
Tapi sepanjang waktu dia belum pernah bersikap tak sopan atau menyinggung hal pribadi diantara kami. Selain pertemuan pertama kami yang terjadi dan aku cukup blak-blakan padanya selanjutnya dia menahan diri. Mungkin makan malam ini bisa jadi cara untuk mengorek hal pribadi darinya.
"Kau tinggal di mana?"
"Rumah keluarga di Florida, tapi sekarang kebanyakan aku harus kembali ke Washington DC jika aku tidak ada tugas luar."
"Ohh, kau kembali ke Ibu Kota pemerintahan."
"Iya. Kantorku di sana." Kami berjauhan satu hal yang harus kuingat.
"Apa kau sudah berkeluarga?"
"Belum, dia menjawab lugas."
"Kenapa?" Aku dengan berani bertanya.
"Kiamat baru berakhir selama kurang lebih lima tahun ini. Kau mau memikirkan tanggung jawab keluarga selama itu."
"Ya benar juga."
"Tidak punya kekasih."
"Kekasih... Entahlah, kurasa tak ada yang serius." Aku diam, tidak ada yang serius. Walaupun jika dia mau mungkin saja dia bisa pergi kesana
Tapi dia tidak memikirkannya nampaknya.
"Hmm... nampaknya menjadi lajang lebih bebas dan menyenangkan." Dia tertawa.
Aku merasa ini salah, tak perlu jatuh cinta padanya. Ini harus dihindari dengan sadar. Tak baik mengharapkan orang yang terlalu sadar dirinya mudah mendapatkan sesuatu seperti ini. Tapi jika hanya menyukainya, dan sekedar menikmati debaran ini mungkin itu tak apa. Tahu bahwa ini hanya malam berbintang untuk sementara.
"Tidak, mungkin belum ada yang kusukai."
"Menjadi kekasihmu mungkin perlu banyak hal." Jenderal ini menatapku sekilas mengalihkan pandangannya dari jalanan. Mata kami bertemu aku hanya tersenyum padanya.
"Dua orang yang saling menyukai tidak memerlukan banyak hal." Jika dia bisa mengerti arti kata itu. Dia menatapku lagi dan aku dengan berani membalas tatapannya.
Entah kenapa dia menghela napas. Aku tak tahu. Dia tidak mengatakan apapun, apa menurutnya aku terlalu tinggi.
"Kita sampai ke restorannya." Ternyata tak jauh dari rumah sakit, padahal aku berharap itu lebih jauh. Debaran-debaran mengelitik ini menyenangkan untuk diteruskan, aku bersedia duduk disampingnya berjam-jam kemudian.
"Baiklah ayo turun." Dengan sedikit memendam kecewa aku mengikutinya keluar dari mobil. Dia menungguku tiba di sampingnya. Aku punya sedikit ide gila di pikiranku untuk menyentuhnya.
"Boleh aku mengandeng lenganmu." Aku bertanya dengan mengulum senyum, matanya memandangku dan aku tak bisa mengendalikan rona panas naik dan tinggal di pipiku.
"Baiklah." Dia setuju dengan senyuman kecil dan senyumku mengembang. Dengan cepat aku menyelipkan jemariku memegang lengannya, detakan jantungku bertambah. Kurasa aku sudah jadi sedikit gila malam ini.
Gila yang menyenangkan karena menyukai jenderal gagah yang berbahaya dan tak tergapai ini.
Andai aku bisa memakai gaun untuk menggodanya sedikit, akan menyenangkan menggodanya. Tapi yang aku punya hanya blouse putih sederhana ini dan make up natural. Mungkin aku tak semenarik wanita lain yang sering ditemuinya.
"Restoran ini cukup ramai dan cantik." Lampunya hangat, dekorasinya cozy dan homey aku menyukainya.
"Kau suka?"
"Hmm..." Aku tersenyum padanya dan mengangguk padanya. "Semoga makanannya juga sebagus tempatnya."
Seorang pelayan membawakan kami buku menu. Kami memesan dan makanannya enak sesuai dengan tempatnya. Mereka menawarkan makanan pembuka, utama dan penutup khas menu Italia yang nampaknya enak. Pembicaraan berkisar hal-hal yang kami ingat saat kami mengunjungi Italia. Entah kapan kami bisa kesana lagi.