. Aku mau mencari minuman manis di cafe bawah." Dengan itu aku menghindari pertanyaannya. Dia menghela napas waktu aku keluar kamar. Jika aku di sana dia akan bertanya di mana aku melihat samsak, sampai aku kehabisan jawaban untuk berbohong dan dia menang menyuruhku mengaku dengan gaya tengilnya, melipat tangannya di depan dada dan menungguku bicara dengan senyum sinisnya.
Aku tersenyum setelah bisa lolos darinya. Tiba-tiba aku menyadari bahwa selain Albert yang sering memarahiku jika aku kena masalah karena tak sabar dia juga sering melakukannya. Dia mengenalku karena terbiasa sekian lama tumbuh dan bekerja bersama.
Besoknya aku sengaja datang di jam kunjungan dokter sekitar jam 10.
"Kau datang siang sekali." Dia melihatku datang dengan makananku. Aku tersenyum kecil.
"Tak boleh? Kau mengusirku?" Dia melihatku dengan heran sekarang. Aku beruntung sang dokter muncul begitu aku datang.
"Perkembanganmu bagus. Aku akan tandatangan surat keluarmu besok."
"Dia bilang dia boleh langsung bekerja. Benarkah Dok?" Andrew melihat padaku, sekarang dia tahu apa alasanku datang kemari di jam 10.
"Aku tidak bilang begitu, kau harus tetap bedrest dan kontrol ke dokter di Montreal setidaknya 7 hari ke depan. Setelah itu kita lihat lagi." Sekarang giliranku melipat tangan ke depan dada. Andrew melihatku dengan pandangan mengajakku berdebat.
"Terima kasih Dok, akan saya pastikan dia mematuhinya." Aku tersenyum manis ke dokternya.
Begitu dokter keluar aku langsung mengangkat telepon ke Bibi di depannya langsung.
"Bibi, Andrew berencana bekerja saat tiba di Montreal, dia bahkan sudah membuat janji temu di kantornya, padahal dokter belum mengizinkan." Bibi langsung mengomel di telepon dan memastikan jadwalnya akan dibatalkan.
Andrew mengangkat tangannya tak berdaya, menghela napas panjang saat aku melapor ke Bibi. Aku tersenyum padanya dengan manis.
"Kau benar-benar...." Dia kehabisan kata-kata untuk melawanku.
"Aku pergi. Makananmu. Nanti malam aku ke sini lagi untuk membantumu membereskan barang-barang." Dia tak menjawabku, kesal aku melapor ke Ibunya tentu saja. "Istirahat yang baik." Aku masih menggodanya.
"Pergilah sana." Dia bahkan tak sudi melihatku.
"Siap Sir." Aku memberi hormat dan menghilang dengan senyum lebar.