
Atlanta, kota metropolitan yang merupakan salah satu kota aman di pantai timur US, sementara New York, Miami, Virginia dan Philadelphia Boston di ujung utara dan selatan jatuh ke dalam zona hitam dan masih dalam proses pembersihan.
Georgia, Alabama, Carolina dan Tennese dengan kota-kota besarnya seperti Nashville, Charlote dan Raleigh di utara ditetapkan sebagai full green zone dan sekarang merupakan hub ekonomi dan produksi terpenting di pantai timur setelah New York di bagian utara dan Miami di selatan jatuh.
Aku tiba di kota itu dan melihat peradaban manusia berjalan, mobil-mobil ada yang masih berjalan, orang-orang masih ada yang bekerja di pusat kota, rasanya seperti harapan besar ada di depanku.
"Ini seperti kehidupan normal." Kami melewati bandara yang masih beroperasi, walau dipenuhi personil militer juga.
"Iya, lahan-lahan pertanian besar yang menyuplai makanan kebanyakan berada di bagian tengah east coast ini. Kebanyakan pengungsi di relokasi di sini dan mereka mengerjakan pertanian untuk supply militer dan kebutuhan banyak distrik yang meminta bantuan."
Aku masih bisa melihat mobil-mobil berlalu lalang di sini. Toko-toko makanan masih ada yang buka, walau kegiatan ekonomi tentunya dalam pengendalian pemerintah dan banyak orang meminta bantuan pekerjaan dengan imbalan makanan dan gaji seadanya tapi jauh lebih baik keadaannya dari kota perintis yang makan seadaannya sesuai dengan panen dan apa yang kami dapat.
"Kita dapat gaji disini?"
"Iya, pemerintah memberikan gaji untuk kita di kota ini." Memang tak seberapa, tapi sejak kondisi darurat ditetapkan uang jadi tak berharga karena tak ada yang bisa di beli dan aset bank dibekukan, hanya bisa mengandalkan kupon dan militer.
Tapi di wilayah green zone ini berbeda, uang masih berharga tapi harga semua barang di kontrol oleh pemerintah dan militer, dan bisa didapatkan dengan kupon jika kau tak punya uang, tidak ada yang boleh mengambil keuntungan dari kemalangan semua orang.
"Rasanya bisa membeli sesuatu lagi itu menyenangkan." Aku tersenyum senang, ya kembali ke peradaban itu menyenangkan.
"Kau benar."
Dan kami tiba di CDC Headquarters di Roybal Campus, Atlanta. Melapor untuk tugas kami, menerima ruangan tempat kami tinggal yang rupanya berada di komplek gedung yang bersebelahan jadi kami bisa berjalan kaki untuk bekerja dan tentu saja menerima uang saku kami.
"Besok kita langsung bertugas, rupanya dokter-dokter yang dipanggil dari wilayah sekitarnya juga sudah datang hari ini. Materi yang sudah kususun sedang diperbanyak, kau sudah mengerti semua materinya bukan."
"Sudah. Sayangnya aku bukan dokter, jika aku dokter aku sudah pasti memimpin kelas sendiri."
"Mereka pasti bertanya padamu, karena kau yang mengawasi pasien 24 jam. Ada beberapa waktu aku harus mengambil waktu untuk menangani kegawatan lain."
Kami berjalan-jalan di kota itu beberapa saat, pengamanan ketat oleh polisi dan militer untuk menjaga ketertipan. Kebanyakan yang ada di sini adalah wanita dan anak-anak, para pria bekerja di lahan pertanian di luar kota, untuk memperoleh kupon bagi anak dan istri mereka dan sedikit uang di masa yang masih sulit ini.
Mal mewah semuanya tutup, untuk menghemat energi plus orang tidak punya kemampuan membeli, yang ada hanya penjual pakaian dari pabrik garment, makanan buatan sendiri, di sebuah daerah yang serupa pasar sederhana yang tersebar di beberapa penjuru kota.
Kami membelanjakan sedikit uang kami untuk sesuatu yang kami inginkan. Setahun ini kami sama sekali tak pernah membeli apapun nyatanya. Mendapatkan donat manis salut gula sederhana adalah kemewahan.
Saat sore menjelang malam, bus-bus pengangkut mengangkut kembali pekerja dan memasuki kota. Ada pemandangan yang sama dengan tempat kami di Hot Spring.
Aku melihat makananku dengan takjub. Bahkan mereka punya sosis, dan daging dan salad yang enak.
"Makanlah, kenapa kau melihat makananmu seperti itu."
"Ini makanan mewah." James tersenyum.
"Iya dua bulan lalu aku ke Atlanta aku melakukan hal yang sama, menatap makananku dan bersyukur." Dia tertawa. "Tapi tidak semua dapur umum makanannya seperti ini, dapur umum kita ini termasuk istimewa, karena kita yang bekerja di garis depan."
"Ini sangat layak disyukuri, tapi di Hot Spring saja dulu masih punya makanan, tidak pernah tidur kelaparan membuatku bersyukur, aku banyak mendengar cerita sedih pengungsi yang datang."
"Dokter James, kau akhirnya kembali ke sini." Seorang dokter wanita cantik, dari jasnya, tag namanya mengisyaratkan dia bekerja di sini. Dan nampaknya posisinya cukup tinggi.
"Michelle, senang bertemu denganmu lagi. Ita aku sudah selesai memindahkan tanggung jawab ke dokter pengganti seperti yang kubilang."Oh ya ini assitenku, perawat Jennifer Gothard, dia yang kuminta ikut sebagai assistenku, Jen, ini Michelle, assisten profesor Hank Johnson yang mengembangkan obat anti parasitnya.
"Hallo senang bertemu denganmu Nona Michelle."
"Senang bertemu denganmu juga Nona Jen."
"Kalian orang yang berhasil menanganinya pertama kali, apalagi ini dua orang. Kami sangat membutuhkan kalian di sini, walaupun perjalanan obat ini masih panjang , kami sangat senang ada yang sembuh untuk pertama kalinya."
Dokter cantik yang ramah. Dia menemani kami makan malam saat pertama kami. Tapi satu hal yang kutangkap dia terpesona ke James seperti wanita lain. Aku sudah terbiasa jika menangkap pandangan seperti itu di sekitar James sejak di El Paso. Bahkan aku ingat dulu pernah
"Michelle terpesona olehmu." Dia meringis saja menanggapiku. Dia juga mungkin sudah terbiasa di kagumi seperti itu.
"Biarkan saja."
"Sudah berapa wanita yang mengenalmu di sini?"
"Ehm sebenarnya cukup banyak."
"Sudah kuduga, harusnya aku menjual nomor.teleponmu saja untuk mendapatkan tambahan uang jajan."
"Kau memang assiten kurang ajar."
"Kita bagi dua saja kalau begitu." Dia malah tertawa.
Susan bilang aku harus menggodanya. Aku bingung karena sudah terbiasa di dekatnya. Aku malah takut dia jadi tak nyaman jika aku menggodanya. Sebenarnya aku tak tahu bagaimana memulainya sama sekali. Rasanya sudah terlalu nyaman seperti ini.
Bagaimana aku bisa memulai menggoda orang yang rasanya seperti kakakku sendiri.