
Investment Board menyetujui skema investasinya. Sementara pemerintah Kanada juga sudah menyetujui semua syarat bantuan ke US. Kami segera akan menandatangani kesepakatan.
Yang berarti aku akan melihat lagi Komandan Gillian yang tampan itu, ...well mungkin sekarang dia bintang 3, aku bisa memanggilnya General.
"Kenapa kau tersenyum begitu Nona Dugard?" Adikku melihatku dengan penasaran sekarang. Adik cantik tersayangku itu, melekat padaku seperti aku Mommy tersayangnya. Apalagi setelah aku menyelamatkannya, yang diingatnya pertama adalah aku.
Monica..., punya semua ciri-ciri Mom, rambut tebal gelap misterius, wajah seperti dewi yunani, tubuh indah semampai, dia benar-benar seperti dewi Olympus.
Bukan hal aneh jika seseorang bertemu dengannya orang itu akan terpaku padanya. Sementara aku aku mengikuti garis keluarga Ayah, tidak ada yang mengatakan aku jelek tapi jika harus dibandingkan dengan adikku jelas perbedaan kami sangat kentara.
Ayahku yang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Ibuku, aku bisa mengatakan pria banyak yang tergila-gila padanya tanpa dia perlu berusaha dan kadang itu membuatnya terganggu. Aku dan Kakakku melindunginya seperti kami melindungi Mom. Mereka berdua adalah permata keluarga. Gadis 28 tahun itu sekarang bosan di Montreal, dia bekerja pada profesi model dan pemain film, industri ini sama sekali belum pulih, dia melewatkan waktunya mengelola butik fashion yang dipunyainya sekarang.
"Tidak ada apa-apa." Aku tersenyum padanya.
"Kakak tersayang kau sedang sakit?"
"Siapa yang sakit?!"
"Sakit jatuh cinta." Dia tertawa sekarang menggodaku. "Katakan padaku siapa yang membuatmu tersenyum seperti orang gila begitu." Aku mengulum senyumku. Aku memang memikirkan Gillian sejak kepulanganku ke Montreal. Kurasa dia sudah melakukan banyak hal untuk kami.
"Jenderal yang menyelamatkan kita, jika tidak ada dia mungkin kita tak bisa berkumpul begini." Aku memberitahunya sekarang, apa yang ada dalam pikiranku. Aku memang memikirkan Gilbert.
"Jenderal? Dia sudah tua berarti? Kakak aku tak menyangka seleramu...." Adikku menggelengkan kepalanya. Aku langsung mengetuk keningnya.
"Kau sembarangan, dia baru berusia 38 tahun, itu tidak tua..." Kukatakan sesuatu tentang Gilbert Gillian yang kutahu.
"38 Jenderal? Wow maksudmu 38 tahun bintang tiga? Sangat mengagumkan? Kau bicara General di US Army bukan?"
"Seseorang yang kau sebut Komandan Gillian itu? Apa orang yang sama, tapi kau bilang dia Komandan."
"Dia orang yang sama. Iya, dia sekarang sudah bintang tiga."
"Dia tampan Kakak?"
"Hmm..." Tentu saja dia tampan.
"Aku penasaran siapa yang bisa menggerakkanmu begitu jauh. Biasanya kau menganggap orang tampan sebagai hiasan ruangan. Kau punya fotonya."
"Kau pikir dia artis, bagaimana aku punya fotonya." Adikku tertawa. "Aku akan tanda tangan kesepakatan perdagangan dengannya di Ottawa minggu depan, kau mau ikut." Kakakku Albert, memindahkan pusat perusahaan di Montreal sekarang, tadinya kami semua berada di Toronto.
Aku akan bertemu dengan Gillian lagi, aku menantikan ini.
"Boleh, aku ingin mengintip Jenderal yang kau bangga-banggakan itu. Aku juga bosan di sini tak ada yang bisa kukerjakan. Butikku masih sepi." Monica membuatku tertawa.
"Ikutlah Minggu depan, kau akan bisa melihatnya. Sebenarnya yaa dibanding teman-temanmu dia masih kalah."
"Tapi menang di matamu." Adikku tertawa menggodaku. " Seperti yang kubilang teman-temanku hanya kau anggap hiasan ruangan, tapi untuk mengambil hatimu, perlu kekuasaan tak terbatas dan minimal bintang tiga." Adikku tambah jadi menggodaku.
"Diamlah, jika kau berisik di sana aku akan memulangkanmu." Aku mengancamnya dan akan mencubitnya dengan gemas jika dia melanjutkan acara menggodanya.
"Aku tak berani. Takut dengan Jenderal bintang tiga." Dia membuatku tertawa.
Aku menantikan saat bertemu dengannya lagi. Minggu depan rasanya panjang sekali. Dia selalu baik padaku, kadang kupikir dia mungkin punya hati padaku.
Mungkin jika aku menggodanya dia akan menanggapi? Kelihatannnya dia bukan orang yang gampang di goda.