
"Aku senang kau memilih waktu ini, di depan keluargaku, itu kejutan yang tak kusangka, kupikir kau akan melamarku secara pribadi. Tapi tak disangka kau berani melakukannya di depan keluargaku. Aku senang...sangat senang." Jenderalku itu menciumku dengan lembut mendengar jawabanku itu.
"Kau benar, aku sebenarnya ingin sebuah lamaran pribadi. Aku nyaman dengan cara seperti itu. Antara kau dan aku saja. Apa kau mau menikahiku wonder woman." Aku tak tahan untuk tak duduk di pangkuan dan mengunci tengkuknya untuk sebuah ciuman panjang yang nampaknya tak pernah berakhir.
Dan api mulai membakar kami, bara rindu yang tertahan di hari-hari kami tak bisa bertemu, dan membesar segera begitu kulit kami bisa bersentu*han.
Tak cukup sentuhan karena ada sesuatu yang harus dipuaskan dibawah tubuh kami, desakan yang harus segera di tuntaskan. Sementara tu*buhku mencandu dengan sentuhan dan pelukannya.
"Aku milikmu Jenderal." Tangannya memelukku dengan segera, napasku memburu ketika dia mengubah posisinya diatasku dan membuatku mengerang panjang dengan miliknya yang memenuhi inti tubuhku dan bibirnya yang mengembara di tubuhku. Berat tubuhnya dan sosoknya yang menguasaiku menjadi candu yang manis, pikiranku dan tubuhku terlalu mendamba dikuasai oleh sang Jenderal.
"Mungkin sekarang kita membuat bayi saja, kulakukan di dalam saja sayang." Aku tertawa dengan kata-kata itu. "Sayang aku serius." Mungkin dia tak sabar lagi ingin menjadi Ayah.
"Bolehkah aku jadi pengantin yang cantik dulu. Menikmati hari-hariku,... menikmati kita bisa bersama di banyak waktu." Dia melihat mataku yang sungguh-sungguh meminta.
"Hmm...sayang sekali, kalau begitu kita akan memilih tanggal tidak lebih dari tiga bulan. Kau harus segera pindah ke DC."
"Kau tak sabaran sekali."
"Aku sudah bersabar setahun sayang. Kurang sabar buatmu, sejak awal kau memang terlalu sering bermain dengan kesabaranku. Aku tak percaya aku terus membiarkanmu menang selama ini." Dia membuatku tertawa di tengah tekanan menyenangkan yang diberikannya padaku.
"Kau yang terbaik Jenderal. Kau boleh melakukannya kali ini, ini bukan masa suburku." Dia tidak bicara hanya napasnya yang memburu menyentuhku. Saat erangan panjangku terdengar dan tubuhku terasa melayang, dengusan napasnya menjadi berat dan dibawah sana menghangat.
"Sayang sekali, calon anak-anakku yang dibawah sana tidak akan menemui apapun." Sebuah komentar yang membuatmu meringis geli.
"Kau sepertinya sangat menginginkan bayi." Aku bertopang dagu dan kembali ke pelukannya setelah kami membersihkan diri.
"Calon Ayah yang bersemangat."
"Dan kau calon Ibunya, dan calon neneknya..."
"Jenderal, kita punya cerita seru ke anak-anak kita tentang bagaimana Ayah dan Ibunya menyelamatkan Nenek, Kakek dan Bibinya. Anak-anak akan bangga pada kita."
"Tentu saja ibunya wonder woman ayahnya Jenderal perang, siapa yang tidak bangga punya contoh semacam itu." Gilbert menghayal lebih banyak. Nampaknya banyak hal yang akan membuat semyum bahagia di masa depan.
"Dasar penghayal."
"Kita berkhayal yang bagus-bagus saja. Dan yang penting adalah kita tetap bersama menjadi teman mendukung satu sama lain, sampai nanti kita sama-sama tua dan renta."
"Menjadi tua bersama, nampaknya hal yang bagus." Aku setuju.
"Aku mencintaimu wonder woman."
"Aku mencintaimu Jenderal."
Dan begitulah kisah kami ditutup. Seperti sang superhero wonder woman yang perkasa menemukan sang komandan Steve Trevor, takdir menyatukan mereka, begitu juga takdir kami.
💙💙💙❤❤❤❤❤💙💙💙💙
ENDING
Besok lanjut Monica yah