BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 37. Two Tower 3


"Baiklah. Ayo." Aku senang Monica mengusulkan begitu sebenarnya. Bisa berjalan bersama orang yang disukai dan bekerja bersama.


"Bagaimana kabarmu?" Dia melihatku sambil kami melangkah bersama.


"Aku baik." Aku tersenyum padanya.


"Merindukanku wonder woman?" Aku melihatnya sebelum memikirkan menjawabnya.


"Kurasa sekarang lebih baik menjawabnya tidak Jenderal." Dia tertawa. Aku hanya mengulum senyumku.


"Baiklah, mari selesaikan bisnis dulu. Aku senang bertemu denganmu di sini, kejutan yang menyenangkan. Terima kasih mau berjalan bersamaku di sini."


Aku hanya tersenyum padanya dan kami kemudian menyapa beberapa orang, kadang mengenalkannya dengan beberapa orang karena kebanyakan aku mengenal orang-orang yang ada di sini.


"Mashkov itu menggoda adikmu?" Dia masih penasaran soal Monica.


"Dia hanya mencoba keberuntungannya. Monica membencinya, Monica sering menghadapi orang yang tergila-gila padanya. Biarkan saja. Dia tak akan berani macam-macam, aku sudah mengancamnya."


"Well, hajar saja jika dia berani macam-macam."


"Bisa minta tolong kau menghajarnya, tadi Monica mencoba memancingmu." Aku mengikuti cara Monica sekarang.


"Kau serius?" Apa dia akan melakukannya untukku? Sekarang aku penasaran.


"Jika aku serius apa yang akan kau lakukan?"


"Aku harus memutar otak mencari gara-gara dengannya tentu saja. Tak mungkin kau datang dan langsung menghajar orang, itu namanya melakukan kebodohan." Dia mau membantuku ternyata, aku tersanjung. "Aku bertanya apa kau serius dengan permintaanmu?"


"Aku bercanda tentu saja. Tapi terima kasih bersedia melakukannya." Sang Jenderal melihatku dengan ekspresi aneh. Mungkin kemudian dia menyadari aku hanya mencoba mengetesnya. Aku menyembunyikan senyumku.


"Wonder woman, kau memang senang mengetes orang dari awal bukan."


"Aku hanya mencoba mengikuti gaya Monica." Aku tertawa sekarang, menyenangkan mendapatkan seseorang dengan rela melakukan apa yang kau inginkan dan memikirkannya dengan serius.


"Ada acara malam ini, ikutlah denganku." Sekarang dengan cepat dia membalasku.


"Besok aku masih ada meeting pagi. Aku tak ingin bersamamu malam ini Jenderal." Aku mengandeng lengannya dan membawanya ke tempat Monica menunggu.


"Iya lebih baik begitu."


Kami menghampiri Monica di meja dia menunggu, tapi kemudian kami sadar dia sedang bersama seseorang. Alexsey lagi?!


Pria ini apa dia benar-benar sedang menggoda Monica. Monica menyilangkan tangannya di depan dada. Dia bicara dengan ketus jika tak menyukai seseorang.


"Kenapa kau di sini lagi Tuan Mashkov?" Aku langsung bertanya dengan tak senang. Aku juga tak suka dia mendekati adikku.


"Dia sendiri disini aku hanya berusaha menemaninya. Kau kejam sekali Nona, aku hanya ingin teman bicara, apa yang bisa kulakukan di tempat umum begini." Dia masih senyum-senyum ke Monica yang sudah memasang muka sebal padanya.


"Sudah kubilang aku tak perlu kau temani." Sekarang Monica yang langsung menjawabnya. "Mana blondemu itu, kalian berdua sangat cocok bersama."


"Kau tak suka assistenku, aku akan mengatur dia tak muncul di depanmu tentu saja."


"Kau terlalu banyak bicara Tuan Mashkov, kau tak dengar jawabannya, dia tak ingin kau ada disini." Sekarang Gillian ikut mengusirnya.


"Kenapa kau senang sekali mengurusi yang bukan urusanmu Tuan Gillian."


"Aku yang membantu Eliza menemukannya di Labmu saat orangmu menyuntiknya dengan inang infected untuk catatanmu. Kau yang tak punya urusan disini." Gillian ikut melipat tangannya di depan dada. "Pergilah sana."


"Sok pahlawan sekali."


"Jenderal Gillian memang pahlawanku, jika tidak mungkin aku sudah jadi zombie lagi dan Ibuku entah bagaimana nasibnya memikirkanku." Monica membalasnya dengan ketus. Sekarang Mashkov diam.


"Baiklah-baiklah, aku hanya ingin menemanimu bicara. Sudah kukatakan padamu aku tak punya ide penculikan itu. Tapi baiklah jika kau masih menyalahkanku aku akan pergi." Dia melihat ke Monica yang menyalahkannya dan beranjak pergi. Monica tak mau melihatnys sama sekali.


"Akhirnya dia pergi juga." Sekarang kami hanya bisa menatap punggungnya menjauh.


"Jika dia menggangumu, hajar saja dia, seperti Kakakmu menghajar Dave Thomas. Muka tebal seperti itu memang harus di hajar biar sadar. Jika tidak telepon saja aku, akan kupastikan doa tak muncul lagi."


"Jenderal Gillian memang yang terbaik, benar bukan Kakak."


Aku hanya tersenyum padanya. Dia baik, tapi aku tak bisa memilikinya. Rasanya itu bukan hal yang baik, tapi membuatku menderita.


Atau mungkin di masa depan ada jalan untuk kami?