
Hot Springs, Arkansas. Aku penasaran dengan kota baru kami.
Dalam dua hari kami bersiap-siap berangkat, mengumpulkan logistik kami. Kami seperti pindah kota dan pindah rumah sebenarnya. Kami sudah terbiasa sekarang, asal ada air bersih, listrik dan persediaan makanan, naungan bangunan, mungkin sudah bisa dikatakan kau hidup mewah untuk kondisi sekarang.
"Hot Spring itu kota resort. Sangat indah, pegunungan, kota musim panas. Aku menyukainya, banyak hotel di sana. Lingkungannya bagus jika kita bisa menjadikannya kota aman." Susan antusias dengan keberangkatan kami. Aku tersenyum dengan semangatnya. Mungkin ini ganjaran bulan madu juga untuknya.
"Semoga semangkin banyak kota aman. Kita nampaknya kita bisa menekan penularan baru dengan protokol keamanan sekarang. Walaupun kadang aku merindukan steak dan salad."
"Kau tidak akan merindukannya, tak ada bagusnya berubah menjadi zombie sebelum kita menemukan pengobatannya." Ya dia benar tak ada yang ingin berubah menjadi zombie sekarang.
"Andrew akan menjadi wakil komandan kota, si tampan itu memang punya kemampuan nampaknya." Susan memuji Andrew sekarang.
"Hmm.. iya kau benar, nampaknya Komandan mempercayainya. Tapi baguslah kita bisa berkerja dengan orang yang kita dekat bukan. Rasanya selama ini kita berdua dan group mereka sudah seperti keluarga kedua. Tapi kau memang keluarga mereka. Aku senang bisa bekerja bersama kalian."
Kota baru, aku harap dengan kesibukan kami mengawal kota baru ini aku bisa melupakan Fred perlahan. Membunuh harapanku perlahan, merelakan takdir berkata lain. Atau apapun itu namanya.
"Aku punya perasaan bagus. Kota ini mungkin akan jadi rumah kita. Entah kapan kita bisa kembali ke El Paso. Bagaimana Ibumu? Dia baik?"
"Dia baik, jauh lebih baik dari sebelumnya, dia tidak minum lagi, makan makanan sehat, selalu bersyukur dia di kota yang aman. Dia tahu aku belum bisa pulang, tapi dia saat kutelepon selalu menyemangatiku dan berkata tak usah khawatir padanya, dia punya banyak teman yang bisa mensupportnya di sana, kau tahu hubungan kami malah tak pernah sebaik ini sebelumnya. Tahun-tahun sebelumnya kuhabiskan dengan membencinya." Kami berbaikan di saat kiamat melanda. Hidup memang aneh.
"Mungkin lebih baik jauh tapi saling merindukan, daripada dekat tapi saling membenci." Susan membuatku meringis.
"Ya kau benar juga, itu entah kenapa terasa lebih baik."
Kami melihat persiapan besar di barak. Kompi prajurit enginer juga sudah memuat logistics.
"James. Kami sudah menyelesaikan logistik yang kau minta. Sudah di pak semua dan naik." Aku melapor padanya.
"Ohh baik, kalian sudah siap?"
"Sudah, katanya itu kota yang indah. Akan menyenangkan kurasa."
"Bagaimana perasaanmu?"
"Perasaan...Hmm, entahlah, baik kurasa." Dia tersenyum padaku. "Jangan khawatir, aku berfungsi 100%. Dipercaya sebagai Kepala unit medis di kota resort yang indah dengan kalian orang-orang yang kukenal dekat Itu sebenarnya hadiah di saat-saat seperti ini." Senyumnya menular padaku sekarang.
"Bagaimana kau sendiri, entah bagaimana kurasa kau juga berubah."
"Aku merelakan apapun yang akan terjadi dan sudah terjadi." James menganguk.
"Belakangan rasanya, kita hanya harus melepas apa yang bukan kuasa kita mengaturnya."
"Iya."
Kamì sama-sama terdiam.
"Setidaknya aku masih dipercaya menjagamu. Aku masih perlu tujuan hidup." Aku tertawa.
"Ohh ayolah ********, aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Aku tahu. Tapi jika tidak berusaha untuk orang lain hidupku terasa hampa. Sekarang selain kau juga ada satu kota yang harus dijaga."
"Kita akan sibuk."
"Besok kita berangkat ke kota resort. Anggap saja kita liburan ke mata air panas. Akan menyenangkan."
"Pasti menyenangkan, kita semua keluarga."
Hot Spring. Kami datang untukmu.