
Suaminya nampak tertekan dengan keadaan istrinya itu.
"Apa kalian baik-baik saja selama di sini." Tapi aku tetap salut bahwa dia masih mendampingi istrinya itu, pasti tidak mudah bagi mereka.
"Aku hanya menjalani hari demi hari sekarang. Berharap musim bisa berganti. Jika menganggap boneka itu sebagai anaknya bisa membuatnya lebih baik, biarkan saja dia begitu." Aku masih menemukan kebersamaan sehidup semati, dia tetap berada di sampingnya. Itu luar biasa di tengah tekanan hidup yang tidak mudah ini.
Tak lama kemudian Javier kembali ke ward perawat. Kondisi bangsal yang tidak ramai membuat aku bisa mengikuti perkembangan kasus yang pertama kali kulihat ini.
"Dia benar-benar menganggap itu anaknya secara nyata. Dia mungkin mengidap sindrom pendamping delusional ( Delutional companion syndrome), kemungkinan besarnya ada cedera kepala belum sembuh karena jatuh dulunya tapi di sini MRI kita rusak. Kita terbatas di sini. Tapi mungkin kita bisa membalikkan proses psikologisnya sebagai jalan pintas."
** Sindrom pendamping delusi dianggap sebagai neuropatologi diri, khususnya sindrom misidentifikasi delusi. Individu yang terpengaruh percaya bahwa objek tak hidup tertentu memiliki kesadaran dan dapat berpikir secara mandiri dan merasakan emosi.
"Membalikkan proses psikologis? Bagaimana maksud dokter." Suaminya bertanya sementara Noah juga ikut mendengarkan karena dia terlibat kasus ini.
"Yang kupikirkan adalah kita dapat membuatnya melewati proses berkabung karena kehilangan anaknya. Seperti katamu dia menyalahkanmu karena tak mencoba operasi itu, sebagian menyalahkan dirinya sendiri karena menjatuhkan bayinya. Kami akan meniru prosesnya, kami akan membuat sandiwara yang sama, membuatnya mengambil keputusan, kemungkinan besar dia akan memilih menjalankan operasi, tapi akhirnya dia dapat berkabung dan melewati prosesnya."
Kami mengerti apa yang dokter Javier maksudkan.
"Apa kau setuju Sir?" Kami memerlukan persetujuan sang suami untuk melakukan pengobatan ini tentu saja.
"Aku setuju Dokter. Mungkin setelah ini dia bisa menerima kenyataan, dan kami punya kesempatan lain." Kesepakatan telah dibuat untuk ini.
"Noah, kau lebih mengerti menjelaskan situasinya ke pasien kurasa."
"Iya, ku akan menjelaskannya."
".... Ini keputusan Anda Mam. Anda yang memilih ." Apakah dia akan memilih anaknya menjalankan anaknya menjalani operasi yang peluang berhasilnya sangat kecil dan hanya menyakitinya atau membiarkannya tertidur dengan tenang dalam pelukannya untuk terakhir kalinya.
"Tidak, aku tak ingin dia kesakitan." Ternyata Ibu tetaplah Ibu, dia memilih memutuskan hal yang sama seperti yang diputuskan suaminya.
Isak tangisnya membuatku semua orang meneteskan air mata. Semua orang ikut berduka atas apa yang dirasakannya. Setidaknya dia diberi kesempatan mengantar bayi tersayangnya pergi dan melanjutkan langkahnya di sore musim gugur itu.
"Apa lagi yang membuatmu menangis?" Aku masih menyeka air mataku ketika James datang ke ward UGD "Lebih tepatnya apa yang membuat kalian bermata merah semua." Dia baru menyadari bukan hanya aku yang menangis tapi semua perawat di dekatku.
"Kami menangisi kepergian boneka." Aku meringis dan mencoba berhenti menangis.
"Kepergian boneka?" Seseorang teman perawar menjelaskan apa yang terjadi pada James . Dia mengangguk mengerti dan melihat dokter Javier dan Noah masih bersama pasien itu.
"Dokter James kenapa kesini?"
"Obat-obatan dan perlengkapan sudah selesai dipisahkan?" Ternyata dia mengecek pekerjaan.
"Ohh sudah, tinggal di berangkatkan. Semua perawat yang akan bertugas juga sudah diberitahu."
"Lokasi sudah steril dan siap sepenuhnya, besok kita akan dibantu loading semua perlengkapan dan bergerak dalam konvoi lusa."
"Mengerti." Saatnya pindahan H-4 sebelum operasi sebenarnya, kukira jalanan utama sudah dibersihkan tidak seperti perjalanan sebelumnya satu setengah jam harus di tempuh tujuh jam perjalanan. Lagipula ini konvoi, ratusan bahkan ribuan zombie pun bisa dihadapi oleh konvoi. Malah bagus mereka muncul sekarang.