
Sebuah suara menyelamatkanku.
"Bangs*at!" Aku melihat ke arah suara, kurasa suara seorang patroli keamanan. Aku tak mengenal suaranya. Di keremangan terdengar langkah-langkah cepat menghampiriku kemudian pukulan dan perkelahian.
"Nona Jen, maaf aku datang terlambat. Apa yang dia lakukan padamu. Maafkan aku." Donna datang menolongku.
"Tak apa." Aku tahu dia akan kembali. Tapi tindakan ini diperlukan, lebih baik meletuskan bisulnya daripada menahan sakitnya berlama-lama. Ini pasti biru dan lebam, wajahku juga sakit. Tapi Donna mengalami ini berbulan-bulan, dia mengalami ini mungkin puluhan kali, demi bertahan hidup demi adiknya.
Sementara di depan kami prajurit itu menghajar pria itu tanpa ampun.
"Berani sekali kau memukul wanita! Bangsat! Dia perawat! Bajingan!" Sumpah serapah itu untuk membayar tamparan dan tonjokan yang dia lakukan padaku berkali-kali lipat.
"Ikut!" Prajurit menyeret, lebih tepatnya menendang ke depan pria itu yang sudah berdarah-darah bekas hajarannya itu. "Nona lebih baik kau mengantar perawat Jen ke UGD, nampaknya dia perlu perawatan."
"Iya baiklah."
"Nona, ayo kau bisa berjalan? Atau aku mengambil kursi roda saja kau tunggu di sana?"
"Tak apa,... aku berjalan sendiri saja. Wajahku merah?" Aku belum melihat keadaanku, tapi kurasa tonjokan yang menghantam tadi sempat ku blok sehingga tak begitu telak.
"Sedikit Nona, kau ditampar dan di tonjok? Apa perutmu baik-baik saja kulihat dia menendangmu?"
"Tak apa, yang penting kau aman. Yang penting kau jangan sampai kalah dengannya, disini dia tak bisa menyentuhmu. Kau harus ingat itu."
"Iya Nona, tadi harusnya aku harus langsung berteriak. Maaf aku malah menyusahkanmu begini."
Kami sampai di UGD kemudian.
"Apa yang terjadi padamu!?" James hampir berteriak melihat keadaanku.
"Dok, tadi perawat Jen menolongku dari orang yang ingin memukulku. Tapi orang itu sekarang sudah dibawa keamanan. Dia ditampar, ditonjok dan di tendang." Donna yang melaporkan keadaanku pada James.
"Dia memukul kepalamu. Kau merasa pusing?"
"Tidak." Aku hanya menggeleng.
"Sesak napas? Kuperiksa area perutmu. Ayo ke bed."
"Tidak usah, aku tahu keadaanku sendiri."
"Tak usah membantah Jen. Kau tidak keluar dari sini sebelum aku memastikan keadaanmu. Ke bed periksa." Baik-baiklah aku terpaksa menurut saja.
Dia memastikan tak apa seperti yang kukatakan.
"Aku akan memastikan yang melakukan ini akan membayarnya."
"Usir saja dia keluar kota aman karena dia memukul wanita seperti pengecut." Itulah tujuanku menanggung ini, membuat pria itu dikeluarkan dan tidak bisa menggangu Donna lagi.
"Siapa yang membawa pria itu."
"Seorang prajurit keamanan yang bernama Frank Doc aku memanggilnya saat dia sedang lewat."
"Baiklah aku akan mengurusnya. Kau kembali ke kamarmu. Kim akan mengambilkanmu obat nyeri agar setidaknya kau bisa istirahat malam ini. Donna ikutlah denganku melapor." Dia memberikan resep ke Kim.
"Iya."
Tak lama merekapun pergi. Aku mengambil makanan untuk dimakan di kamar. Mengompres luka, membersihkan diri, minum obat dan bersiap beristirahat. Tadinya aku tidur bertiga di kamar ini, ada Susan yang telah pergi, teman sekamar yang lain bertugas di shift malam, jadilah aku sendri
Seorang kemudian mengetuk pintuku. Jangan-jangan James melapor ke paling atas langsung? Ke Andrew?
bersambung besok