BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 84. My Hero is You 2


"Kau cemburu padanya Jenderal tampan,..."


"Sangat, dia ada di dekatmu selalu. Keluarga kalian dekat. Aku dan kau terpisah ribuan kilometer, bagaimana aku bisa menang, aku selalu khawatir aku terpaksa kehilanganmu dengan Andrew yang memberikan nyawanya untukmu..."


"Kau sudah menang. Jangan terlalu khawatir, tambah jauh aku tambah merindukanmu. Kita bertahan saja, cepat atau lambat mereka tidak akan menyetujui kita. Kau mengerti..."


"Kylie itu, apa dia cantik."


"Sudah kukatakan padamu, aku sudah terbiasa melihat wanita cantik. Tapi wonder woman cuma satu, aku hanya jatuh cinta pada wonder woman . Kau mengerti..." Aku tertawa mendengar jawabannya.


"Perayu, aku penasaran jurusmu itu kau katakan ke berapa wanita."


"Wonder woman hanya satu. Jadi hanya kau yang dirayu seperti itu." Dia meringis lebar dan mempererat peluka*nnya. Sebuah ciu*man mengapaiku dengan lembut. Aku membalasnya dengan segera. Menyisir rambutnya dengan jemariku, menciu*m wanginya semua yang kusukai tentang dia. Saat dia melepasku, dan memberikan ciuman kecil


"Perjuangan kita akan berat. Tapi tetaplah bersamaku... Perlahan kita akan melewati ini. Walau kita hanya bisa bertemu sesekali seperti ini."


"Wonder woman selalu memastikan dia setia kepada satu orang." Dia tersenyum mendengar jawabanku.


"Aku senang sekali mendapat kejutan kau datang ke sini sore ini. Mungkin aku harus berterima kasih ke Ibumu yang membuatmu marah-marah."


"Benar juga, aku punya senjata sekarang, setiap mereka marah-marah aku akan kabur ke sini." Gilbert tertawa, bersamanya membuat semua terasa lebih ringan.


"Itu Ibumu, kau jangan membuatnya kesal, kau sudah melakukan banyak hal untuk menyelamatkannya, bahkan membuat dirimu sendiri terinfeksi."


"Dan jika tak ada kau saat itu aku sudah menjadi infected. Aku sudah lama berhutang nyawa padamu, padahal aku melakukan sesuatu yang buruk padamu. Tapi kau tetap memberiku kesempatan."


"Jangan bicarakan itu lagi. Tak ada hutang apapun, yang ada hanya aku memahami alasan kau melakukan itu. Sudah kubilang itu padamu." Dia merapikan rambutku, melihat mataku dan mencium pipiku, brewoknya membuatku tertawa geli ketika mengesekkannya ke pipiku.


"Aku mencintaimu Elizabeth Dugard. Hanya itu yang bisa kukatakan."


"Aku juga mencintaimu." Perasaaan tertekan berubah menjadi perasaan berbahagia seperti ini saat bertemu dengannya. Kurasa aku tak keberatan melalui semua ini demi perasaan tersanjung seperti ini.


Ciumanku mengapainya kemudian mencari cara untuk memuaskan kerinduan dan tekanan yang menggunung untuk minggu-minggu penuh masalah yang kami hadapi.


"Kau akan memancing sesuatu jika kau menciumku begini rupa."


"Kau pikir kenapa aku ke sini Jenderal. Membersihkan rumahmu, aku lebih suka membersihkan bagian yang lain, mengeringkan persediaan misalnya..." Aku menyentuhkan diriku padanya dan mengerang senang bahwa dia sudah bangun di bawah sana.



"Kau memang terlalu luar biasa wonder woman. Baik kata-kata dan tindakan. Sangat terus terang. Mau disini saja?" Dia memegang pinggulku dengam posesif. "Sudah lama sejak terakhir, stoknya mungkin harus dikuras beberapa kali." Aku mele*ngguh senang.


"Nampaknya banyak pekerjaan melelahkan malam ini." Aku mengapai kancing kemejanya. Membuatnya tak bertahan untuk mengapai bibirku. Dan aku tak sabar untuk membuang kemejanya.


"Kau biasanya sangat bersemangat membuat dirimu kelelahan." Dia membalas dengan membuang blouseku.


"Bisa bawa aku ke ranjangmu saja Jenderal, aku ingin berada di bawahmu." Pikiranku berkabut yang aku inginkan hanyalah merasakannya kembali memenuhi tubuhku sekarang.


"Permintaanmu di terima sayang." Dalam detik berikutnya, aku sudah dalam kekuasaannya. Malam masih panjang, aku ingin terjaga sepanjang malam ini dan memeluknya sepanjang malam.


_____