
Guys jangan di vote yaaa ini blm bisa vote ...simpen aja selasa baru vote 🤗🤗🤗🤗 oke oke
🔮🔮🔮🔮🔮🔮🔮🔮🔮🔮
"Perhatikan kaki kananmu!" Aku dihempaskan ke matras latihan dengan keras dan dengan cepat berusaha bangkit lagi.
Beberapa hari ini kami bertujuh melakukan latihan khusus dengan anggota pasukan khusus. Mereka dengan senang hati memberi kami porsi latihan tambahan, tentu saja kami tak serta merta menjadi petarung handal seperti mereka, tapi sekarang reflek kami jadi mulai sedikit terlatih dan kami tak takut lagi menghadapi serangan fisik.
Dan yang penting kami sedikit banyak sudah mengetahui bagaimana cara membunuh yang efektif dan cepat.
"Kau benar-benar bertekad heh,..." Andrew tersenyum kecil melihatku menatapnya seperti musuh bebuyutan.
"Jangan mengasihaniku..." Kata-kataku membuat Andrew menaikkan alis. Kami sedsberlatih mendorong musuh dan mencengkram lehernya dengan efektif dengan mengunakan posisi bertarung Krav Maga.
posisi awal kuda kuda Krav Maga
--------------------
Kaki didepan dan belakang membuat posisi diagonal dan dengan telapak tangan mendorong dagu lawan. Berkali-kali saling menghindar dari kuncian tangan lawan dan mencoba balik mengunci lawan.
Dia terlalu cepat untukku. Tekniknya sudah sempurna, tapi kecepatannya juga melatih reflekku. Ini akan berguna karena para infected itu sangat bertekad untuk menancapkan rahangnya di dagingmu.
Kami bertujuh diberi latihan ekstra dua jam. Satu jam tambahan di latihan beban tiap hari. Dan satu jamnya adalah latihan tarung dan dasar pertarungan.
Dia merangsek maju untuk mencengkram leherku. Kali ini aku berniat benar-benar membalasnya yang sudah membuat tubuhku memar-memar dan sakit dimana mana. Aku menghindar ke bawah sambil lewat di samping dan mendorongnya ke samping dan melompat mengaitkan diriku kelehernya, karena aku lebih rendah posisiku lebih menguntungkan untuk manuver bawah.
Kali ini aku berhasil jika dia infected aku sudah berhasil mengunci kepalanya sebelum aku reflek dibanting kembali ke matras untuk kesekian kalinya.
"I hate you so much!" Aku mengerenyit kesakitan sesaat. Aku sudah menang tadi dia tak perlu membantingku seperti itu!
"Sorry, itu reflek ... Fine kau menang." Sekarang dia menyesal membantingku nampaknya. Andrew mengulurkan tangannya padaku.
"Capt, itu gadis kau tak perlu terlalu keras..." De Angelo tertawa, melihat aku dengan marah menepis tangan Andrew.
"Itu benar-benar reflek, maafkan aku. Aku tak bermaksud membantingmu begitu keras." Aku masih terduduk kesakitan, sekarang aku yakin aku akan butuh fisiotheraphy setelah berkali-kali dibanting beberapa hari ini. Kakiku tampaknya terkilir setelah tadi dia membantingku dari samping.
"Kau baik-baik saja, ...." dia masih mencoba mengajakku bicara. "Kita istirahat dulu, kuambilkan minum dan obat gosok untukmu oke." Ternyata dia benar-benar menyesal.
Aku mencoba bangkit, tapi pergelangan kakiku tadi tampaknya benar terkilir. Sehingga aku terpincang berjalan dan kesakitan.
"Kita ke samping sana, mungkin sedikit terkilir tadi...pegangan padaku."
"Aku baik-baik saja." Aku berjalan sendiri tanpa bantuannya, menahan rasa sakitnya dan menempatkan diriku pada tas latihanku di pinggir lapangan latihan, berusaha mengambil krim untuk otot. Aku harus menemui Gilbert setelah ini meminta dia membantuku.
"Biarkan aku memijatnya, aku tahu tekniknya. Kami sering cedera di latihan..." Aku memberikan krim ditanganku padanya tanpa bicara.
"Aku benar-benar minta maaf ..." Dia benar tahu cara menormalkan otot kaki yang terkilir ternyata. Dia melakukannya teknik yang benar. Aku membiarkannya melakukannya tanpa bicara.
"Bagaimana kekasihmu? Kau susah mendapat kabar darinya?" Dia berusaha membuka pembicaraan.
"Belum,... dia akan baik-baik saja. Dia tahu bela diri dan pintar, dia akan kembali baik-baik saja." Itu meyakinkan diri. Aku mencoba berpikir positif bahwa dia akan kembali ke El Paso. Dia sudah berjanji.
"Kau punya kekasih... " Pertanyaanku membuatnya mengalihkan pandangan padaku. Dia tersenyum kecil tapi tak mengatakan apapun dan masih terus memijat kakiku.
"Hmm ... saat ini tidak."
"Ohh ya, setampan kau tidak punya kekasih. Kau pasti punya standart tinggi." Sekarang dia meringis.
"Aku terlalu fokus di karierku dan kadang melupakan aku punya kekasih untuk diperhatikan. Kurasa itu yang menyebabkan kekasihku sering tidak bertahan lama..." Ohh, benarkah.
Dan aku bahkan menolak lamaran Fred yang baik hati demi kuliahku. Kurasa entah bagaimana kami punya sesuatu yang sama sekarang. Entah apa ceritanya sehingga menyebabkan dia begitu mengejar karier, tapi yang jelas sepertinya bukan cerita yang baik, mungkin dia sama sepertiku punya dendam pada keadaan.
"Pria memang rata-rata begitu kurasa bukan kau saja..."
"Gara-gara pandemi sialan ini aku juga kehilangan kesempatan melanjutkan kuliahku. Tadinya mungkin sekarang aku akan duduk menghadapi buku medis lagi..." Aku bercerita tanpa diminta.
"Ohh gelar lanjutan perawat... "
"Iya untuk menjadi assiten anestesi." Aku menghela napas panjang. "Dan gaji naik minimal 50%...." Aku jadi tertawa sekarang, sekarang masih hidup dan tidak terpapar parasit saja nampaknya sebuah anugerah yang harus disyukuri.
"Infected membuat semuanya kacau." Dia menimpali.
"Apa kita akan menang?"
"Tentu saja mereka hanya manusia yang mengandalkan insting alam." Andrew memberikan sentakan terakhir untuk menormalkan otot-otot yang terkilir dan membuatku hampir berteriak kesakitan.
"Done.. Kau jangan latihan dulu besok." Dia menyelesaikan pijatannya.
"Thanks..."
"Ayo kuantar kau kembali..." Dia membantuku kembali kemudian ke mess perawat di bagian paling atas gedung ini kami berbagi tempat tidur. Aku membiarkan diriku bergelayut padanya untuk mengurangi tekanan di kakiku yang sakit.
"Apa disini cukup nyaman bagi kalian, kau pernah bertugas di lapangan sebelumnya?"
"Pernah di Kandahar 7 bulan... Tentu saja disini jauh lebih baik." Dia mengangguk.
"Kalian semua perempuan tangguh disini. Diantara ribuan laki-laki." Dia tertawa dan aku hanya tersenyum.
"Bukankah di spesial ops ada wanita juga..."
"Ada, mereka mahluk yang sangat langka. Jika wanita bisa melampaui kami biasanya itu membuat para pria sangat depresi dan kadang para pelatih sengaja menggunakan mereka untuk membuat para pria lebih tertekan, mereka sangat berbakat melakukannya, tapi wanita harus punya mental baja masuk ke spesial force. Tapi jika sudah masuk dalam kelompok kecil biasanya kami berpihak melindunginya." Aku membayangkan betapa berat menjadi wanita dalam group itu.
"Hmm... bisa kubayangkan. Di level tinggipun para pria tak akan membiarkan wanita memimpin, kau bisa bilang feminism. Tapi jejak kekuasaan pria tetap tercetak dimana-mana." Dia menatapku dengan perhitungan sekarang karena aku seperti mendorongnya dengan pernyataan gender dan feminism.
"Apa kau punya pengalaman buruk dengan senior pria... "
"Ohh tidak, pelatihanku sipil sebelum masuk ke tentara, aku sudah punya degree, tapi kurasa hal seperti itu umum dan masih terjadi. Terutama di bidang yang jarang dihinggapi wanita. Kalian juga punya harga diri untuk tidak dikalahkan wanita bukan...?"
"Kau jelas punya masalah dengan para lelaki di satu masa... " Dia tidak menjawabku dengan jawaban memadai malah membalikkan pertanyaanku pada diriku sendiri. Dia cukup diplomatis untuk jadi pimpinan kelompok.
"Dan kau... nampaknya kau terlalu sulit dijebak untuk mengiyakan pertanyaan retorika bukan."
"Kurasa kita berdua bisa jadi diplomat ..." Dan dia mengambil win-win solutions untuk menyelesaikan masalah dan menhindari perdebatan.
Kami tertawa akhirnya.
"Lain kali mungkin kita harus bicara lebih panjang..."
"Well, nampaknya kita punya banyak waktu sambil menunggu infected ini musnah semuanya."
"Tampaknya begitu..." Kurasa akan memeras otak untuk bicara dengannya lebih panjang. Tapi akan menyenangkan juga.
Kami tiba di depan asrama. Pintu ruangan kami terbuka.
"Jen, syukurlah kau disini! Di televisi ada berita mereka meratakan area Pleasant Grove...." Susan tiba-tiba bicara dengan begitu cepat.
"Apa!?"
Maksudnya meratakan?! Dengan bom cluster?!
🖤🖤🖤🖤
Pengumuman : Captain Andrew Single yang mau daftar sihlakan dibawah kasih CV
Question: Thor ini Action Thriller apa novel.bucinan Mikhail.
Answer : Dua-duanya 🤣🤣🤣🤣🤣