BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 148. Encouraging Speech 1


Aku memberitahu James tentang tugasku. Dia mendukung tentu saja, aku harus berpikir apa yang harus kukatakan untuk lusa. Aku menyusun naskah pidato singkatku. Meminta James membacanya sebelum aku menyerahkannya, aku takut membuat kesalahan untuk hal yang belum pernah aku lakukan.


"Ini bagus kurasa. Tak ada yang salah." James selesai dan mengembalikannya padaku. "Ini akan jadi pidato yang membangkitkan semangat. Kau punya bakat jadi orator nampaknya." Aku senang atas pujiannya.


Aku membawa naskahku untuk menghapalnya. Aku melihat Komandan Gilbert, saat makan malam. Kurasa aku perlu menunjukkan naskah pidatoku. Jadi aku menunggu dia selesai denhan makan malamnya dan mencegatnya di perjalanan kembali ke ruang kontrolnya.


"Komandan Gilbert." Dia langsung menoleh saat aku memanggilnya.


"Nona Jen. Ada apa?"


"Aku menganggumu sedikit. Aku belum pernah melakukan pidato seperti yang kau minta padaku. Jadi aku ingin kau melihat naskahnya. Dokter James bilang ini bagus, tapi aku tak yakin sampai kau menyetujuinya."


"Baiklah, biar kulihat." Dia ramah ternyata. Untung aku tak dianggap penggangu.


Aku menyerahkan kertas yang agak sudah lusuh itu padanya. Dia membacanya dengan cepat, dan aku merasa seperti anak kuliah yang menunggu hasil ujian.


"Ini bagus. Kau menyusunnya dengan baik, memang tak usah panjang yang penting membangkitkan semangat!" Aku lega dengan persetujuan dan senyumnya.


"Aku belum memikirkan yel-yelnya. Tapi besok pagi akan selesai. Aku menganggumu, kau pasti masih punya banyak pekerjaan. Kalau begitu sampai besok pagi komandan. Selamat malam." Aku langsung minta diri dari depannya.


"Jen." Dia memanggil namaku tanpa embel-embel Nona kali ini.


"Terima kasih." Senyumnya kali ini penuh. Aku suka senyumnya.


"Kembali Sir. Senang bisa membantumu."Kali ini aku bertekad melakukannya dengan benar.


\=\=\=\=\=\=


Pagi yang kutunggu. Aku berdiri dengan James, 5 Komandan Batalyon, Walikota dan Komando Utama, Sir Gilbert Gillian di depan apel pagi podium utama. Berdiri di depan ribuan prajurit dengan seragam perawat militer, rasanya begitu luar biasa. Seumur hidup aku tak akan pernah melupakan perasaan bangga ini.


Aku berdiri tegak mendengarkan kata pelepasan dari Komandan Gilbert.


"... Kita akan pergi berperang untuk orang terkasih kita. Keluarga, teman, negara, terutama untuk masa depan kita. Green Zone di seluruh wilayah USA tahun ini akan terwujud, memulai kembali kehidupan kita, pulang ke rumah kembali setelah bertahun-tahun bergerilya sebentar lagi tugas kita akan selesai. Perawat Jen mengatakan padaku, sebagai wanita yang telah ikut berjuang bersama kita, dari ujung timur ke barat, para tenaga medis memastikan kita bisa pulang kerumah walaupun kita terluka, kita semua telah terbiasa menghadapi medan berat di hari tergelap, kadang tanpa harapan, tapi hari ini walau pekerjaan mungkin masih banyak, tapi kita percaya akan selesai sebentar lagi! Jadi mari berjuang Prajurit! Dan klaim kembali tanah kita! Ooraah!"


"Oorah!" Sebuah yel-yel militer Angkatan Layt untuk membangkitkan semangat diteriakkan oleh kumpulan ribuan tentara yang kebanyakan adalah Marine itu rasanya bisa membuat infected dimanapun itu ketakutan.


"Perawat Jen akan memberikan kalian pesannya. Dia dan tim medis yang lain yang akan menjaga kalian dari semua cedera, dengarkan ini seperti kalian mendengar pesan dari keluarga kalian."


Komandan Gilbert memberi jalan padaku. Aku maju. Dan sekarang jantungku berdetak kencang. Aku menghela napas sebelum mulai.