BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 67. Just Go Home


"Kau tak usah dengarkan Mom, nanti aku yang bicara padanya." Andrew yang bicara padaku sekarang setelah Ayah dan Ibunya pergi.


"Iya terima kasih."


Dia melihatku dan menghela napas. Aku tak tahu harus bersikap bagaimana kepadanya. Ini juga terasa salah karena aku tahu dia punya harapan padaku.


"Andrew, aku ..." Dia memotong perkataankum


"Kau tak kembali ke kantor hari ini menungguiku seharian, pergilah. Besok tidak usah ditunggui. Kau juga perlu istirahat. Ini sudah larut malam, semalam kau semalaman menungguiku. Besok pagi tak usah ke sini. Mampir saja malam setelah kau menyelesaikan pekerjaanmu."


"Aku akan kembali besok pagi."


"Tak usah. Malam saja." Dia tetap pada pesannya. "Aku bukan anak kecil yang tak bisa mengurus diri sendiri. Di sini banyak perawat yang bisa membantu. Susah jam 7 pergilah pulanglah istirahat. Selesaikan urusanmu sendiri besok di kantor dan kau boleh menjengukku malam."


"Apa kau marah padaku."


"Kenapa aku marah padamu?"


"Kau mengusirku." Dia meringis.


"Jadi kau mau di sini. Itu terserah padamu. Apa yang mau kau lakukan disini. Merawatku seperti aku kekasihmu? Kau tak bisa melakukan itu bukan." Dia bersikap praktis sekarang, tak ingin aku menungguinya. Mungkin kecewa dengan keadaan kami. Dia tak ingin dirinya berharap banyak, walaupun dia kemarin masih tetap berusaha. "Sudah kubilang kau tak perlu merasa berhutang padaku. Apa yang kukatakan sebelum ini saat di mobil itu lupakan saja. Aku tahu kau merasa aku memojokkanmu saat itu."


"Tidak, aku tidak merasa aku memojokkanku."


"Jika tidak, maka pulang dan istirahatlah di hotel."


"Eliz, pulanglah, bekerjalah, jenguk aku malam saja. Aku tak perlu kau tunggui." Dia melihatku dan memberi perintah.


"Kau membuatku merasa serba salah." Dia hanya tersenyum.


"Aku menyelamatkanmu tidak mengharap balasan. Jika aku tidak menyelamatkanmu maka itu akan jadi penyesalan seumur hidupku tidak bisa melindungimu, pilihanku hanya dua dan aku memilih melindungimu tanpa ragu. Anggap saja itu keberuntunganmu. Aku hanya minta jika bisa kau tak usah menghindariku, bersikap seperti dulu lagi. Aku tahu aku tak bisa memaksakan perasaanku. Jadi pulanglah bersikaplah biasa saja, aku tak akan menjadikan kejadian ini senjata." Dia melihatku lurus pada mataku. Aku mendekati bednya dan duduk di sampingnya.


"Andrew, aku hanya bisa mengucapkan terima kasih padamu."


"Itu sudah cukup." Dia tersenyum. "Apa lagi yang bisa kuharapkan." Dia bersikap begini tulus padaku. Hanya puas dengan terima kasih, ini adalah hutang yang tak bisa kubayar seumur hidup.


"Aku pulang dulu, besok aku akan membawa makan siang."


"Itu lebih baik, lihat lingkaran hitam di matamu itu. Kau semalaman tak tidur. Pergilah. Besok siang kita makan siang di rumah sakit." Dia tertawa sendiri dengan ide makan siang di rumah sakit itu.


"Baiklah, aku pergi. Jika kau butuh sesuatu telepon langsung oke. Hotelnya dekat aku bisa langsung bawakan." Masih merasa bersalah meninggalkannya sendiri.


"Iya.Jangan khawatir pergilah."


Akhirnya pergi dengan berbagai pikiran di kepalaku. Bahkan belum mengatakan ini kejadian ini kepada Gilbert. Bagaimana mengatakannya, Andrew menerima peluru untukku dan Ibunya mengharapkan aku membalas budi ke anaknya.


Jika aku tidak bersedia, apa Bibi dan Paman David akan menganggapku orang yang tidak tahu terima kasih. Mungkin mereka akan membenciku akhirnya, entah bagaimana tanggapan Albert dan Mana akhirnya.


\=\=\=\=\=