BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 42. The Forbes List



POV Gilbert


Dia menerimaku. Itu cukup, aku menjalani hari-hari lebih bersemangat sekarang. Tapi masih banyak yang harus dikerjakan terutama membuat impresi baik di depan Albert.


"Sir, Nona Laura datang, kau mau menerimanya?" Sebuah intercom datang ke mejaku.


"Tidak."


"Tapi dia datang bersama Ayahnya sekarang Sir. Yang ingin bertemu adalah Ayahnya." Setelah selalu kutolak jika dia datang sekarang dia mengganti senjatanya sendiri. Sungguh bagus.


"Dalam sepuluh menit kau harus masuk ke ruang dan mengingatkan aku bahwa ada meeting."


"Mengerti Sir."


Ayahnya adalah orang yang dekat dengan pemerintah dan militer juga. Walaupun belakangan dia menderita kerugian besar, tapi daya juangnya masih menggebu. Dan dia sahabat Ayah, aku tak bisa mengabaikannya secara langsung seperti putrinya.


"Gilbert, bagaimana kabarmu? Kudengar kau baru kembali dari Montreal untuk menemui investor utama."


"Paman, aku baik seperti biasa. Iya, kami dalam dua minggu akan membawa tim lagi ke sana. Tapi mereka tertarik dengan ide kita, presentasi lebih resmi sedang di susun."


"Itu bagus, walaupun Paman tak bisa bergabung banyak tapi Paman tetap akan ikut kali ini. Ohh ya Laura nanti akan ikut ke Montreal boleh satu penerbangan, dia masih takut untuk pergi sendiri ke manapun. Dia akan mengunjungi Bibinya di sana."


"Ohh... " Terpaksa aku harus menempel bersamanya di penerbangan. Menyusahkan saja. Jika Ayahnya tahu dia pernah menghinaku begitu rupa dia tak akan berani muncul lagi di depanku. Seharusnya kubicarakan saja.


"Tak apa bukan Gilbert."


"Tak apa Paman, tapi aku tak bisa menemani jadwalku padat di sana. Jika Paman mau aku bisa menugaskan seseorang nanti." Laura sendiri diam di belakang Ayahnya, kenapa dia tak katakan sendiri kami punya insiden yang gak bisa didamaikan dan harus melalui jalan bertele-tele ini. Dia tahu aku bahkan tak akan mau duduk dengannya semeja lagi.


"Iya tak apa. Asal dia sama hotelnya dengan kalian, di sana ada sepupunya yang bisa membawa dia ke mana-mana. Kau pergi kapan."


"Tanggal 25 pagi kami akan disana mungkin 3 hari."


"Baiklah. Ohh ya Paman mengundang Ayah dan Ibumu makan malam besok di rumah. Paman harap kau bisa ikut." Ibuku tahu kejadian itu , tapi tidak dengan Ayah, setelah masa-masa sulit dan sekarang karierku melambung sementara Laura belum menemukan yang cocok untuk kriteria mereka pembicaraan ini sekarang mengemuka lagi.


"Sayang sekali, Paman berharap kau bisa datang terakhirpun tak apa. Mengobrollah dengan Laura."


"Maaf sekali aku tak bisa Paman."


"Laura, kau tak ingin mengatakan sesuatu." Gadis itu melihatku dengan canggung, tak tahu apa yang dia katakan.


Kami sebenarnya sebelumnya tak punya masalah, hubungan kami cukup baik dia hanya berbeda 4 tahun dariku, kami tak masalah mengobrol karena keluarga kami sering mengunjungi satu sama lain bahkan sejak kami kecil.


Hanya suatu saat aku masih di bintang dua sebelum infected merajalela, kupikir dia sangat cantik dan aku mencoba mendekatinya dengan kebanggaanku . Biasanya aku tak punya masalah dengan siapapun gadis-gadis yang aku dekati, tapi aku salah dengan tipe putri mahal ini.


Aku mengajaknya makan malam di suatu akhir pekan. Dia saat itu mau, tapi dia tak mau dijemput. Dia mengajakku bertemu di sebuah restoran pinggir pantai mahal di Florida.


Tak apa, aku iyakan. Aku sampai ke restoran itu. Dia semeja dengan beberapa temannya mungkin saat itu ada belasan orang. Dia melambai kepadaku dengan wajah manis.


"Teman-teman, ini Komandan Gilbert Gillian. Temanku, kebetulan dia di sini. Aku kenal dengannya karena Ayahku dan Ayahnya adalah sahabat."


"Komandan, senang bertemu denganmu." Salah seorang pria yang nampaknya semacam 'kepala geng' menyapaku duluan. "Aku Adrian Russell, A&T Technology." Dari sejak dia menyebutkan nama perusahaannya aku punya firasat tidak enak. Dan itu berlanjut ke semua orang di meja itu menyebutkan perusahaan mereka dengan sombong.


"Gilbert Gillian." Aku hanya menyebutkan namaku.


"Kau nomor berapa Gillian." Adrian bertanya padaku.


"Maksudmu? Nomor apa?" Aku binggung.


"Daftar Forbes dari 1-2000 Global Company, kau nomor berapa? Semua orang di sini mempunyai nomornya masing." Aku terdiam.


"Kenapa? Kau tak punya?" Entah siapa yang bertanya setelahnya, aku tak ingin mengingatnya.


"Aku tahu, banyak komandan di dunia ini mungkin kau nomor 1 dari jutaan orang,..." Dan satu meja menertawakanku termasuk juga Laura. Kali ini aku merasa di tampar, mereka meremehkan tanda pangkatku.


"Hei, kalian jangan menertawakannya, dia mungkin punya majalah untuk membuktikan itu, kalian akan malu dengan bintang-bintang di bahunya itu." Satu lagi yang menanggapi dengan ramai dan yang lainnya saling berbisik dan tertawa.


Itu penghinaan yang tak akan kulupakan seumur hidupku.