BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 59. Hit the Bush


"Siapa yang menyuruhmu?" Aku langsung saja ke pertanyaan utama. Dia menatapku dan Anthony sambil berpikir.


"Tidak ada yang menyuruhku." Laki-laki yang umurnya kuperkirakan sekitar pertengahan 30 tahun itu langsung mengelak.


"Begini saja, jika kau bekerja sama, kau dan anak buahmu tidak akan di hajar habis-habisan. Bilang saja, kau bisa menghajarku sampai pingsan, lalu bilang padanya apa dia mau melihat hasil pekerjaanmu. Kau diperintah oleh Russ*el sialan itu bukan."


"Russel siapa yang kau bicarakan, aku tidak mengenal orang yang bernama Russel."


"Gilbert, kita hajar dulu saja dia. Mumpung kita punya bahan latihan gratis. Kenapa kau senang sekali berunding sekarang. Hajar dulu baru berunding." Anthony membuatku meringis lebar.


"Kau dengar dia, kupikir dia benar juga.Ya sudah hajar saja jika kau ingin menghajarnya..."


"Kau mau kupukul dimana, muka utuh atau badan utuh?" Muka orang di depanku langsung ketakutan dengan pertanyaan yang diberikan Anthony.


"Tunggu dulu, ini bisa kita selesaikan baik-baik. Kalian sudah mendapatkan mejanya, kita tidak punya masalah lagi."


"Kau terlalu banyak bicara." Anthony langsung maju kedepan. Dia langsung mengangkat tangannya.


"Baiklah-baiklah, aku bicara. Sabar dulu."


"Katakan siapa yang menyuruhmu..."


"Seseorang yang bernama Billy, dia yang mengatur pekerjaan untuk kami." Aku dan Anthony berpandangan, ini pastinya adalah penghubungnya dengan siapapun yang merintahkan pekerjaan ini. Cecungguk ini hanya diperintahkan untuk membuntutiku dan


"Kau ingin mendatanginya?" Anthony bertanya padaku.


"Jika kita mendatanginya kurasa tak bisa berdua." Aku khawatir Billy punya tukang pukul yang lebih banyak, datang sendiri dan mencari masalah ke sana bukanlah ide yang baik.


"Aku setuju, kupanggilkan tim sekarang." Beberapa tahun sejak infected turun, banyak gangster seperti mendapat tempat subur dan menjadi kuat untuk berkembang di kota-kota aman di sela-sela kehadiran militer dan keadaaan yang tidak menentu.


"Hei kau, dimana aku bisa menemui Billy itu." Orang itu menyebutkan sebuah tempat, jaringan klub malam cukup populer di kota.


"Kita kesana kalau begitu."


Kami membawa beberapa anggota tim yang bisa diandalkan untuk membantu.


"*******, bossmu ini punya banyak tukang pukul?" Anthony yang bertanya sekarang.


"Jangan samakan levelmu dengan kami. Tak berani macam-macam, aku kesana untuk macam-macam dengannya." Orang itu diam tak menjawab. "Siapa nama lengkapnya?"


"Aku tak tahu yang kutahu hanya Billy. Kami tak tahu banyak, biasanya yang bicara dengan kami assistennya. Dia yang memberi pekerjaan kepada kami."


"Bagaimana menurutmu Gilbert?"


"Kita datangi saja, bicara dulu dan minta baik-baik namanya. Kurasa dia tak akan mau sengaja mencari masalah dengan kita jika anak buahnya tak berhasil."


"Dia cukup berani menerima namamu sebagai target, kau tak mau memberinya sedikit pelajaran." Aku tersenyum.


"Bersabarlah, kita lihat apa yang dia katakan. Mungkin dia bisa jadi lebih berguna daripada kita jadikan samsak."


"Ya baiklah, kau lebih tahu bagaimana menanganinya kurasa."


Kami sampai ke klub itu. Sementara timku juga sudah tiba.


"Boss, kau ingin menghajar orang? Sangat kebetulan, sudah lama kita tidak menghajar orang."


"Ayo, bawa kami masuk. Pikirkan alasannya atau kau babak belur."


Dia membawa kami melalui pintu samping.


"Ronald? Kenapa kau kesini? Bukannya kau ada pekerjaan hari ini." Salah seorang penjaga pintu samping menyapanya.


"Aku membawa teman buat boss Snake." Snake, nama yang seram. Tapi dia bilang namanya Billy kenapa malah namanya jadi Snake sekarang.


"Kau bilang namanya Billy, kenapa jadi Snake?"


"Snake selalu memberi tugas padaku. Aku tak pernah melihat Billy..."


****bsrsambung besok


"