
Matahari pagi sudah di cakrawala. Kami sudah bangun oleh remang cahaya.
Sarapan ternyata sudah siap walau hanya sederhana seperti biasa. Kesibukan dimulai, terlihat tiga pemimpin tertinggi di kota ini makan bersama, satu kepala batallion, kepala kota, dan kepala medis. Kota akan segera berdiri.
Memang jika dilihat dari ketinggian ini kota yang indah. Selain sumber mata air panas yang menjadikan kota ini sebagai kota resort, juga pegunungan yang merupakan taman nasional, area hiking yang sering dikunjungi pecinta alam. Selain itu udaranya juga nyaman.
"Kau jadi naik ke atas?"
"Belum tahu, Dokter James yang akan bicara. Begitu ada perintah aku akan jalan. Kurasa aku akan membantu kalian disini dulu. Suamimu tak ikut sarapan?"
"Ohh dia sudah menangani pasukan pagi-pagi sekali. Mereka sudah duluan kurasa."
Kami sibuk kemudian. Membereskan persediaan, obat-obatan ward perawatan, sementara para dokter mengecek sendiri dan membereskan ruang operasi, peralatan yang mereka butuhkan saat operasi. Tak ada banyak orang disini, situasi darurat semua orang bekerja mandiri dan berusaha membereskan banyak hal untuk menolong orang.
Setelah jam makan siang kami mulai menerima pasien, sementara prajurit medis sekarang menjadi perawat di bangsal perawatan. Mereka jadi intern perawat sekarang. Kami senang punya banyak intern yang bisa kami perintah walaupun intern baru juga berarti kekacauan. Hari ini melelahkan.
"Bagaimana harimu." Andrew bergabung saat kami makan malam.
"Ohh, hari pertama cukup banyak kekacauan yang dibereskan, tapi demi kota indah ini, kita akan lakukan."
"Ya ini kota yang indah. Semoga kita mempertahankannya tetap indah. Besok kami akan mulai membangun penghalang di timur? Lahan pertanian akan diperluas, kita akan mulai mengumumkan kita dalam list kota aman. Di atas juga kita punya pertanian."
"Ada berapa kota aman di US?"
"Selamat atas pengangkatanmu sebagai walikota militer." Dia tersenyum.
"Masih panjang, aku belum membuktikan diriku. Masih banyak tugas ke depan. Senang kau ada di sini juga." Aku memandangnya, maksudnya dia senang aku disini? Dia ingin aku bersamanya?
"Maksudmu...?" Dia tersenyum kecil.
"Aku senang kau bisa membantuku. Mungkin merasa kau seperti sebuah keberuntungan." Aku tertawa kecil.
"Aku keberuntungan?"
"Lagipula kau cocok dengan kota indah ini. Sama indahnya." Aku meringis, kenapa aku merasa dia sedang merayuku.
"Kau sedang membaca buku puisi belakangan. Kenapa kau jadi suka mengucapkan kata-kata indah. Apa mungkin kau tertular D'Angelo. Dia tertawa.
"Mungkin juga aku banyak belajar darinya kurasa. Lihatlah mereka berdua, dunia sudah milik mereka saja sekarang." Aku melihat ke arah Andrew menunjuk. Mereka sedang makan dan menatap satu sama lain. Dunia memang seperti milik mereka saja.
"Kau benar, dunia memang sedang jadi milik mereka. Ada juga hal seperti itu sekarang." Sedangkan aku seperti kebanyakan yang lainnya sedang berusaha menerima kenyataan bahwa kami sudah kehilangan seseorang yang berharga.
"Ada pelangi sehabis hujan, walaupin nanti mungkin ada badai lagi. Tapi tak selamanya."
"Kau memang kebanyakan membaca buku puisi." Aku tertawa sekarang dan dia tersenyum sendiri.
Hari di kota ini masih panjang, tapi ada yang menganggapku sebagai keberuntungan. Kurasa itu pertanda cukup baik.
bersambung besok....