
"Aku ingin melihatmu." Jemari dengan berani meraih kanc*ing kemejaku. Membuatku mengangkat tub*uh rampingnya dan menaruhnya ke bednya sementara jemarinya bekerja. Dia tertawa ketika aku mengangkatnya dengan mudah, gadis ini memang sangat terus terang. Ada kaus dal*aman tentu saja dan itu tampaknya membuatnya kesal. Aku tersenyum padanya, entah kenapa aku menyukai ekspresinya yang kesal itu. "Baju ini sangat menggangu..." Dia langsung menariknya ke atas tanpa menunggu dan menggigit bibirnya sendiri saat melihat tub*uh ku dan membuang itu ke bawah. Gadis yang satu ini memang terlalu pemberani.
"Kau puas dengan apa yang kau lihat?" Pertanyaanku membuatnya tersenyum. Dan sebagai hukumannya aku membantingnya ke bawahku, mengganti posisi kami. Pakaiannya masih lengkap, dia yang memulai ini dia harus menanggungnya.
"Jenderal, jangan terlalu kasar padaku." Itu kata-kata rayuan yang membuatku ingin menciumnya lagi, kali ini lehernya, dan aku menekan tu*buhku padanya, cukur*anku agak panjang membuatnya melen*gguh memohon. Sial! Gadis ini membuatku tak sabar. Kali lain dia seperti penguasa, kali lain dia menyerah pas*rah di bawahku.
"Ini tak adil,..." Dia tertawa kecil ketika aku menjangkau blous*enya dan membuka ata*sannya. Kul*it kami bersentu*han dan kontrasnya ku*lit lemb*utnya membuatku lupa diri.
"Kau benar-benar gag*ah jender*al..." Dia memujiku, jemarinya menyusuri dad*a te*lanja*ngku dengan pemujaan, egoku meledak dalam kebanggaan.
"Kau benar tahu cara merayu, wonder woman." Dia akan membayarnya aku menyusuri setiap inchi tub*uhnya dan membuatnya meng*era*ng.
"Ini tak cukup. Berhenti menyiksaku, aku menginginkanmu." Kata-kata wanita itu terlalu kuat untuk ditolak, sekarang jemari itu merampas penghalang terakhir yang ada diantara kami.
Tubuhnya bergerak tertahan saat aku memasukinya dibawahku. Napas kami tidak beraturan karena godaan di pikiran kami berlari terlalu jauh.
"Apa ini cukup sayang." Cu*mbu*anku membuatnya memejamkan mata, eran*gan itu menandakan dia menikmati berada dalam kekuasaanku.
"Jangan berhenti Jenderal." Sial, panggilan itu. Membuatku merasa terlalu tinggi.
"Panggil namaku." Aku berhenti untuk menghukumnya.
"Aku tak tahu itu akan begitu cepat. Kau luar biasa Jenderal." Bibirnya itu memang tak takut mengatakan apapun, aku menciumnya, memeluknya dan memberinya sentuhan pemujaaan yang dia inginkan.
"Sayang, kau tahu kata-katamu itu berbahaya, aku belum selesai denganmu sama sekali."
"Kalau begitu, aku memang tak salah menilai. Aku juga belum selesai denganmu." Sekarang dia mengganti posisi kami.
"Apa kau punya kepribadian ganda, wonder woman?" Wanita ini tak bisa ditebak sama sekali.
"Kita punya banyak waktu bermain peran malam ini Jenderal..." Kata-katanya membuat jantungku berdebar dengan antusias.
"Kau memang terlalu rumit." Dia tertawa.
"Ini hadiah karena kau sudah mengabulkan permintaanku."
Hadiah dari wonder woman ini. Kurasa aku tak akan bisa melupakannya mulai malam ini. Dia terlalu menarik untuk hanya satu malam dan dilupakan.
Aku akan mencarinya lagi, walau mungkin akan ada resiko yang harus ditanggung.