BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 46. Sunflowers


Aku baru saja masuk ketika seorang kurir mengamtar sebuah bouquet bunga. Kali ini bunga kuning matahari besar. Astaga dia mengirimkan bunga lagi?


"Untuk Miss Monica, seperti biasa."


"Iya,terima kasih Ricardo.." Reception menerimanya dengan mudah karena sudah terlalu sering menerima bunga dari toko yang sama. Bahkan dia sudah hafal nama kurirnya.



Kali ini aku kembali terpesona dengan bunga besar itu, bunga matahari, cerah kuning, dibungkus kertas, diselingi baby breath putih dan carnation, dua-duanya adalah warna favoritku. Warna-warna cerah dibawah matahari musim panas.


"Nona kau ingin aku menyusunnya di vas?"


"Iya susun di vas."


Dan aku mengambil kartu yang datang bersama bunga itu. Membaca pesan singkatnya yang dia tuliskan seperti biasa. Kali ini aku sangat penasaran apa yang ditulis


...Selamat Pagi Svetluny .....


...Tetaplah menjadi sumber kehangatan seperti matahari...


...PS....


...Kau mau dipanggil matahari saja atau tetap bulan?...


Aku tertawa dengan pesan komedi itu. Kali ini bunga matahari, lain kali kurasa dia akan mengirim lumut, dan succulent dengan pesan, 'tetaplah berjuang seperti lumut ini nanti kau akan berbunga juga.'



Astaga apa yang salah dengan otakku pagi ini, harusnya aku tak memikirkan mafia rusia itu terlalu banyak. Tapi dia memang bersikap terlalu manis untuk bisa diabaikan.


Dia membalasku dengan emoji tertawa lebar.


"Kalau begitu selamat bekerja Svetluny. Kau akan tetap menjadi bulan, mungkin matahari terlalu panas." Balasan pesannya selalu sederhana. Tanpa rayuan, kata-kata sederhana yang kadang lebih membuat penasaran. Aku sekali lagi memandang penampakan bunga besar itu.


"Mafia Rusia, kau memang perayu ulung."


"Aku tidak merayumu, hanya mengatakan apa adanya." Dia membuat hariku menjadi terlalu cerah seperti bungq matahari ini.


Bunga itu memang membuat hariku indah hari ini. Aku tak bisa lepas memikirkannya beberapa hari kemudian setiap melihat bunga yang ada di ruang pamer itu.


Betapa aku tersanjung, dia bisa langsung memasang perisai dan menjadikan aku prioritas dari perkataan yang menyakitkan itu dan langsung membelaku. Bahkan mengajakku jalan-jalan setelahnya. Dia sangat manis.


Walaupun begitu, dia tetap pada kebiasaannya. Dia tidak pernah mengirimkan pesan atau telepon jika tidak ada yang penting, dan sekarang aku yang selalu teringat padanya, teringat pada pembicaraan kami.


Kurasa sekarang aku merindukannya tak bisa menghindar pada kenyataan aku mulai menyukainya. Aku teringat padanya tapi tak bisa bertemu dengannya karena aku takut banyak hal terjadi di depan. Ini sungguh menyiksa.


Aku melamun dan tidak fokus ke pembicaraan kami, saat Eliza datang, dia sedang menyiapkan pernikahannya dan sedang memilih beberapa detail padaku, sementara Eliza nampaknya memperhatikan kenapa aku sering tersenyum sendiri sekarang.


"Kenapa kau, kau tersenyum dan melamun seperti orang yang sedang jatuh cinta."


"Aku tidak melamun." Eliza yang menelisik wajahku dan aku tersenyum kembali padanya.


"Benarkah?" Kau jelas sering tersenyum sendiri hari ini. Katakan padaku apa yang terjadi padamu.


"Hmm...kurasa aku menyukai Alexsey, itu saja." Aku mengaku pada Eliza, dari yang dulu membencinya, menganggapnya playboy , dan segala yag buruk, sekarang menjadi menyukainya. Hati memang tak bisa diatur perasaannya. Masa depan memang tak bisa diramalkan.


"Kau menyukainya, kenapa tak mengatakan padanya, bukankah nampaknya dia juga menyukaimu.Sangat menyukaimu yang kutahu dari caranya memperlakukanmu..."