
"Dean?!...Dean?! Kau baik-baik saja " Raut muka penyiar tampak khawatir, sama seperti kami yang melihat film horror tayang dengan intensitas kengerian paling tinggi sebelum kemudian kamera drone itu terlihat tak terkendali dan jatuh tersangkut pepohonan dan memperlihatkan pemandangan mengerikan para infected mencoba menggapai drone itu.
Sial!
Ini berita paling mengerikan yang pernah kulihat seumur hidupku.
----------
Laporan darurat di Pleasant Grove terus berlangsung sampai hari gelap. Militer terus berupaya menembak semua infected yang bisa mereka temukan dan penyiar bilang mereka mengupayakan evakuasi penduduk sipil. Radio masih bisa diakses, dan radio pemerintah dan siaran Radio yang beroperasi di Dallas menyiarkan tempat-tempat aman di Dallas untuk pengungsian sementara.
Tapi kemudian keadaan genting tampaknya menyebar ke bagian kota lainnya. Penyiar mulai menyebutkan bagian-bagian lain Dallas selain Pleasant Grove mengalami serangan sporadis lebih banyak lagi. Infected diketahui lebih aktif bergerak malam.
Mereka tampak seperti hewan buas pemburu sekarang.
Hari berganti, kami masih mengkhawatirkan Dallas. Tapi dilain hari sekarang tidak ada korban gigitan. Infantry rupanya telah belajar lebih banyak dari korban gigitan pertama yang jatuh kemarin. Mereka lebih hati-hati dalam menyisir.
Dan kami bersyukur hanya menerima korban luka ringan yang bisa ditangani sambil bercanda. Dilain hal aku masih tidak mendengar kabar dari Fred. Berita kekacauan masih mendominasi di televisi, kami menghentikan mendengar berita karena membuat pikiran kami tambah kacau.
Komunikasi tidak ada yang bisa menembus Dallas kecuali saluran militer dan radio, tampaknya banyak kerusakan terjadi. Dan tampaknya seperti Norman telah terjadi evakuasi besar-besaran ke kantong-kantong aman sementara. Wilayah-wilayah yang terlindung baik dijadikan tempat pengungsian dan polisi menjaga tempat itu.
Andrew datang ke tempat kerja kami keesokan siangnya.
"Aku harus menyampaikan berita buruk untuk kalian..." Dan kami hanya tertegun mendengar apa yang mereka katakan.
Mereka mengatakan ada ribuan korban yang jatuh semalam. Bahkan belasan personil militer harus terinfeksi. Wilayah itu belum aman, dan belum bersih.
Pemerintah memblok aliran informasi sementara dan membiarkan militer bekerja. Yang bisa didapatkan hanya informasi dari kejadian kemarin.
Semua berita hanya membuat kami tambah khawatir nampaknya.
Siang berlangsung tanpa mendapatkan berita apapun selain pemerintah menghimbau ratyatnya untuk tenang dan tinggal dirumah saat malam. Dunia tambah kacau karena kami memantau kota-kota besar lainnya pun berjuang menghadapi ledakan infected.
"James, kau baik-baik saja..." Aku melihatnya duduk termenung saat kami tak ada pasien di emergency. Lama dia baru menjawab pertanyaanku.
"Aku hanya berdoa untuk Ibu... Jika dia menjadi korban semoga dia sudah tenang di surga. Aku tak bisa membayangkan dia hidup di pengungsian. Dunia sangat keras sekarang. Bagaimana dia bisa menderita di akhir...." Dia tak sanggup bicara lagi kemudian.
Dan akupun tak bisa bicara untuk menghiburnya.
"Ada yang bisa kulakukan untukmu James ..."
"Tidak apa Jen, aku akan baik-baik saja... Aku cuma perlu waktu untuk sendiri. Terima kasih." Aku membiarkannya sendiri kemudian.
Dan ikut termenung di selasar sepi itu juga. Teringat pada Fred yang berada entah dimana entah dia hidup atau mati. Dan berdoa sambil meneteskan air mataku dan menangis sambil duduk memeluk lututku.
"Kau baik-baik saja,..." aku mendengar seseorang menghampiriku.
Andrew melihatku menangis.
"Aku hanya.... berdoa." Dia menghela napas mendengarku.
"Kekasihmu akan baik-baik saja jika dia punya kemampuan bertahan. Kau juga harus percaya itu. Berlatihlah dengan keras agar kau tetap hidup menunggunya, jangan hanya menangis... lakukan sesuatu."
Aku melihatnya pergi kemudian.
Jika dipikir-pikir Fred memang mempelajari cara bertarung dan bela diri, dia juga cerdas. Aku tahu dia sabuk hitam karate dan mempelajari Krav Maga belakangan. Dia pasti akan bisa bertahan, Andrew benar aku juga harus bisa bertahan.
Aku menyelesaikan shift ku sampai malam dan bergegas ke lapangan latihan kemudian mengikuti latihan. Kebanyakan dari kami tiba lebih cepat untuk bisa latihan.
Kali ini mereka akan mengajari kami mengunakan senjata alam. Apa saja yang kau bisa temukan untuk membela dirimu. Misalnya sebatang tongkat.
Saat siang mereka melatih shift sebelumnya. Sekarang mereka melatih kami. Tak ada yang berniat main-main di latihan ini. Memar latihan tak apa, lebih baik memar dan luka-luka sekarang daripada mati konyol didepan infected.
Akhir latihan beberapa orang masih berlatih. Dan aku maju ke depan Andrew bersama dengan tujuh orang lainnya.
"Bisa kami minta waktu pelajaran tambahan Sir?" Andrew dan teman-temannya memandang kami dengan terkejut.
"Hmm kalian bersungguh-sungguh?"
"Yes Sir!"
"Cap, aku bersedia melatih mereka...." DeAngelo maju ke samping Andrew.
"Hmm tujuh orang yang bertekad untuk terus hidup! Bagus, aku akan melatih kalian dengan lebih keras, kalian ikut guys?"
"Absolutely kami suka orang yang punya mental pejuang!" Satu orang lainnya menimpali.
"Kalian bertujuh punya waktu private sejam dengan kami. Kami pastikan akan mengajari kalian dengan baik, ..."
"Yes Sir!"
Dan sejak hari itu kami berproses menjadi tenaga medis sekaligus petarung untuk bisa mempertahankan hidup kami.
Kami akan hidup untuk tetap bertemu mereka yang kami cintai.