
Aku melihat James mendekati belukar yang bergerak. Pemandangan kami terhalang belukar rimbun, yang kami takutkan adalah gelombang infected, walaupun itu sangat kecil kemungkinannya.
James bergerak ke arahku, sementara Tommy maju terus ke rimbunan yang jaraknya mungkin sekitar 30 meter di depan kami. Dia membawa semacam tombak panjang, itu senjata yang efektif jika kau tak ingin kontak terlalu dekat.
"Apa itu infected?" Aku berbisik pada James yang sudah ada di sampingku.
"Mungkin, kadang ada yang lolos dari penyisiran kudengar, tapi mereka sudah terlalu lambat bergerak. Tommy bisa menanganinya dengan mudah."
Kami diam menunggu Tommy, dan dia hampir mencapai rimbunan itu. Tak lama terdengar suara khas serupa geraman yang menandakan kami memang menghadapi infected.
Dalam beberapa detik kemudian geraman itu berhenti.
"Tommy sudah membunuh mereka?"
"Iya nampaknya begitu."
Tommy muncul dari rimbunan pohon kemudian. Dia mengacungkam jarinya membentuk angka dua, dan tanda leher di sayat, dia sudah membunuh mereka.
"Hanya infected yang lolos dari penyisiran. Dua orang, sudah lambat." Tommy kembali bersama kami.
"Thanks Tommy."
"Itu tugasku. Kita berbeda bidang seperti katamu. Kalian menyelamatkan orang sakit, aku meyelesaikan infected." Tommy memberiku senyumnya.
"Kau mau blueberry?" Itu caraku berterima kasih.
"Jen, kau membuat orang sakit sekarang." James memperingatkanku. Ohhh ya aku harus mencuci ini baik-baik.
"Maaf...maaf aku benar-benar lupa. Untung tadi aku tak memakannya." Tommy tertawa.
Kami naik ke atas. Perlu sekitar 1 jam kurang kami sampai ke atas. Kami diantar Thomas mengunjungi komunitas dengan badge tenaga kesehatan kami.
"Terima kasih kalian menyempatkan diri ke sini di sela hari libur kalian Doc." Pimpinan komunitas menyambut kami. "Kalian pasti lelah, bagaimana kalau kalian makan dulu, atau mandi di mata air, kami akan menyiapkan sesuatu, ada beberapa yang kurang baik, tapi mereka memilih mengistirahatkan diri sendiri."
"Baiklah, jika begitu kami akan mulai jam 1? Kami ke danau sebentar, sebenarnya kami sudah membawa bekal."
Kami menghabiskan hari untuk tamasya ke danau dan mata air. Dan kembali ke pemukiman untuk mememeriksa mereka yang sakit. Dan tak beruntungnya kami, saat terakhir kami harus menangani banyak pasien yang berdatangan. Pasien tetaplah pasien, jam 4.15 kami beru selesai dengan yang terakhir.
Tommy sudah mengingatkan kami agar tak melewati waktunya lagi. Dia sudah melonggarkan satu setengah jam untuk kami.
"Matahari terbenam jam 18.20 hari ini, ini sangat riskan kita hanya punya waktu 2 jam. Bagaimana kalau besok saja kita kembali."
"Sekarang saja, harusnya jalan menurun lebih mudah. Besok kami sudah bertugas dari jam 7, kami sudah meninggalkan pos hari ini. Ayo tak apa seharusnya kita tidak menemukan halangan apapun kecuali hanya infected kehabisan energi seperti tadi." James tidak ingin kami bermalam di sini. Akhirnya kami turun dengan waktu yang mungkin tidak cukup.
"Tidak ada berhenti istirahat. Kita harus mencapai kota sebelum gelap."
"Baiklah."
Kami berangkat, dua orang pemandu memberi kami jalan memotong untuk kami, mungkin akan menghemat sekitar 20 menit perjalanan.
Aku berdoa sekarang kami akan mendapat cukup waktu.
"Ayo hati-hati Nona Jen." Tommy menjaga kami agar tetap berjalan karena kami berburu waktu jika langit
Tak lama setelah dua orang pemandu melepas kami, entah kenapa di pertengahan jalan kami mulai merasakan matahari mengelap. Ini aneh seharusnya kami masih mempunyai minimal satu jam lagi sampai segelap ini.