
"Tak usah minta maaf. Aku hanya terlalu merindukanmu." Kata-kata ini membuayku terlalu melayang rasanya berbahaya jika terlalu mempercayainya, seperti mimpi yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan.
"Kita makan malam oke. Oh ya... aku membelikanmu ini." Dia membawakanku bouquet bunga mawar ternyata. Merah. Aku tersenyum lebar.
"Terima kasih Ini cantik sekali. Aku menyukainya, aku lupa kapan terakhir kali seseorang membelikanku bunga.
Dia ikut tersenyum dan mengemudikan mobil ke hotelnya. Makan malam itu dipenuhi senyum dan tawa. Dia menghindari pembicaraan tentang bisnis dan matanya menatapku membuatku aku merasa akulah pusat perhatiannya malam itu.
"Bagaimana pertemuanmu dengan Albert."
"Dia tertarik, aku diminta mengirim proyeksi lengkapnya. Nanti dalam mungkin duà minggu lagi aku akan membawa tim lengkap untuk presentasi ."
"Ohh, dua minggu lagi kau akan kesini lagi." Itu berita bagus setidaknya tidak menunggu lama untuk melihatnya lagi. "Itu akan menyenangkan."
"Benarkah? Kau senang aku kesini."
"Iya tentu saja. Kenapa aku tak senang." Aku tersenyum lepas padanya. Jenderalku yang terlihat tampan malam ini.
Nikmati saja walaupun aku harus melepasnya nanti. Putus cinta bukan akhir dari segalanya.
Dadaku berdebar saat aku tiba di kamarnya, rasa merindukannya ini, deb*aran ini membuatku lem*as. Dia menarikku dalam p*eluk*annya tanpa bicara dan aku langsung meminta cium*annya saat duduk di pa*ngku*annya. Langsung ke pe*raduannya.
"Apa kau merasa ini terlalu cepat." Dia membuka resletin*g dressku dan merasakan k*ulitku dengan jemarinya. Aku mengerang dan memeluknya.
"Tidak. Aku juga menginginkanmu..Sekarang, tak usah bersikap terlalu sopan Jenderal." Cu*mbuannya menyasarku, dan pikiranku membuat tubu*hku merespon terlalu jauh, aku sudah siap untuknya saat dia menyent"uhku dibawah sana.
"Kau bas*ah ..." Dia menyent*uhku dengan bagian dari dirinya. Napasku tertahan, aku menginginkannya sekarang juga.
"Dan kau sangat ker*as." Sebuah cium*an panjang yang membuatku meng*era*ng dibawahnya, saat dia menerobos ke inti tub*uhku.
"Ini hanya untukmu."
"Hanya untukku? Kau berkata terlalu manis?" Itu terlalu manis untuk dipercayai. Benarkah, sekarang aku hanya satu di hatinya. Benarkah bukan karena aku di bawahnya sekarang. Tapi perasaaan tersanjung ini begitu melenakan.
"Kau tak percaya Eliza?" Sebuah sentakan membuatku mengerang panjang . Tangannya melakukan banyak hal yang bisa membuatmu menger*ang lupa diri.
"Aku serius soal itu." Aku tertawa kecil.
"Aku tersanjung kalau begitu Jenderal."
"Kau punya yang lain?" Sekarang tiba-tiba dia mengatakan hal yang tak pernah kuduga. Apa dia bisa cemburu padaku. Aku tergagap pada pertanyaan itu.
"Tidak... tentu saja...." Dia menatapku dengan serius, apa yang dia harapkan, aku setia untuknya. Atau itu hanya egonya yang tak mau dikalahkan yang lain. Dia memelukku dengan erat tanpa mengatakan apapun. Sebuah ciuman tiba-tiba membuatku tak bisa bernapas.
"Kau milìkku, hanya milikku." Kata-kata ini menbuatku melayang. Dan pelukannya mengetat sedemikian rupa, iramanya menghentak tubuhku. Kusadari dia tidak memakai pengamannya. Bagaimana jika sesuatu terlepas tak terkendali. Aku belum siap dengan situasi ini.
"Gilbert, kau tidak memakai pengaman jangan lupa." Aku hampir diujung karena irama yang dibawanya dan dibuatnya, kurasa dia juga, tapi aku tak mau dia lupa bahwa dia tidak bisa melakukannya di dalam.
"Bagaimana jika aku melakukannya, mambuah*imu sekarang dan membuatmu ha*mil." Kata-katanya membuatku terlempar kembali ke dunia nyata, aku membuka mataku.
"Kau jangan bercanda."
"Kau tak mau?" Dia menyelidiki mataku. Dia berhentu bergerak untukku.
"Jenderal, please ... Kau membuat semuanya buyar. Apa yang kau bicarakan, kita belum pernah membicarakan ini." Aku meminta dengan kesal, aku diujung sentakannya dan tiba-tiba itu berhenti dengan pertanyaan yang jawabannya aku sendiri tak bisa menjawabnya. "Apa yang kau bicarakan, kita belum pernah ...."
"Aku akan lakukan sekarang."
"Maksudmu?" Dia mempercepat dirinya, mengunciku dibawahnya. Aku tercekat, apa dia gila, kami belum membicarakan ini. "Gilbert, kau tak serius bukan. Tunggu dulu." Kuncian ini aku dalam kekuasaannya sepenuhnya.
"Apa kau punya yang lain di sini?" Dia tak melepasku dan tetap pada iramanya. Napasnya dan sesuatu di bawah sana berubah. Dia serius soal ini. Dan jika ini berlanjut gabungan kecemburuan ini akan jadi berbahaya.
"Tidak... Tunggu dulu. Gilbert. Apa yang kau lakukan."
"Eliza..." Sebuah sentakan, perasaan hangat, geraman pelepasan membuatku tercekat. Dia melakukannya. Apa ini?! Apa yang dia lakukan.
"Gilbert? Kau ...."