
Aku benar-benar tak yakin dengan diriku sendiri. Dia pasti masih berpikir aku orang yang tidak bisa dipercaya, saat melihatku. Tapi Paman David punya pikiran lain.
Setelah pertemuan terakhir kami di rumah sakit, dia tidak pernah meneleponku. Aku juga tahu diri, aku berkata akan menyulitkan pengirimannya, tapi nyatanya aku tak berani menyulitkannya. Aku mengirimkan semuanya sebelum waktunya.
Dia akhirnya meneleponku saat aku menyelesaikan pengiriman terakhir 20 hari lebih cepat dari kesepakatan kami 3x pengiriman terakhir dengan jeda 2 bulan.
"Kau sudah menyelesaikan pengirimannya. Terima kasih." Dia langsung bicara ke intinya saat meneleponku.
"Iya, aku yang harusnya berterima kasih."
"Bagaimana keadaan orang tuamu?"
"Mereka baik, walaupun masih belum terlalu bisa mengingat, tapi mereka sudah jauh lebih sehat."
"Baguslah jika begitu. Ya baiklah. Terima kasih untuk kerjasamamu." Dia menjaga jarak denganku terakhir kami bicara dan langsung memutuskan telepon.
Aku pun tak punya keberanian meneleponnya lagi. Aku tahu yang kulakukan di Toronto tercela. Aku tak yakin apa pikirannya dengan kemunculanku kali ini.
Menghela napas panjang tak membuat gugupku hilang. Kami Michigan kota terdekat ke Kanada dengan delegasi perdagangan, walaupun sekarang kami posisinya memberikan bantuan keuangan tetap saja ini negosiasi.
Kota Michigan ini sudah hidup. Nampaknya US berusaha keras menghidupkan lagi mesin ekonominya walaupun dengan segala kehancuran yang dialaminya.
Aku masuk ke sebuah ruang pertemuan di gedung keuangan pemerintah Michigan. Aku bukan pimpinan delegasi, tapi deal yang terpenting ini harus berhasil.
"Ini delegasi kami, Tuan Robertson...." Wakil menteri Keuangan memperkenalkan kami dan akhirnya "Nona Elizabeth Dugard, penasehat keuangan khusus." Posisiku sudah berubah aku tak mengambil jabatan militer lagi. Aku keluar dari militer setelah mendapatkan Ayah dan Ibu membantu Kakak mengurus perusahaan Ayah dan Ibu.
"Nona Dugard." Dia memandangku tapi menyalamiku tanpa riak , tersenyum seperti kepada tamu yang lain.
"Senang bertemu Anda Tuan Gillian." Aku membalasnya dengan nada yang sama. Setidaknya berusaha membalasnya dengan ketenangan yang sama.
Kami membawa beberapa masalah untuk dibahas, paket bantuan lunak, bantuan menjalankan beberapa industri lagi, dan deal proyek di Brasil yang kupegang akan dibahas yang terakhir.
"Ini akan jadi perundingan panjang nampaknya. Tapi kami berterima kasih pihak Anda bersedia menyediakan waktu untuk kami..."
Dia mulai membagi fokus, beberapa orang di masalah khusus sementara dia berbicara dengan Ketua delegasi aku bicara dengan orang yang khusus membicarakan masalah deal di Brazil, mengajukan penawaran awal kami dan beberapa masalah teknis yang dibicarakan dengan timku.
Sampai makan siang kemudian. Kami diundang ke sebuah restoran yang sudah di buka kembali di gedung itu.
"Nona Dugard, aku tak menyangka kau akan muncul disini." Salam yang mengagetkan saat dia muncul di depanku. Aku tak menyangka dia mengajakku bicara duluan.
"Tuan Gillian, aku diminta tolong oleh Perdana Menteri aku tak bisa menolak tentu saja." Aku berhutang pada Paman David, soal orang tuaku.
"Kau mengurus deal Brazil bukan."
"Iya." Harusnya dia juga akan memegang deal penting ini.
"Berarti ini penting untuk kalian, sampai dia mengirim anak penasehat keamanannya."