BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 11. Irina Mashkov


"Anna tolong kirimkan bunga ke Monica." Anna tersenyum dengan permintaanku. Jumat akhir pekan itu aku sudah menerima laporan awal soal Anna, benar dia bersekolah di tempat yang sama denganku 20 tahun yang lalu, tapi kemudian aku tahu dia pindah. Itu sebabnya aku tak bisa menemukannya saat itu.


"Kau ingin menuliskan pesannya sendiri?"


"Iya." Anna mengambilkan kartu pesan yang dia sudah persiapkan sebelumnya dan aku menuliskan pesan yang ku inginkan.


...'*Maaf untuk apa yang terjadi sebelum ini. Aku bersumpah aku tak tahu soal penculikan itu....


...Alexsey Mashkov*.'...


"Ini." Kuserahkan kartu yang sudah kutulis sendiri itu ke Anna. Kuduga dia akan membuang bunganku ini. Tapi ini adalah alasan untukku bisa mengirim pesan permintaan maaf padanya jadi tak apa.


"Yang mana?" Anna membawa sebuah katalog bouquet bunga yang bisa kupilih. Aku memilih sebuah bouquet mawar berwarna campuran yang cantik.


Aku dan bunga-bunga ini sedang berusaha minta maaf kepada Dewi Bulan, jika ini tak berhasil akan kukirimkan gerombolan lain di minggu berikutnya. Itu rencanaku, kesalahanku bukan hal yang mudah untuk di maafkan.


"Bunga mungkin terlalu biasa untuknya. Mungkin ini akan berakhir ke tong sampah."


"Makanya kupilih yang punya vas agar dia tidak membuangnya ke tong sampah. Setidaknya itu bisa dipajang di lobby." Anna meringis mendengar ideku.


"Monica yang beruntung."


"Oke. Kuberitahu jika dia sudah menerimanya nanti. Dan Bibimu Irina ada di sini."


"Bibi Irina, akhirnya dia kesini."


Bibi Irina, adik Ayah, suaminya punya bisnis cargo antar benua, nampaknya bisnis sudah mulai berjalan lagi, biasanya dia berkunjung ke US, tapi aku mengacaukan bisnisku di US, perlu waktu memulihkannya lagi. Dia orang yang mendukungku sejak dulu umur 13 tahun aku diasingkan ke Kanada oleh Ibu tiriku.


Ibuku meninggal saat enam bulan setelah dia melahirkanku, setahun kemudian Ayahku menikah lagi dengan Margarita Jovovich, seorang putri kolongmerat Rusia yang menganggap keluarga Ibuku tak sebanding dengannya, dia membullyku sejak dia menjadi istri sah Ayah.


Ibu tiriku yang kejam, adik kembar laki-lakiku muncul setahun kemudian dan kemudian adik tiri perempuan. Hanya berbeda dua tahun umurnya dariku, dan jelas aku tak punya kesempatan melawan ular itu di rumah kami. Dia tidak suka padaku jelas saja, Ayahku sibuk, aku selalu merasa seperti berada di panti asuhan walaupun ada di rumah sendiri.


Hanya Bibi Irina yang kasihan padaku. Dia bilang padaku untuk belajar dengan giat agar Ayah bangga padaku. Dan jika ada apapun aku bisa bicara padanya sebagai pengganti Ibu. Aku menurutinya tapi itu rupanya pedang bermata dua.


Karena aku punya nilai bahasa asing sempurna sejak high school, aku dikirim ke sekolah asrama oleh Ibu tiriku dengan alasan untuk memperoleh pengalaman di luar negeri. Ayahku setuju dengan bujukan Ibu tiriku, aku dibuang ke Kanada di usia 13 tahun. Dan saat itu aku merasa tak ada gunanya aku hidup, lebih baik menyusul Ibuku di surga.


Bibi Irina tahu secara mental aku telah dipatahkan, berusaha mengantarku ke Kanada, bicara denganku sebisanya, menyemangatiku. Mengunjungiku jika dia punya waktu luang, memintaku pulang setiap liburan akhir tahun, tapi seperti yang kubilang aku sudah di titik di merasa tak ingin hidup lagi. Mungkin dua tahun awal di Kanada adalah masa terberatku, sampai akhirnya aku bertemu dengan Svetluny-ku. Aku baru bisa bangkit dan berpikir untuk berjuang hidup.


Dengan bantuan Bibi kemudian, aku perlahan bisa berdiri mandiri, punya tujuan mengalahkan ular berbisa itu dikepalaku, sementara membiarkan Ayah dikuasai oleh Ibu tiriku, aku bertahan hidup di Kanada, belajar bisnis, ikut bisnis pertamaku dengan temanku saat aku bahkan baru berusia 16 tahun, dengan modal kepercayaan, untungnya aku tidak mengalami ditipu atau semacamnya saat ikut kakak temanku membuka restoran dan pub pertama kami, dengan bantuan modal dari Bibi dan suaminya.