BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 40. Gift 2


Aku akhirnya memberanikan diri mengambil paper bag itu.


"Apa ini?"


"Hanya hadiah kecil untukmu." Aku membuka paper bagnya. Pouch kotak perhiasan Cartier, jika seukuran ini biasanya kalung. Ini jelas bukan hadiah kecil.


Kubuka kotak pouchnya, benar itu kalung. Sebuah kalung platina dengan bulatan-bulatan mini dan ada berlian kecil di setiap bulatan itu. Aku menghela napas dengan hadiah mahal ini.


"Ini cantik...pasti mahal. Berlian, ini pasti mahal. Kenapa kau harus.." Aku merasa segan menerimanya tapi dia memotong kata-kataku.


"Itu Moonlight Collection, sesuai namamu, kau suka bukan, jika begitu kau harus menerimanya."


"Itu nama yang kau berikan sendiri, bukan namaku." Dia tersenyum.


"Iya nama itu paling cocok untukmu. Jadi terimalah."


"Pemaksaan macam apa itu. Menamai orang lain sesukamu. Tapi baiklah, untuk ini terima kasih. Lain kali jangan belikan aku hadiah semahal ini. Jika lebih dari 1000 dollar aku akan menolaknya. Aku serius." Dia tertawa.


"Tidak ada aturan seperti itu, hadiah itu dari hati yang memberi. Bagaimana kau bisa menentukan harganya." Aku tak bisa membantahnya sekarang, yang aku takut bagaimana jika dia terlalu mengharapkan aku terlalu jauh, sedangkan aku tak bisa menerimanya, akankah dia dendam. Memancing kemarahan mafia Rusia jelas bukan sesuatu yang bagus.


"Itu aturanku, aku sudah memperingatkanmu, aku akan menolakny jika kau melakukan hal seperti ini lagi." Sekarang dia mengaruk kepala dan menghela napas, nampaknya kehabisan akal ketika aku berkeras. "Tapi terima kasih oke, kurasa aku sudah mendapatkan terlalu banyak hadiah darimu. Aku tak tahu bagaimana membalasmu. Kau terlalu murah hati."


"Aku hanya senang punya kesempatan mengucapkan terima kasih dengan cara yang lain. Sebuah keajaiban bisa bertemu denganmu lagi. Itu saja. Jangan kau pikir aku mengharapkan balasan darimu karena hadiah kecil itu. Pertemuan kita sangat besar artinya untukku, karena kau membelaku, aku bisa melihat diriku bersikap menyedihkan. Aku yang sekarang karena gadis umur 9 tahun yang membelaku habis-habisan. Hadiah ini bukan untuk merayumu, tapi sebuah ungkapan rasa terima kasih dari 20 tahun yang lalu."


Aku terdiam dengan kata-kata panjangnya.


"Kumohon terimalah, aku yang berhutang hidupku padamu. Bukan kau yang berhutang padaku."


"Tapi..."


"Baiklah, terima kasih..."


"Itu jauh lebih baik. Terima kasih kembali."


Mafia Rusia tampan ini kemudian tak ingin membahas tentang hadiah lagi. Dia kemudian bertanya tentang keadaan butikku, bisnis dan pekerjaan yang aku jalani, apa aku punya masalah kesehatan setelah menjadi survivor, dia nampaknya mencoba menjadi seseorang teman yang perhatian hari ini.


"Ehm, butik baru mulai ramai, aku memperkenalkan rancangan desainer lokal Canada. Beberapa koleksi luar tentu saja ada. Lebih ramai penjualan pakaian casual, aku sering live video mencoba berbagai pakaian. Mereka menyukai padu padanku. Bisnisku tak sebanding dengan Albert dan apa yang dikerjakan Monica tapi aku sangat menyukainya. Lagipula hasilnya lumayan dan bisa membuat orang bekerja untukku digaji dengan baik, jadi kadang bukan hanya nominal tapi kepuasan hati."


"Nilai uang itu relatif tapi menyukai apa yang kau kerjakan tiap hari adalah anugerah."


"Kau benar. Lagipula otakku tak sanggup memikirkan semua angka seperti yang biasa dilihat Albert dan Monica. Jika mereka bisa pergi menaklukkan dunia, aku hanya menciptakan dunia kecilku sendiri. Aku mungkin terlihat dangkal untukmu."


"Tidak, lakukan apa yang membuatmu bahagia. Kenapa kau perduli apa yang dikatakan orang lain."


Aku senang mendapat perhatian seperti itu tentu saja, aku cukup terhibur saat bicata dengannya. Sesaat aku bisa melupakan Andrew dan Anna yang sudah menjadi pasangan.


Dan satu lagi, dia tak mencoba merayuku, hanya mencoba bicara seperti biasa, kali kedua aku dan dia bicara lebih panjang dan aku sedikit bisa melupakan kekesalanku soal Andrew.


Dia akhir malam dia mengantarku pulang, hampir tengah malam kami akhirnya sampai ke apartmentku.


"Terima kasih sudah nemaniku mengobrol." Dia yang berterima kasih duluan.


"Terima kasih untuk makan malam dan hadiahnya."


"Tak usah disebutkan lagi. Istirahatlah."


Aku melambai padanya. Aku jadi berharap sesuatu, andai dia bukan Rusian... maka semuanya akan jadi lebih mudah.