
Melihat kehancuran saham Theranos dan Elizabeth Holmes yang sudah masuk ke persidangan, aku tak bisa menahan diriku untuk mengucapkan selamat ke Sergie.
Dia mungkin tak menyangka aku tahu, apalagi berpikir aku yang membayar wartawan investigator itu. Tapi jika dipikir-pikir jika tidak aku pun yang membayar wartawan investigasi itu, cepat atau lambat juga seorang akan mengadukan hasil abnormal alat ajaib itu.
Aku tak akan terlalu bodoh memberitahu aku yang membayar wartawan investigator itu tentu saja, bisa-bisa dia mengirim agen pembunuh KGB untukku.
Jadi kali ini aku sengaja meneleponnya ketika semua pekerjaan sudah selesai. Hanya untuk memanasinya dan menertawakan kebodohannya.
"Apa yang kau inginkan." Sambutan yang tidak bagus langsung kuterima. Sepertinya dia tidak dalam situasi hati yang baik, tentu saja, siapa yang dalam kondisi baik ketika tahu sahamnya hampir bernilai 0 dan mustahil diselamatkan.
"Bagaimana kabarmu, Addams dan Conrad minggu ini? Nampaknya tidak begitu baik." Aku menyebut dua rekan bisnisnya yang kulihat di klub itu.
"Addams dan Conrad mana maksudmu. Aku tak mengerti." Dia masih berusaha mengelak.
"Kau tak mengerti. Baiklah Victor Conrad dan Charlie Addams yang merupakan investor utama Theranos. CEO kalian yang cantik, Elizabeth Holmes bagaimana kabarnya. Kau pikir aku tak tahu kau mengelontorkan uangmu untuk memborong saham Theranos untuk menyaingi investasiku di sini. Tapi sayabg sekali sekarang sahammu hampir tak punya nilai." Dia tak punya ruang untuk mengelak lagi sekarang.
"Kenapa kau ingin tahu apa ada hubungannya denganmu?"
"Memang tidak, hanya yang aku tahu, investasi kalian hampir habis minggu ini, Elizabeth Holmes sudah ditangkap. Bagaimana kau bisa terjerat investasi tak masuk akal seperti itu tanpa bertanya kepada ahlinya. Dua tetes darah untuk mendeteksi semua penyakit. Kau padahal punya unit udasa laboratorium juga di Perancis, apa tak ada yang memberikan sedikit saran padamu."
"Kau tak usah mengajariku bangs*at." Aku langsung menertawakannya ketika dia memanggilku bangsa*t.
"Itu uangku, bukan urusanmu."
"Ya baiklah, itu uangmu tapi nampaknya mengejarku akan semangkin jauh untukmu."
"Kau tak ingat kau juga merugi dalam jumlah besar di US? Jangan memuji dirimu sendiri, kau tidak lebih baik dariku."
"Aku sudah menebusnya dengan menemukan obat infected, apa kau tak mengerti perbedaan posisi kita? Dan lagipula, perusahaanku masih bisa bangkit ke nilai sebelumnya. Bukan sepertimu yang membakar uang investasi sia-sia. Sekaran nilainya sudah hampir 70% lagi, penjualan juga sudah hampir pulih sepenuhnya. Jadi nampaknya kau harus bekerja keras dalam beberapa tahun ke depan. Oh ya, tapi kuingat kau sudah menyerah dari kemarin." Aku masih bicara dengan nada gembira.
"Kau meneleponku hanya untuk menghinaku bukan."
"Benar sekali." Aku terbahak dan dia menyumpah.
Dia diam sekarang, nampaknya sudah kehilangan kata-kata untuk bicara denganku.
"Satu hari kau akan membayar ini." Dan dengan kata-kata ini dia menutup telepon. Nampaknya tak sanggup mendengar hinaan apapun lagi dariku.
Astaga, kau yang kalah. Tapi tak bisa membayar kekalahanmu, malah menuntut orang lain yang membayar. Sungguh tindakan yang sangat tidak bijaksana.
Anak manja yang hidup di ketiak Ibunya ini memalukan.