
POV Gilbert
"Gilbert? Apa yang kau lakukan?"
Aku menguasainya dibawahku. Rasa dia mungkin memperlakukan hubungan kami hanya sebagai selingan membuat egoku terpancing. Dia punya yang lain? Pria lain di Kanada?
Dia mencoba mendorongku. Tapi berat tubuhku menguncinya. Dan aku menciumnya, yang langsung ditolaknya.
"Gilbert, lepaskan aku." Dia marah. Aku menangkap tangannya.
"Aku serius mengajakmu tinggal di US, saat aku bertanya kemungkinan kau membuka kantor di sana. Apa kau menganggap hubungan kita tidak mungkin sama sekali."
"Aku tidak berkata tidak mungkin, tapi apa yang kau lakukan padaku sekarang. Jika sesuatu terjadi apa kita siap? Kenapa kau? Apa kau kehilangan logikamu!"
"Aku tak keberatan ..." Aku sangat bersungguh-sungguh dengan kata-kata itu. Baru sekarang aku tak bisa melepaskan pikiranku dari seorang wanita. Aku tak keberatan hidup bersamanya, tapi mungkin aku lupa ini bukan tentang egoku sendiri. S*hit!
"Aku keberatan! Ini tubuhku! Kau harusnya meminta persetujuanku. Apa kau terbiasa memaksakan kehendakmu begini." Dia marah padaku sekarang. "Lepaskan aku!"
Aku melepaskannya, dia langsung berdiri, mengambil pakaiannya, dan ke kamar mandi dengan membanting pintu. Sial! Kali ini aku bukannya memperbaiki keadaan tapi membuatnya marah besar. Aku tak berpikir panjang melakukan itu tadi. Dorongan itu terjadi begitu saja. Aku memakai pakaianku kembali. Dia keluar dengan baju lengkap dan mengambil tasnya.
"Kau mau kemana?" Aku meraih tangannya. Dia masih melihatku dengan marah.
"Kau pikir apa yang kau lakukan tadi, kau bangs*at, jika sesuatu terjadi apa kau pikir aku siap?! Aku mau ke pharmacy membeli pill kontrasepsi dan pulang!"
"Jangan pergi." Aku menahan tangannya.
"Aku punya obatnya." Matanya membulat sekarang.
"Kau? Kau punya obatnya?" Sekarang dia melihatku dengan ekspresi menuduh dan tak percaya apa yang dia dengar. Pasti aku terlihat seperti pla*yboy ban*gsat yang siap sedia apapun, agar tak terlibat masalah. "Kau benar-benar... "
"Ba*ngsat, ya aku tahu, katakan saja apa yang kau ingin katakan. Aku dulu juga tidak siap menghadapi tekanan serius di luar karier. Tapi kumohon jangan pergi. Aku bersalah padamu tapi kita bisa membicarakan ini. Kumohon Eliza... Jangan pergi." Aku menahan tangannya akan kulakukan apapun agar dia tidak pergi.
Dia memandangiku sesaat.
"Jangan pergi kumohon. Aku salah melakukan itu, tapi jangan pergi." Wajahnya melembut, aku menariknya ke sisiku. Tapi dia tetap tak bicara padaku.
"Eliza, bicaralah padaku."
"Sekali lagi kau lakukan itu aku akan membunuhmu." Dia sudah kembali, lebih baik dia mengatakan ingin membunuhku daripada dia diam saja tanpa bicara.
"Aku Ayah anakmu, kau tega membunuhku." Aku tersenyum padanya. Tapi dia mengabaikan senyumku.
"Kau bangsat." Dia meninju lenganku sekuat tenaga, itu sakit. Tapi aku menerimanya, tapi ketika dia ingin mengulanginya lagi, kali ini aku menangkap tangannya dan memeluknya.
"Baiklah, cukup. Aku minta maaf. Benar-benar minta maaf padamu. Tapi aku tak keberatan jika seandainya kau ..." Dia memelototiku. "Baiklah, tak akan kubicarakan lagi kebodohan ini
"Mana obatnya." Aku mencari ke tas kerja yang selalu kubawa dan memberikan strip after morning pill itu. Ada rasa tidak rela ketika dia mengambil pill itu dari tanganku. Tapi apa yang bisa kulakukan, jika dia tidak bersedia. Ini memang tak benar. Aku melangkahi semuanya bahkan keluarganya.
"Kau akan tinggal bukan?" Dia melihatku tapi mengabaikanku, membuka stripnya dan meminum pillnya. Aku menghela napas melihatnya. Pikiranku membuat permohonannya sendiri jika ada satu yang tiba-tiba lolos dan berhasil mencapai tujuannya.