BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 74. My Moonlight 1


POV Monica


Aku agak meragukan kata-kata Alexsey tentang kami tak akan menetap di Moskow, dia bilang dia bisa memindahkan kantor tapi aku tahu tak akan semudah itu, malah kurasa tak mungkin memindahkan kantor pusat dari Moskow ke Kanada.


Jabatan CEO CSL Group Pusat itu adalah yang diinginkannya seumur hidupnya dan aku tak ingin pindah ke sana sama sekali.


Belakangan dia sangat sibuk, bolak balik ke US, kadang akhir pekan dia habiskan di NY atau kota lain di US, dia bilang mereka membuka kembali perusahaan baru di US karena perusahaan lama di tutup permanen. Kami jarang bertemu belakangan.


Tapi akhir pekan ini dia ada di Montreal, akhir pekan yang jarang kudapatkan belakangan terutama sejak dia kembali dari Moskow, hari ini rasanya lebih istimewa. Walaupun dia baru bisa kembali setelah makan malam, karena ada makan malam dengan kolega, tapi yang terpenting adalah dia ada di Montreal akhir pekan ini.


Belum terlalu lama aku sampai, dia juga sampai, akhirnya dia kembali. Aku mendengar suara pintu kamar dibuka dan menoleh saat dia masuk ruang duduk.


"Sayang, kau su..." Aku baru mau menanyakan apa dia sudah makan malam, ketika dia masuk kulihat wajahnya memar dan sudut bibirnya pecah. Baju dan rambutnya kacau. Dia melihatku dan merapikan rambutnya sendiri.


"Alex?! Kau berke*lahi?" Langsung kuhampiri dia. Bajunya terno*da oleh dara*h, bukankah dia membawa pengawal, kenapa dia bisa sampai terluka begini. "Kau baik-baik saja, kau berkelahi dengan siapa, bukankah Augustine mengikutimu? Kenapa kau bisa dipu*kuli. Kau berkelahi dengan siapa?" Rentetan pertanyaan yang langsung kuberondongkan kepadanya tanpa jeda.


"Aku tak apa, tak usah khawatir." Bagaimana aku tak khawatir terakhir dia sengaja ditabrak oleh sekelompok orang yang ingin membunuhnya, sekarang apa lagi yang terjadi.


Dia masuk walk in closet untuk berganti pakaian aku memburunya. Melepas pakaiannya yang ternoda dar*ah seakan lukanya hanya goresan kecil di kulitnya.


"Ini hanya berkelahi saat aku pulang, masalah hanya tersenggol, mungkin mereka sengaja mencari masalah denganku." Dia membuatku berpikir Margarita dan anaknya mengirim seseorang lagi.


"Apa mereka mengincarmu seperti hari hari kemarin?" Aku jelas khawatir. "Tersenggol? Mereka sengaja mencari masalah? Maksudmu Margarita?" Rentetan pertanyaanku tak berhenti sampai menemukan jawabannya.


"Iya mungkin. Tapi tak apa aku dan Augustine sudah mengh*ajar mereka. Tukang pukul rendahan yang tak berguna. Ini hanya mem*ar karena berkel*ahi, tak ada yang serius. Aku mandi dulu oke tunggu di sini."


Dia mengabaikan kekhawatiranku. Tapi aku jelas khawatir, apa terjadi pertengkaran besar sejak di Moskow, dia hanya berkata Ayahnya mengancam pihak Ibunya, dan tidak terjadi apapun lagi. Sekarang dia dikeroyok lagi, sebenarnya apa yang terjadi.


Saat dia selesai mandi aku melihatnya dengan pandangan khawatir. Kuambilkan cream memar untuk lebamnya. Dia sedikit meregangkan tub*uhnya, kurasa dia dipukul di bagian lain juga, hanya dia tidak mengatakannya.


"Ada bagian lain yang sakit? Kalian di kereroyok berapa orang?"


"Mungkin bagian bahu belakangku dan rusukku kena sikut, tidak serius. Lima orang tak berguna. Agustine yang sebagian besar menanganinya." Tidak serius, tapi dia mengerenyit menahan sakit. Laki-laki ini sok kuat di depanku.


"Buka bajumu biar kulihat." Aku membawa cream memar di tanganku. Ingin membuat dia mengangkat kaus putihnya dengan segera.