
"Ada belasan infected yang ditembak diluar pagar semalam. Mungkin di sekitar sini ada sekelompok infected. Camp ini dalam siaga 1 sekarang. Jadi kalian harus ingat jalur evakuasi, pelatihan kalian, bagaimana mempertahankan diri..."
Andrew mulai mengadakan briefing pagi dengan 8 orang perawat, dan dokter di shift 1 dan mengingatkan kami semua prosedure pengamanan karena dia dan enam orang lainnya bertanggung jawab untuk pengamanan medical personel dan area rumah sakit darurat ini.
"Dan kau Jen!" Dia menunjukku, pandangan semua orang tertuju padaku sekarang, dan aku tak mengerti kenapa dia menunjukku."Kau lupa prosedur pengamanan?! Pengejaran infected harus minimal mendapat backup satu orang! Siapa yang menyuruhmu mengejar infected sendiri semalam!"
"Aku ..." Aku tergagap saat dia berdiri didepanku. Pasti Susan yang bercerita pada DeAngelo dan dia mendengarnya.
"Iya kau! Kau tahu resiko yang kau ambil?!"
"Aku salah...Semalam aku hanya ingin infected itu tak mendapatkan korban, iya aku salah."
"Kau beruntung semalam, sekali lagi kau salah, bisa-bisa nyawamu yang dipertaruhkan!" Aku diam saja karena kata-katanya memang benar.
"Untuk yang lain juga kalian harus ingat jangan jadi pahlawan kesiangan, bisa -bisa kalian yang jadi infected."
Semalam hanya satu korban. Untunglah tidak ada korban lain.
"Oke kalian bisa bubar. Ingat apa yang kukatakan. Dan saat siaga 1, pisau komando kalian harus selalu dalam jangkauan kalian. Pistol kalian harus berada dalam satu ruangan dengan kalian bawa dua magazine cadangan selalu."
Kami mulai menempati post kami, beberapa pengungsi sudah menunggu kami bertugas. Beberapa keluhan ringan dan selebihnya adalah karena kondisi mereka yang tertekan karena harus kehilangan tempat tinggal sementara ini.
Aku melihat sekumpulan prajurit tampaknya diterjunkan keluar daerah aman camp. Mungkin mereka memeriksa keadaaan sekitar area camp. Serangan semalam cukup mengagetkan nampaknya.
"Jen, wanita itu..." Noah menarik perhatianku. Seorang wanita, aku mengingatnya wanita yang semalam suaminya terkena gigitan. Aku memintanya duduk didepanku.
"Apa keluhanmu Nyonya..."
"Perawat, bisa kau berikan aku paracetamol atau ibuprofen saja. Aku merasa agak demam..." Aku menatapnya dan duduk didepannya.
"Kau ada gejala diare, mual,sakit kepala? Namamu siapa..." Aku memeriksa suhu tubuh dan tekanan darahnya. Tekanan darahnya agak rendah, tapi itu biasa karena dia baru saja kehilangan suaminya. Tapi suhu tubuhnya biasa saja.
"Daisy. Tidak, mungkin sedikit sakit kepala. Tapi itu karena aku sulit tidur."
"Aku turut berduka cita Daisy." Dia mengangguk kecil mendengar perkataanku.
"Tom suami yang sangat baik. Dia memastikan kami selamat sampai disini, dan dia menerima semuanya. Tapi tak apa, aku juga tak tahu hari esok. Mungkin besok aku akan menyusulnya..." Dia tertawa kecil. Aku separuh merinding separuh sedih mendengar perkataannya. Sesuatu terpikirkan olehku...
"Tom yang menghalanginya yang tergigit, dia menerima itu untuk kami." Sebutir air mata menetes membuatku tak tahan untuk tak meneteskan airmataku juga dan memeluknya.
"Kau harus kuat untuk anakmu, hanya kau yang dia punya sekarang." Dia terisak sebentar. Aku merasakan bebannya.
"Aku tahu, aku akan kuat...Terima kasih perawat." Dia menghapus air matanya dan mencoba tersenyum.
"Bisakah kau resepkan aku pil tidur satu dosis saja. Aku sangat perlu istirahat." Permintaan yang logis. Biasanya aku tak bisa memberikan obat tidur tanpa supervisi dokter, tapi untuk wanita itu aku akan mengabulkannya.
"Baiklah, aku akan mengabulkannya permintaanmu. Tunggu sebentar..."
"Terimakasih. Kau sangat baik..." Aku berlalu ke lemari obat dan membawakannya obat yang dia minta. Dia berlalu setelah mengucapkan terima kasih, entah bagaimana aku merasa ada yang salah saat dia berlalu entah apa.
Tapi ada pasien berikut yang membuatku segera sibuk kembali dan tidak sempat memikirkan wanita itu. Cukup banyak yang datang hari ini. mungkin karena situasi semalam membuat semua orang risau. Walaupun para infantry diluar nampaknya belum ada yang terluka.
Heli Evac yang ada di lapangan sama sekali belum ada evakuasi pasca empat hari sejak infantry terjun.
Aku duduk diluar tenda kami. Susan mungkin sedang berbincang dengan DeAngelo. Dan aku sendirian dudik disebuah pohon yang tumbang, hanya sendiri melihat bintang-bintang di atasku. Setengahnya aku berdoa entah bagaimana Fred juga melihat bintang yang sama denganku.
"Kenapa kau sendirian disini..." Aku kaget karena aku sama sekali tak mendengar dia datang. Orang-orang ini mungkin terlalu terlatih berjalan dengan berhati-hati tanpa menimbulkan suara. Dia hanya memakai kaus putih dan celana cargo panjang. Dia sedang bebas tugas sepertiku tampaknya. Walaupun dia masih membawa radio komunikasi. Sosoknya selalu bisa membuatmu terpaku sejenak.
"Kau mengagetkan." Aku menjawabnya singkat. Dia duduk disampingku.
"Ini sudah jam 10, kalian bertugas mulai jam 6 kan. Belum istirahat?"
"Sebentar lagi."
"Kau tidak marah aku memperingatkanmu tadi pagi kan?" Dia meneliti ekspresiku.
"Tidak, aku tahu itu salah. Aku tak mau ada korban, itu saja. Aku tahu peringatanmu benar."
"Daerah ini belum aman, kita baru memulai 4 hari, zona yg dijadikan target operasi baru selatan dan timur. Mungkin ada gelombang serangan, walau kita harusnya bisa menangani, kecuali kalo serangannya ribuan infected, itu akan jadi sangat merepotkan."
"Apakah mungkin serangan ribuan?" Kemarin diserbu ratusan saja rasanya sudah mempertaruhkan hidup, ribuan adalah skala dimana nyawamu ada diujung tanduk.
"Mungkin saja, dan ini daerah hutan. Kita tak bisa melihat apa yang datang dari kejauhan. Bahaya mungkin tersembunyi di balik dedaunan didepan kita. Tapi pengintai sudah disebar. Sehingga kita bisa bersiap setidaknya..." Dia membuatku bergidik ngeri.