BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 95. Moskow 10


"Menang!" Dia mengajak tos dengan segera begitu aku kembali ke pinggir ring. 


"Sudah kubilang ini akan mudah." Dia tersenyum, membantuku membuka semua pakaian dan sarung tanganku. Sementara nampaknya Sergie sudah berhasil bangkit lagi.


"Kembalilah dan berdamailah dengan adikmu. Tanya apa dia baik-baik saja."


"Berdamai?"


"Kau sudah memukulnya babak belur, anggap saja semua ini lunas. Biar masalah ini selesai kalian tidak mencari masalah lagi satu sama lain."


"Yang mencari masalah itu dia. Dia yang psychopath ingin membunuhku. Kenapa aku yang harus minta maaf padanya."


"Ibu tirimu sendiri tidak mencari masalah denganmu lagi. Dia pasti sudah memarahi Sergie habis-habisan. Anggap saja kau masalah kali ini selesai. Apakah bagus untuk saling membahayakan satu sama lain, saling membenci sesama keluarga. Ini bukan kalah tapi mengalah untuk tidak menghindari masalah yang tidak perlu. Apakah bagus terlihat satu keluarga saling membenci seperti ini."


Aku menatap Sergie yang sudah kuhajar babak belur. Kekasihnya nampak sedikit khawatir padanya.


Mengalah untuk menghindari masalah tidak perlu. Aku menghela napas panjang. Baiklah kudatangi dia.


"Bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja?"


"Baik." Dia tidak melihatku, nampaknya harga dirinya terluka juga ketika dikalahkan.


"Lain kali kau mencari masalah lagi. Akhirnya tak akan hanya ini yang terjadi. Kita berdamai? Anggap masalah ini selesai?"


"Berdamai?"


"Kau tak mau berdamai? Di masa depan, siapapun yang memimpin setiap orang harus menerima pengaturan Ayah. Apapun keputusan Ayah soal siapa yang memimpin Moskow, kita akan menerimanya. " Sergie melihatku dengan ekspresi rumit dan jabatan tanganku


"Damai." Akhirnya dia menerima jabat tanganku.


"Ini lebih baik. Kalian Saudara kenapa harus bertengkar hanya karena uang." Svetluny terlihat senang dengan jabat tangan kami. "Bagaimana jika besok kita makan siang bersama, ide bagus bukan Candice." Sekarang mereka malah sudah mengatur makan siang untuk mendamaikan kami. Mana mungkin hal ini bisa diterima, perdamaian adalah hal yang terjadi jika dia tidak melakukan sesuatu yang keterlaluan di masa depan.


"Iya ide yang bagus. Kalian sudah menyelesaikan ini. Tak perlu perang saudara lagi." Kekasih Sergie itu langsung menyetujui usulan Svetluny. Sementara aku dan Sergie tidak mengatakan apapun soal pengaturan mereka.


"Ayolah, tak ada gunanya saling bertengkar." Candice sekarang mendorong acara makan siang yang kaku ini. Nampaknya dia belum sepenuhnya berniat meminta maaf padaku, masih banyak ganjalan diantara kami.


Entah bagaimana nampaknya dua wanita ini membuat kesepakatan di belakang. Padahal damai atau tidak itu tergantung kelakuannya di depan. Jika di depan dia masih membuat masalah mana mungkin ada kata damai.


"Baiklah." Itu dikatakan dengan terpaksa.


"Alex, bagaimana menurutmu." Sekarang Candice yang bertanya.


"Fine." Aku mengangkat bahu dan menyetujui dengan cepat."


"Itu bagus. Dimana kita akan makan." Dua wanita itu sekarang yang mengatur. Aku melihat wajah Sergei yang cukup banyak luka memar setelah kupukuli. Setidaknya ini badannya akan sakit berhari-hari.


"Apa yang kau lihat?" Dia menatapku masih dengan pandangan benci.


"Ohh ayolah, kau menyuruh orang membuatku cedera berat, aku rugi mobil plus tiga jahitan. Aku harus bolak balik ke polisi juga. Aku hanya menghajarmu sedikit Kau yàng psychopath."


"Kau yang mulai...."


"Kalian sudahlah, kenapa kalian bertengkar lagi." Candice yang menegur dan memotong kami sekarang.


"Apa gunanya Saudara saling bertengkar. Kita lebih baik duduk baik-baik dan berdamai saja." Svetluny juga bicara dengan lembut. Kedua wanita ini berusaha.


"Tidak ada makan siang, ayo pergi!" Dia yang naik darah duluan dan pergi dari meja itu. Tapi sekali lagi Sergie mementahkan semuanya.


"Hei...hei tunggu dulu." Dua gadis itu berpandangan dan putus asa, masing-masing tak bisa berkata apa-apa saat Sergei pergi duluan.


"Benar sekali, ayo pergi." Aku juga pergi.


Yang selesai hari ini adalah hutang dua peristiwa yang dahulu. Damai? Dia yang duluan memulai ini, dia tidak tahu dia salah, mana mungkin ada damai, masalah hari ini jelas beluk selesai.


Tak ada perdamaian terjadi.