BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 201. Declaring our Promises


Setengah tahun kemudian, kondisi semangkin stabil. Jalan interstate sudah bisa dikatakan aman. Kehidupan di kota-kota aman berjalan kembali dengan semestinya, kota-kota yang sudah dibersihkan mulai dihuni kembali, industri banyak yang mencoba di buka lagi oleh pemerintah setelah kebutuhan pangan tercukupi, pekerja berpindah dari pertanian ke industri.


Bank yang sempat dibekukan karena kehancuran total kembali beroperasi, gaji kami mulai diberikan lagi walau nilainya diturunkan sangat jauh. Tapi yang kami bisa beli memang tidak banyak. Ekonomi mulai berjalan, setidaknya di tingkat dasar.


Hubunganku dengan James berjalan lancar, kami baik-baik saja, dengan kesehatan Ibu yang semangkin baik aku merasa tenang.


"Tootsie, aku ingin bicara." Kali ini nampaknya ada yang serius.


"Aku ada penugasan baru, memimpin rumah sakit militer di Miami."


"Ohh kau akan di Miami,..." Jika aku ikut ke Florida bagaimana Ibu? Aku diam sejenak. Jauh sekali Miami, tempat kami terakhir bertugas untuk pembersihan. "Kau ingin aku ikut bukan?"


"Iya, ..."


"Tapi bagaimana dengan Ibu?"


"Aku mendapat apartment tiga kamar, kurasa Ibu bisa ikut dengan kita, apa Ibumu mau? Memang penugasan sekarang di perbolehkan membawa keluarga." Itu bagus kurasa.


"Entahlah tapi kurasa dia tak akan keberatan. Aku akan bertanya pada Mom. Tapi karena kita akan tinggal bertiga kurasa kau juga harus bertanya padanya."


"Kalau begitu kita akan bertanya besok padanya." Ini jadi lebih mudah, jika Ibu ikut kami akan lebih mudah memantau kesehatannya.


Kami kemudian menyediakan waktu untuk berbicara dengan Mom besok malamnya.


"Mom tak mau mencampuri urusan kalian tapi bukankah sebaiknya kalian menikah dulu? Kalian akan tetap bersama bukan?" Ini belum kami bicarakan. Kami belum berencana memulai keluarga. "Maksud Ibu berjanji bersama, bukan memikirkan anak dan sebagainya. Semua orang tahu mempunyai anak sekarang adalah kesulitan besar. Ibu akan ikut kalian tapi bukankah lebih baik begitu..Menikah dulu." James diam. Aku juga diam, ini harus dibicarakan diantara kami.


"Sudahlah, mungkin Ibu terlalu mencampuri urusan kalian. Ibu ikut kalian yang penting kalian senang. Kalian pikirkan sendiri kapan kalian siap."


James belum memberikan jawaban. Aku menunggu darinya saja. Jika dia menginginkan mengikat janji kurasa aku juga tak menolaknya.


"Kau mau menikah?" Dia bertanya padaku sekarang. "Apa pendapatmu mengenai perkataan Ibumu?" Dia malah bertanya padaku.


"Aku pikir itu tak ada salahnya. Saat sekarang tak ada saat yang tepat, mungkin yang ada orang yang tepat, seperti yang dilalukan oleh Susan dan D'Angelo. Lalu menjalaninya sebisa kita."


"Begitukah? Kau berpikir begitu?"


"Iya, tapi itu terserah padamu, aku juga belum mau kita punya anak. Kelihatannya situasi belum pasti? tapi untuk janji tetap bersama kurasa itu bisa dilakukan."


"Aku berjanji untuk tetap di sampingmu... Kalau begitu ayo kita lakukan. Ini hanya meresmikan janji." Aku melihat padanya. Dia mengatakannya begity cepat. Apa dia serius.


"Kau serius? Kau ingin kita menikah?"


"Aku sudah mengatakan aku tak kemana-mana. Kita akan tetap bersama, tapi bagi Ibumu dia tidak menerima janjiku. Jadi masalahnya adakah mengatakan pada orang lain kita berjanji bersama, cuma itu dan bagi Ibumu itu juga berarti dia akan lebih tenang karena dia melihay janjiku juga. Jadi ayo lakukan saja, menikahlah denganku?"


Ini lamaran?