BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 109. Winter Romance


Aku bisa mengatakan itu tidak ada hubungannya denganku. Tapi terus terang aku memikirkannya. Sebulan kemudian, operasi di Little Rock selesai, kami kembali ke Little Spring, makan malam pertamaku di tengah udara yang mangkin mendingin aku melihatnya hanya makan dengan beberapa koleganya sesama prajurit, dan juga beberapa hari kemudian.


"Susan, Andrew dan Bella benar-benar putus." Susan tidak ikut ke Little Rock, kupikir dia lebih baik di sini karena D'Angelo juga disini.


"Ohh kau mendengarnya juga ternyata."


"Iya Noah mengatakannya padaku sebelum kami pergi."


"Iya, kudengar dari D'Angelo mereka memang putus. Katanya Bella tak suka kesibukan Andrew yang terlalu padat. Kau tahu perluasan kota dan persiapan musim dingin membuat semua orang sibuk. Ada banyak bangunan baru yang dibangun di selatan kota. Belum lagi mengatur penduduk yang bertambah tiap harinya. Ada minimal puluhan yang masuk tiap hari."


"Ohh begitu."


"Kau tak berniat kembali padanya bukan." Susan bertanya dengan nada yang langsung tidak setuju.


"Tidak, aku hanya bertanya."


"Bagus, buat apa kau kembali padanya. Tak ada bagusnya, ingat dia yang mendorongmu keluar. Dimana harga dirimu jika menerimanya kembali." Ingat dia yang mendorongmu keluar, sebenarnya bukan dia, aku yang mendorongnya keluar. Karena kupikir kisahku dengan Fred bisa disamakan dengan kisahnya.


Apa aku harusnya berjuang mempertahankan hubungan kami saat itu. Satu hal yang pasti adalah, James akan menentang habis-habisan jika tahu aku bicara dengannya lagi. Kemarin dia hanya mendorongnya ke dinding, mungkin kali ini dia tak keberatan memberinya bogem mentah.


Aku menahan diri, kupikir ini hanya perasaan sementara. Nanti akan hilang, aku masih percaya waktu akan menghilangkannya.


Dua minggu aku kembali ke Hot Spring, salju turun. Segalanya memutih dan menjadi kelabu di pandanganku. Udara dingin, walaupun di faselitas kesehatan ini kami termasuk yang paling hangat, anak-anak pengungsi bermain diantara salju dengan baju-baju tebal mereka.



Andrew dan timnya memang bekerja keras membuat kota ini mencukupkan dirinya sendiri. Kami harus mengatakan manajemen kota ini tidak berada di tangan yang salah.


Bella seharusnya mendukungnya, bukan memberinya beban tambahan, pikiran itu tercetus begitu saja. Bukan urusanku tapi itu terbersit begitu saja saat ini.


Aku berjalan di selasar saat salju halus turun sore ini.


"Sendiri..." Sebuah suara membuatku menoleh. Andrew menyapaku dan membuatku terpaku sesaat melihatnya. Rasa itu kembali dengan cepat, membuatku memberikan senyumku untuknya.


"Iya." Lalu membuatku berpaling memandang ke depan lagi, karena dia membuat jantungku berdebar. Apa yang terjadi, apa rasa sakit disisihkan tak cukup untuk membuatku tetap membencinya.


"Apa aku menggangumu."


"Tidak, tak apa, hanya sudah lama tak melihat salju." Dia berdiri di sampingku tidak mencoba mendekat.


"Bagaimana tugasmu kemarin, sibuk?"


"Sebenarnya tidak. Hanya kami mendapat dua pasien yang akhirnya berhasil melewati lubang jarum pertama dengan obat eksperimental. Semua perhatian tertuju pada dua pasien itu. Rasanya seperti merayakan kemenangan besar ketika mereka bisa selamat." Sekarang aku berbicara panjang padanya tanpa bisa kucegah. Rasanya senang bisa mengatakan sesuatu lagi padanya, bisa berbagi cerita lagi seperti waktu yang lalu.