
Aku membuka pintu. Kutemukan Andrew yang berdiri disana.
"Apa yang terjadi padamu? Kau dipukul?" Dia langsung memegang wajahku yang memerah. Walaupun kejadian malam itu membuat kami dekat, tetap saja aku belum terbiasa. Aku beringsut menjauh darinya.
"Ini bukan luka serius, paling hanya memar. Jangan khawatir." Aku membiarkannya masuk. Tak ingin yang lain bertanya-tanya ada apa demgan kami.
"Hanya memar?"
"Ini memang hanya memar Andrew, tak ada yang serius. James sudah mengkonfirmasinya. Yang penting kau akan mengusir pria itu keluar kota ini, bisa dilakukan seperti itu bukan Tuan Walikota."
Dia melihatku mungkin sadar kenapa aku melakukan ini.
"Kau sengaja mengambil resiko bukan. Kau memancingnya?"
"Tidak, dia memang psycho yang memukulku duluan. Kau pikir aku sengaja menyerangnya duluan. Dia dulu yang menamparku dan mengancam Donna."
"Kenapa kau tidak mengadukannya saja padaku sebelumnya."
"Tanpa bukti tidak mungkin aku membuat perhitungan ke orang lain, semua perlu alasan dari tindakan. Aku tak apa, ini cuma memar, tapi memukul petugas medis apalagi di sistem otoritas militer jelas adalah pelanggaran berat yang harus di tindak. Tanpa campur tanganmu pun, Donna selamat. Aku sudah memperhitungkan resikonya. Dan kau tak perlu intervensi. Jalankan saja sesuai protokol. Aku tak meminta kau harus memperlakukanku secara istimewa." Sekarang dia menghela napas mendengar semua perkataanku.
"Kenapa kau harus mengambil jalan beresiko seperti itu." Dia mungkin tidak pernah merasakan di pihak yang tidak punya kekuatan untuk membela dirinya seperti wanita. "Jangan lakukan hal seperti itu lagi. Akan kupastikan dia keluar dari sini. Jika ada apapun kau bisa membicarakannya untukku, itu tindakan bodoh."
Aku tak setuju itu tindakan bodoh. Aku diam saja.
"Jen..." Aku menoleh kepadanya. "Kau mendengarku."
"Aku tidak bodoh. Pergilah, aku mau istirahat."
"Aku tidak mengatakan kau bodoh. Hanya kau bisa terluka lebih parah dari ini. Kau tak perlu melakukan ini. Banyak cara yang lebih bijak menyelesaikannya. Tak perlu sampai kau terluka."
"Kau tahu Donna itu ketika dia datang. Seluruh wajah dan tubuhnya di penuhi lebam. Sudah diancam pun dia tetap mengancamnya kembali. Kau pikir Donna bisa bertahan, mentalnya sudah jatuh berbulan-bulan dalam tekanan. Jika tidak dengan cara ini tidak akan bisa menyingkirkannya dengan cepat."
"Aku tahu maksudmu baik, tapi kita bisa menemukan cara yang lebih tepat tanpa kau harus dipukul seperti ini. Bukan maksudku mengatakan semua tindakanmu salah sepenuhnya. Jangan salah sangka.Jika terjadi sesuatu padamu aku yang merasa paling bersalah."
Dia memegang tanganku tanpa ragu, mengalihkan pandanganku kepadanya.
"Sudah. Hanya obat penahan sakit." Aku luluh juga padanya. Mungkin dia hanya khawatir. "Kau akan mengusirnya bukan."
"Aku akan menghajarnya sendiri sekarang jika kau minta." Aku tersenyum kecil.
"Tidak, dia sudah dihajar babak belur tadi. Aku hanya minta dia diusir keluar kota sekarang. Tidak usah menyusahkan dirimu sendiri. Terima kasih."
"Lain kali cerita padaku... Kau bisa memanfaatkanku sedikit. Kekasihmu ini walikota masalah begitu harus kau yang dipukul, lalu apa gunannya aku." Aku meringis.
"Aku belum pernah bilang kau jadi kekasihku." Gantian dia yang tersenyum.
"Aku sudah menganggap diriku kekasihmu. Jadi apa yang harus kulakukan sekarang?" Tetap memegang tanganku sambil tersenyum. Aku melihat matanya. Bukannya aku meragukannya, hanya kupikir ... "Mungkin aku belum tahu kisahmu, tapi kau tidak perlu melewati ini sendiri, mungkin kau terbiasa sendiri, tapi sekarang aku ada untukmu."
Dan kata-kata itu mengingatkanku pada Fred. Mataku memanas. Apa ini tanda darinya. Aku tidak ingin percaya ini sekarang. Tidak sekarang.
Kenapa sekarang Fred, kau mengirimkanku padanya. Air mataku menetes begitu saja di depan Andrew.
"Kenapa kau menangis." Aku menggeleng, tak bisa bicara kenapa. Tak mungkin aku mengatakan dia mengingatkanki pads Fred.
"Aku tak meminta kau menerimaku sekarang, aku hanya minta kau percaya padaku." Kata-kata Andrew membuatku menghapus air mataku.
"Iya aku tahu. Maaf, kurasa aku hanya terlalu banyak hormon hari ini." Aku mencoba tersenyum. "Maaf... aku membuatmu khawatir."
"Tak apa, hanya lain kali jangan lakukan itu oke."
"Iya, baiklah. Maaf sekali lagi."
"Kau tak perlu minta maaf. Aku akan mengurus pria bajingan itu." Aku mengangguk dan tersenyum padanya.
"Thanks Andrew..."
"Kutinggalkan kau oke, kau perlu istirahat, besok kau mau bekerja. Cepatlah sembuh. Jika kau mau bicara kau tahu dimana kau bisa mencariku.
Dia meninggalkanku tanpa pelukan atau ciuman, aku melambai padanya saat menutup pintu.