BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 106. Date


"James, yang memimpin tim siapa?"


"Aku sendiri." Kupikir dia akan menyuruh orang lain.


"Ohh? Kau tak meminta Edward?"


"Kita membawa tenaga inti cukup banyak kali ini, aku yang memimpin, Edward bisa menangani penduduk di sini."


"Baiklah."


James melihat ke ruangan yang tadi kami perhatikan.


"Yang menanganinya Javier?"


"Iya, dia yang menentukan cara kami menanganinya."


Pintu UGD terbuka, Andrew masuk ke UGD. Kurasa dia mencari James, karena kami tak punya urusan pekerjaan denganku. Aku melengos pergi saja.


"Kenapa kau harus pergi."


"Tidak aku hanya ingin mengecek sesuatu yang kulupakan." Aku langsung berlalu dari depannya.


"Doc, ini harus di teruskan padamu sekarang. Obat yang kau tunggu." Samar kudengar apa yang mereka bicarakan saat menjauh. Rupanya obat eksperimental untuk pengobatan infeksinya.


Mungkin bodoh, ya bodoh, tapi aku ingin bahkan menghindari melihatnya, karena aku di tahap ingin membencinya supaya cepat melupakannya.


"Obat parasitnya." Dia memberikan sebuah kotak obat berisi 100 tablet di keterangan penggunaannya, keterangan efek sampingnya sangat panjang, aku harus membacanya dengan teliti nanti.


"Kenapa kau perlu menghindarinya. Dia yang salah bukan kau." James menyusulku ke bagian farmasi dan berkomentar tentang kelakuanku yang menghindari Andrew.


"Itu hanya caraku melupakannya. Bukan hal yang besar."


"Pergilah berkencan dengan seseorang jika begitu." Dia memang perduli tapi itu membuatku tertawa.


"Berhentilah mengkhawatirkanku, aku tak perlu teman kencan untuk membuat semuanya baik-baik saja. Kau juga tak baik-baik saja, sudah berapa lama kau tak membuka hatimu. Jangan menceramahiku." Dia diam saja, sekarang aku membuatnya berpikir bukan.


"Aku juga tak tahu. Belum ada yang membuatku tergerak. Mungkin nanti ada saatnya."


"Kau memang terlalu mudah mendapatkan wanita sejak dulu, bahkan dari SMA, tak heran."


"Aku sering mencuri dengar percakapan remaja kalian. Kau dan kakakku semacam pria populer yang sering mendapatkan surat cinta para gadis dari sejak SMA. Dan kalian menghitungnya dan taruha seperti menghitung gòl kemenangan." Dan aku sudah patah hati mendengar itu tanpa dia dia ketahui.


"Kau terlalu banyak tahu rupanya." Aku mencibirnya mendengar tawa lepasnya. "Hmm masa lalu yang indah."


"Ya begitulah, masa lalu yang indah untuk kalian." Bagiku masa indah itu berakhir saat kakakku pergi. Itu sangat singkat.


"Harusnya kau meneleponku setelah itu. Aku meninggalkan teleponku untukmu."


"Itu sudah berlalu lama, tak usah diungkit lagi. Oh ya, kau harus ingat memberikan brief obat ini ke dokter-dokter."


"Kau benar. Sekarang saja sebelum kita sibuk besok."


Dia benar besok akan sangat sibuk dan melelahkan jika harus briefing lagi.


"Kau akan ke garis depan besok Jen?" Javier menghampiriku saat kami selesai. Dokter tampan berwajah teduh itu mengajakku mengobrol setelah selesai briefing.


"Iya, operasinya diperkirakan 6 hari. Tapi mungkin pastinya akan lebih dari itu. Nanti yang mengambil alih di sini adalah Dokter Edward.


"Kau dan James itu kekasih bukan?" Satu lagi


"Ohh bukan, dia punya teman kencannya sendiri. Kami sudah kenal lama, kami tetangga dulunya, dan kami sama-sama dari rumah sakit militer El Paso, jadi sudah terbiasa dengan sistem militer."


"Ahh begitu."


"Ada apa? Biasanya wanita yang bertanya apa aku kekasihnya, baru sekarang ada yang bertanya. Apa kau menanyakannya untuk orang lain." Aku ber asumsi dia punya seseorang dalam hal ini wanita yang bertanya tentang kami.


"Ohhh tidak. Aku hanya penasaran, karena nampaknya hanya kau yang sedekat itu. Akh malah tak melihat wanita lain yang kau bilang teman kencannya."


"Tidak memang banyak yang bertanya begitu."


"Kalau begitu aku saja yang mengajakmu kencan."


Sekarang aku melonggo.Kurasa dia sedang bercanda denganku, wajahnya sama sekali tak serius.


bersambung besok.....