
Aku menyesal menyetujui drama ini. Itu yang ada di pikiranku keesokan paginya. Tapi semua sudah berjalan. Tak tahu apa yang aku lakukan. Saat harus bertemu James, aku bahkan merasa tak sanggup melihat matanya.
"Laporan kemarin. Nampaknya semua baik, ada satu yang agak drop tapi itu karena cederanya juga cukup parah. Kau harus melihat pasien di isolasi 3 ini. Yang lain sudah ditangani oleh Dokter Joshua dan Medina."
"Iya ayo. Kita lihat dulu dia." Dia mendahulukan pekerjaannya. Memberikan perubahan dan tambahan pengobatan.
"Segera kabarkan kalau ada perubahan. Tempatkan ini dalam pengawasan khusus, bilang ke Medina untuk melakukan pengecekan kondisi setiap dua jam."
"Mengerti." Aku berbalik akan pergi ke farmasi
"Jen." Langkahku terhenti lagi. Kali ini dia tak akan melepasku tanpa penjelasan. Aku berbalik.
"Ikut sebentar." Terpaksa aku menurutinya ke ruangannya.
"Apa yang kau lakukan?" Pasti pertanyaannya itu.
"Apa yang kulakukan?"
"Kau tahu apa maksudku, kau tahu siapa Gillian itu, kenapa kau terlibat dengannya." Drama sudah berjalan. Kesepakatan sudah dibuat.Aku tak bisa mundur. Ini harus di selesaikan.
"Bisa kita tidak bicarakan ini."
"Kau akan menemui Andrew kedua, kau belum cukup mengenal orang seperti itu?" Aku lebih tahu siapa Gilbert Gillian itu tentu saja.
"Sudah kubilang aku tak mau membicarakannya denganmu. Aku harus ke farmasi, secepatnya, jika ada korban lagi akan tambah sibuk lagi." Aku menghindari perdebatan, membiarkan dia berpikir. Dan keluar dari kantornya, tidak mengindahkan panggilannya.
Akan kutunggu ini sampai di puncaknya. Hampir dua tahun ini kami bersama, Gilbert bilang aku harus mendorongnya sampai terpojok, jika mungkin ini tak berhasil mungkin aku harus mengubur harapanku. Dia benar hanya akan menganggapku adik. Tak apa aku akan belajar menerimanya mulai dari sekarang.
Tapi akibatnya, sepanjang hari aku merasa bersalah dan menghindarinya. Hanya bicara tentang pekerjaan benar-benar kaku. Aku masih ragu apa keputusan ini benar atau tidak.
"Tidak."
"Jangan berbohong padaku." Sekarang aku menghela napas panjang.
"Aku tak tahu apa yang kulakukan ini benar atau salah Laura,... " Kuceritakan apa yang sedang terjadi kepadanya.
"Apa harus sekarang... Kau tahu kita pada puncak kesibukan."
"Makanya aku merasa bersalah, tapi aku sudah terjebak di skenario Gilbert. Aku menghindarinya sekarang sama saja aku ... Astaga apa yang kulakukan. Apa sebaiknya kukatakan saja padanya." Laura menepuk bahuku.
"Kau tahu, kurasa jika kau meminta dia menjelaskannya, dia akan mengatakan sesuatu."
"Maksudmu?"
"Entahlah, kurasa jika kau bertanya, kurasa dia akan mengatakan sesuatu. Dia selalu bersamamu, mengingatkanmu, kurasa pasti dia punya perasaan padamu, tidak mungkin tidak." Mungkin, entahlah, aku juga tak tahu, jika aku tahu aku tak akan melalukan ini.
"Ini hanya akan berlangsung sebulan, aku sudah membuat perjanjian dengan Gilbert."
"Terserah padamu, tanyakan saja secara tersirat. Dia harusnya bisa mengerti arti semua pertanyaanmu."
Bicara dengan Laura nyatanya menambah kekhawatiran.
Dan hasilnya aku sengaja tak mau menemui Gilbert beberapa hari ini . Karena kesibukan kami, dan rasa bersalahku membuat James khawatir, aku lebih memilih makan di lorong samping rumah sakit tempat teraman yang kutemukan, rasanya seperti pencuri yang mengendap-gendap tapi lebih baik daripada menemukan masalah dan rasa bersalah di dapur umum. Untungnya Gilbert tidak mencariku.
"Kenapa kau makan di sini?" James rupanya menemukanku.