
Jam 10 aku tiba di kantor polisi, kepala tim keamananku Richard juga sudah tiba di sana dari sejam sebelumnya.
"Bagaimana hasilnya?"
"Yang kami dapatkan cukup memusingkan,..."Richard mengaruk kepalanya.
"Bagian mana yang memusingkan?"
"Ternyata mereka mendapatkan order dari orang lain bukan langsung, dan orang tersebut bahkan mereka tak tahu nama aslinya. Mereka hanya menyebutnya Snake. Walau kita tahu nomor teleponnya tapi orang tersebut ada di wilayah US." Snake, nama yang sangat sesuai dengan profesinya.
"Wilayah US ..."
"Nampaknya kita harus meminta tolong penyidik swasta Sir, nomor ini tidak aktif lagi. Mereka bilang mereka hanya mendapatkan satu kali komunikasi detail Anda, selanjutnya mereka harus membuktikan dengan mengirimkan bukti ke email."
"Begitu, jadi kalian tidak bisa menyelidiki ini?"
"Untuk mengetahui nomor siapa ini kami tidak punya akses. Harus badan khusus setingkat agen pemerintah atau polisi. Mungkin bisa dilakukan oleh penyidik swasta USA, mereka harusnya punya seseorang yang bisa dibayar untuk bisa mengakses data seperti ini." Kepala pengawalku memberi jalan padaku. "Saya akan mencari info ke teman saya siapa yang dia kenal."
"Baiklah, aku akan mencoba menghubungi seseorang juga. Beritahu jika kau punya orangnya dan harga yang dimintanya.
Siapa yang bisa kumintai tolong di wilayah US. Jika tidak ada ini akan jadi akhir kusut yang tak bisa urai.
Aku teringat Gilbert Gillian, bang*sat yang menutup lab-ku itu, sekarang calon suami Elizabeth Dugard, Monica pastinya kenal baik dengannya. Apa aku bisa minta tolong dengannya, kami mau tak mau akhirnya akan menjadi saudara ipar, aku tak bisa menjadikannya musuh. Latar belakang Gillian Gilbert ini juga sangat bagus, dua kakaknya punya latar belakang pengusaha sukses.
Dan adiknya adalah jenderal bintang 3 atase perdagangan khusus untuk Kanada. Baru berumur 38 tahun, itu adalah pencapaian karier yang luar biasa.
Aku pergi mengunjungi Monica di butiknya.
"Sayang, kau kesini. Kejutan yang menyenangkan. Ini pertama kalinya kau ke sini." Aku melihat butiknya yang luas, nampaknya dia memberikan 100% usahanya untuk butiknya ini, karyawannya cukup banyak dan nampaknya pengirimannya sibuk, aku melihat sejumlah besar kiriman menunggu di antar. Dan di satu sudut ada dua model sedang bekerja.
"Kau sibuk?"
"Ah sedikit, aku ada pemotretan model untuk katalog online baru hari ini. Urusanmu di kantor polisi sudah selesai?" Dia membawaku masuk ke kantor pribadinya.
Dia nampak senang dengan kedatanganku yang pertama kali ini ke tempat kerjanya.
"Sebenarnya belum... tapi aku ingin minta tolong padamu."
"Aku bisa menolongmu bagaimana? Ada masalah apa di kantor polisi?" Kuceritakan bahwa yang kami dapat adalah orang-orang itu mendapatkan perintah memb*un*uh dari seorang calo, yang bernama Snake.
"Kupikir calon Kakak iparmu bisa menolongku, apa dia punya cara agar aku bisa menemukan orang yang bernama Snake ini, nomor yang diberikan pada kami tidak aktif lagi. Tapi terakhir pertemuan kami tidak baik... Apa kita bisa mengundang mereka makan malam."
"Ehm begitu, aku tak tahu apa Gillian bisa membantu atau tidak, akan kutanya ke Eliza dulu, sepertinya jika tak salah dengar dia akan ke Montrel dua hari ini. Tunggu sebentar akan kutelepon Eliza."
Aku melihatnya bicara di telepon dengan kakaknya sebelum kembali padaku.
"Eliza bilang dia akan mengundang kita makan malam bersama lusa. Kau bisa bertanya padanya nanti."
"Jika tidak bisa aku terpaksa memakai jasa penyidik swasta dan masalah ini akan tertunda lagi. Apa kau kenal baik dengan Gillian Gilbert ini?"
"Gilbert ramah padaku, dia banyak membantu keluarga kami, pertengkaran terakhir kalian karena aku, jika aku tidak mempermasalahkan apapun lagi kukira kalian akan baik-baik saja."
"Ya, sebenarnya aku juga ingin bertanya kemungkinan dia mengenal orang yang bisa membantuku menebus lab-ku lagi."
"Hmm kau benar-benar rugi besar karena aku sayang." Svetluny-ku menatapku dengan perasaan bersalah.
"Aku tak bisa menyalahkan kakakmu mengamuk dan menyalahkanku, siapa yang tidak mengamuk ketika adiknya diculik. Ya aku rugi sangat besar. Tapi setengahnya karena kecerobohanku sendiri tak mengecek detail apa yang mereka lakukan. Ayah menghukumku dengan menaruh aku di posisi CEO, aku sendiri yang salah. Tapi ini juga kesempatan untukku untuk menunjukkan secepat apa aku memulihkan situasi jadi tak usah khawatir, anggap saja ini sudah jadi hal yang harus terjadi..." Aku tersenyum padanya dan dia menatapku dengan prihatin.
"Nanti aku akan membantumu bicara dengan Gilbert oke. Eliza juga sudah tahu cerita kenapa aku akhirnya memaafkanmu. Lagipula kalian akan jadi keluarga, Kau, Albert, Gilbert kalian akan jadi pria-pria di keluarga kami. Kalian tak boleh bertengkar. Dia pasti akan membantumu." Itu juga yang kupikirkan, bagaimanapun hubungan kami di masa lalu, sekarang karena kami adalah keluarga kami harus memperbaikinya.
"Aku akan merepotkanmu sedikit untuk mendamaikan kami." Monica tersenyum dengan perkataanku.
"Kau memang selalu merepotkan Tuan Mafia Rusia. Apa kau memang mau menjadi keluargaku, akan kubawa kau ke Albert nanti. Dia kakak tertuaku."
"Nanti setelah aku menyelesaikan masalah dengan Ibu tiriku oke, jika aku datang dengan masalah yang masih menggunung seperti ini, Kakakmu akan menendangku kembali ke Moskow."
"Baik Tuan Mafia, kuharap kau menyelesaikan masalahmu secepatnya."
"Aku bukan mafia, kau punya fet*ish dengan mafia karena terlalu sering ke Milan?" Dia langsung tertawa dengan perkataanku. "Tak apa kau mau menyelesaikan pekerjaanmu, aku memang membatalkan semua pekerjaanku di kantor hari ini. Kita makan siang bersama saja nanti."
Dia meninggalkanku untuk menyelesaikan pekerjaannya. Jam makan siang kami berjalan keluar butik.
"Alexsey?" Seseorang menyapaku tanpa kuduga. Aku menoleh untuk memastikan.
"Ohh Shasha." Kenapa dia muncul di sini. Kemudian aku ingat dia adalah teman Monica. Dewa keberuntunganku jelek belakangan, kenapa kami harus bertemu dia.
"Shasha, apa kabar. Kau sudah kembali dari London." Monica memutuskan dia akan berakting dia tak tahu hubungan kami. "Kau mengenal Alexsey? Kejutan yang menyenangkan."
"Apa dia kekasihmu?" Shasa langsung bertanya.
"Ah iya dia kekasihku. Kalian kenal?" Monica langsung menjawabnya.
"Kekasihmu, kau tak tahu dia punya kekasih." Shasa langsung menyerangku soal Anna. Tahu di tidak bisa mendapatkan perhatianku maka dia akan menyerangku.
"Dia punya kekasih? Siapa kekasihnya?" Monica langsung tertarik untuk mendengar.
"Anna, assisten s*exy-nya itu. Kau tidak tahu seperti apa kelakuan mereka di luar sana." Monica langsung tersenyum. Sekarang dia tahu cerita Anna yang menjadi tamengku itu benar.
"Ohh Anna, aku mengenalnya. Bukan, dia bukan kekasihnya walaupun dia memang protektif ke Alex. Aku juga tahu siapa kekasih Anna sekarang."
"Aku melihat sendiri, mereka berlaku mesra. Kau tidak percaya padaku?!" Shasha masih berusaha menyerangku.
"Aku percaya Anna menang protetif jika ada wanita selain aku mendekati Alexsey." Sekarang Shasha diam.
"Jadi maksudmu a..." Langsung dipotong oleh Monica perkataannya.
"Jadi maksudku, jangan dekati kekasihku lagi. Dia tak suka padamu. Itu cukup jelas bukan Shasha." Monica langsung menerkamnya. Padahal mereka tadinya teman.
"Aku tak mendekatinya, lagipula kami saudara. Aku juga tak tahu dia kekasihmu Monic. Aku hanya berpikir aku punya teman bicara saat kembali dari Paris ke sini. Kalau dia terganggu akupun tak apa." Shasha mundur dan menekan nadanya.
Aku berpikir jika dia mundur, mungkin tujuannya dia mau menjadi mata-mata dengan tetap menjadi teman Monic.
"Shasha, sampaikan salamku kepada Bibimu, dia memberiku dua jahitan dan mem*ar." Perkataanku sambil menunjuk wajahku membuat Shasha terdiam.
"Aku tak tahu apapun soal yang kau bicarakan. Kau dipukul oleh seseorang?" Dia menatapku dan bersikap dia tidak tahu apapun, tapi walaupun dia tidak tahu apapun dia tetap Jovovich. Mempercayainya adalah hal yang tidak bisa dilakukan, entah dia kebetulan muncul disini atau dia mengetahui sesuatu.
"Lebih baik memang kau tak tahu. Karena jika kau tahu, aku akan membawamu dalam masalah ini." Aku bicara kepada Shasha, kuharap dia tidak akan terlibat dengan urusan ini.
"Aku benar-benar tak tahu masalah kalian, kalian pasangan pun aku tak tahu, ada apa antara kau dan Bibi Margarita aku tak tahu. Monica adalah temanku, yang kulakukan di sini hanya ingin berbelanja seperti biasa dan kalian menuduhku macam-macam."
"Baiklah Shasha anggap saja perkataan tadi tak ada. Jika kau benar tidak tahu apapun, jangan maju lagi ke masalah kami. Untuk sementara kami akan tetap mencurigaimu karena hubunganmu ke Margarita. Jadi lebih baik kalian tidak saling bertemu."
"Bibi Margarita ingin mencelakaimu? Kupikir kalian selama ini baik-baik saja." Dia bertanya padaku dengan ekspresi tak bersalahnya.
"Kami tidak pernah baik-baik saja dari dahulu." Aku mendengus kesal.
"Ohh begitukah." Dia nampaknya memang tak tahu soal hubungan perang dingin ini.
"Kami harus pergi. Untuk sementara kau dan Monica tak bisa terlalu dekat sebagai teman karena kami akan selalu mencurigaimu karena hubungan keluarga. Mungkin setelah masalah kami selesai, entah kapan akan selesai, mungkin tak ada masalah untuk menyapa satu sama lain atau makan siang bersama. Semoga kau mengerti situasi ini." Aku mengatakan yang sebenarnya pada Shasha, jika dia mengerti dan menjauh dari kami itu lebih baik.
"Shasha jika aku tadi bicara terlalu keras aku minta maaf. Tapi seperti kata Alexsey keadaannya memang seperti ini. Kami pergi dulu. Kau mau mencari sesuatu kau bisa temui Rebecca. Dia akan menunjukkan koleksi baru padamu." Monica meminta maaf ke temannya itu, jika dia tidak tahu apapun memang tidak adil untuknya.
Kami berjalan pergi.
"Aku merasa bersalah padanya. Sebelumnya kami tak punya masalah apapun walaupun kami hanya teman biasa. Hanya tadi aku langsung terpancing begitu dia membahas Anna bahkan tak bertanya kenapa kau terluka seaakan dia memang sudah tahu kau terluka."
"Jika dia tidak terlibatpun, dia akan memberitahu ini ke Bibinya, sama tidak baiknya. Aku belum bisa menyelesaikan ancaman ular." Tidak ada yang baik dengan pertemuan tiba-tiba ini, jika Shasha melapor ke Bibinya, ular tua itu mungkin akan punya ide baru bagaimana mengancamku, bukannya aku tidak khawatir dengan hasil pertemuan ini. Monica melihatku.
"Jadi apa yang harus kita lakukan."
"Aku akan meminta satu lagi pengawal untuk menjadi sopirmu."
"Dia tak akan berani mengangguku, dia tahu siapa Eliza. Dan kasus penculikanku yang membuat kakak menjegalmu. Keluarga Dugard jelas bukan hal yang bisa diganggu."
"Reputasi adalah reputasi Monica sayang, tapi yang mau dijegal ular itu adalah aku, jadi aku tetap tak bisa menaruhmu dalam bahaya. Aku akan bicara pada Eliza aku memberimu pengawal nanti."
"Kakak akan menyalahkanmu lagi menaruhku dalam bahaya, apa kau harus menceritakan semua ini."
"Jika kita tidak bertemu Shaha aku tak akan melakukan ini. Sialnya Shasha pasti akan menelepon Bibinya, walaupun dia tidak berkomplot dengan Bibinya , apa yang dipikirankan ular itu tidak bisa di tebak setelah tahu kau adalah pacatku, jadi aku harus jujur pada Eliza. Mungkin dia punya cara lebih baik melindungimu. Karena ini adalah demi keselamatanmu."
Kujelaskan panjang lebar ke Monica. Kakaknya akan menyalahkanku 100% jika terjadi sesuatu pada adik mereka. Sudah sekali mereka menyalahkanku, kali kedua mereka akan menendangku jauh-jauh dari sisi adiknya.