
Keluarga Russel di pimpin oleh Hendry Russel, Ayah dari Adrian Russel. Keluarga ini punya warisan kekayaan keluarga dari nama besar Kakeknya, Ferdinand Russel.
"Gilbert, keluarga Russel menghubungiku dan bilang mereka ingin jadi investor utama di proyek retail kita." Bossku memberikan kabar yang membuatku melihatnya dengan heran.
"Boss kau tahu kita sudah melakukan transaksi final dan proyek sudah berjalan dengan investor utama yang sudah ada. Dugard adalah investor utama dan tak akan ada perubahan lagi dengan list investor utama termasuk keluarga kami."
"Aku tahu, sudah kukatakan pada mereka. Aku hanya ingin kau tahu karena mereka berkeras melobbyku, walaupun yang meminta kesepakatan adalah Adrian Russel, kudengar dia memang punya masalah denganmu. Dan anggap saja dia sengaja ingin membuat kekacauan memanfaatkan nama besarnya."
Anak bungsu yang sengaja mencari masalah karena egonya tersinggung dan ternyata dia tidak berhenti sampai disitu saja.
Aku dan beberapa kolegaku sedang berada di sebuah pub. Kami berjalan masuk dan mendapatkan meja, ketika beberapa orang mendatangi kami.
"Mungkin kalian tak tahu, tapi ini tempat kami jadi menyingkirkah." Sekelompok orang yang nampaknya sengaja mencari masalah membuat tiga dari kami berpandangan
"Apa ada tertulis di meja ini nama kalian. Jika tidak menyingkirlah." Aku memperhitungkan situasi mereka lima orang, hanya Anthony yang bisa berkelahi di pihakku. Tapi lima cecunguk ini nampaknya hanya besar badan dan gertakan doang.
"Kalian mau berkelahi, atau mau menjadi samsak latihan?" Anthony menambahkan affirmasi dia tidak keberatan berkelahi sekarang. Nampaknya dia percaya diri kami bisa mengalahkan cecungguk pengertak ini.
"Sombong sekali. Keluar kita selesaikan ini. Kita lihat apa mulut besarmu sesuai kemampuanmu." Kelompok orang ini dengan segera melayani tantangan kami.
"Ohhh sangat bagus, ternyata aku bisa sedikit olahraga malam ini. Gilbert kau ikut?"
"Tentu saja." Aku segera mempersiapkan diri, kemungkinan besar yang menyuruh mereka adalah Adrian Russel. "Siapa diantara kalian yang adalah ketua gengnya, kau bukan?" Aku menunjuk yang terakhir bicara. Dia yang akan kugantung setelah ini.
"Aku tak bisa membantu kalian, aku benar-benar tak bisa berkelahi." Satu orang kolegaku langsung angkat tangan.
"Tak apa Willian , anggap saja tontonan gratis. Sihlakan nikmati." Dia meringis dengan kata-kataku.
Kami sampai di belakang pub kemudian. Lapangan parkir itu cukup terang untuk menjadi tempat bertarung.
"Majulah, kalian ini cuma badan besar saja, otak dan tenaga tak ada." Anthony dengan senang hati memanaskan suasana.
"Kau paling banyak omong. Hajar mereka!" Lima orang menyerbu ke arah kami. Kami langsung membagi posisi kanan dan kiri, menyerang titik untuk melumpuhkan mereka dengan cepat sebelum mereka bisa menyadarinya.
Satu orang tertojok tepat di ulu hati, satu orang jatuh karena terkait kakinya oleh Anthony dalam 2 detik pertama. Bogem mentahku bersarang di sarang satu orang yang lain TKO dia langsung tak bisa berdiri karena itu, yang satunya perlu bertukar pukulan sekali sebelum dia sadar kecepatanku bukan hal yang bisa dilawannya, pukulan telak ke uku hati sukses membuatnya tak bisa bangkit lagi.
"Sekarang tinggal kau, kau ada kata-kata terakhir." Aku dan Anthony berkacak pinggang menghadapi sang ketua geng sekarang.
Dia membelalak melihat 4 orang tukang pukulnya tumbang dalam kurang dari 15 menit.
bersambung besok
yang kemarin ke doble ud diperbaiki ya